Tentang bencana yang terjadi akhir-akhir ini

Lewat tulisan kali ini, saya hanya berusaha merangkum kata-kata populer di media dan di wall fb beberapa teman berkaitan dengan dinamika alam yg terjadi di negeri kita akhir-akhir ini. Berikut kata-kata yg sering saya dengar dan lihat:

1. Indonesia adalah negeri 1001 bencana
2. Tuhan sedang murka dan menegur kita lewat bencana
3. Pemerintah bergerak lambat dalam penanggulangan bencana
4. Masyarakat tidak kooperatif dengan himbauan pemerintah
5. LSM dan instansi swasta bergerak lebih cepat dalam menanggulangi bencana
6. Bencana beruntun di Indonesia pertanda kiamat akan segera tiba

Sebetulnya, wajar setiap orang membuat pernyataan. Begitu pun saya dan kamu, kita bebas mengutarakan pendapat kita tentang apa pun berdasarkan pemahaman kita. Tanpa bermaksud menyalahkan pernyataan di atas, saya ingin berpendapat atas pendapat di atas.

Memang benar adanya bahwa akhir-akhir ini kita melihat telah terjadi banyak sekali bencana alam. Lalu apakah ini menunjukkan bahwa Tuhan sedang murka dan menegur kita lewat bencana? Sebelum kita berusaha memahami lebih jauh, kita mulai dari yang paling sederhana, definisi. Apakah itu bencana? Apakah kejadian gunung meletus, gempabumi, tsunami, tanah longsor, dll itu bencana? Dalam ilmu kebencanaan, suatu proses dikatakan bencana jika mengakibatkan jatuhnya korban. Artinya, jika tidak mengakibatkan korban jiwa maka tidak disebut sebagai bencana.

Indonesia adalah negeri dengan 129 gunung api aktif, tempat bertemunya 3 lempeng tektonik utama dunia, wilayah dengan garis pantai yang sangat panjang, negeri dengan morfologi luar biasa beragamnya. Apakah kita sedang tinggal di neraka? Terlalu awal untuk menilai. Mari kita lakukan perbandingan. Gunung Merapi di Indonesia dan Gunung Etna di Italia. Dua gunung yang masuk kategori paling aktif di dunia. Bahkan Etna di Italia bisa meletus setiap tahun. Namun di sana, letusan gunungapi menjadi pertunjukan alam, kreasi Tuhan yang mereka nikmati karena keindahannya. Teater alam yang menyuguhkan pengalaman yang tidak terlupakan dan tidak terlukiskan betapa menakjubkannya. Tidak ada korban karena letusannya, setidaknya tidak menimbulkan bencana seperti apa yang terjadi di Merapi baru-baru ini. Dua fenomena sama (letusan gunungapi) terjadi di tempat berbeda mengakibatkan efek yang berbeda. Bencana tidak akan terjadi jika tidak ada faktor kerentanan (vulnerability factor) atau bisa diimbangi dengan kesiapsiagaan (capacity). Apakah faktor kerentanan itu? Hadirnya manusia & struktur buatan manusia karena kebutuhannya lah yang menyebabkan adanya faktor kerentanan yang memungkinkannya terjadi bencana. Memang benar, tanah yang subur di kaki gunungapi telah menarik perhatian manusia untuk mengembangkan perekonomian mereka. Disadari bahwa memanfaatkan kekayaan alam adalah hal yang tidak salah, di belahan bumi mana pun ini terjadi. Namun akan menjadi bencana saat kita tidak menyadari & bersikap bahwa suatu saat gunung perlu meletus untuk tetap menjaga manfaatnya.

Gempabumi dan tsunami, dinamika alam lainnya yang pasti akan terus terjadi di negeri ini. Saya percaya bahwa gempabumi dan tsunami tidak membunuh. Bangunan dan infrastruktur buatan manusia sendiri yang menyebabkan jatuhnya korban saat terjadi gempabumi. Pengikisan terumbu karang dan berkurangnya jalur hijau di sekitar pantai karena aktivitas dan meningkatnya hunian manusia di daerah pantai rawan tsunami juga menjadi senjata makan tuan dimana gelombang tsunami bisa leluasa sampai di darat tanpa tercacah terlebih dahulu dan pada akhirnya mengakibatkan bencana.

Sampai sini rasanya saya malu sekaligus tidak rela jika negeri kita disebut negeri 1001 bencana. Yang berarti negeri dengan faktor kerentanan yang tinggi. Kita tidak bisa menghentikan gunung agar tidak meletus, kita juga tidak bisa menghentikan gempa bumi, tsunami, dan dinamika alam lainnya. Yang bisa kita lakukan adalah membangun kapasitas dalam mengurangi faktor kerentanan. Kita tidak perlu menghentikan dinamika alam. Seperti hujan, biarkan terjadi, nikmati romantisme karenanya tapi jangan sampai menjadi bencana banjir.

Saya juga meyakini bahwa Tuhan tidak melulu murka lewat dinamika alam seperti gunung meletus, gempabumi, tsunami, dll. Coba dipikirkan dengan logika sederhana saja, dinamika alam ini sudah terjadi ribuan bahkan jutaan tahun (lewat taksiran carbon dating) sebelum manusia dihadirkan Tuhan ke bumi. Dinamika ini terjadi bukan setelah kita hadir di bumi. Oleh karenanya, kita lah yang seharusnya beradaptasi dengan dinamika alam ini. Saya memandang bahwa dinamika alam ini perlu terjadi untuk keseimbangan yang sebetulnya untuk menjadi manfaat bagi manusia. Nasi yang kita makan setiap hari, air mineral yang kita minum, rumah yang kita bangun dengan pasir, tanah yang subur untuk pertanian, kekayaan mineral yang dekat ke permukaan, lansekap bumi yang indah, uang yang kita hasilkan dari pekerjaan (petani, ilmuwan, wartawan, polisi, tentara, hansip, dokter, dll) adalah sebagian manfaat yang kita nikmati karena adanya letusan gunungapi. Jutaan lowongan pekerjaan hadir karena adanya dinamika alam. Dipungkiri atau tidak, kita bisa bertahan hidup tidak lepas dari dinamika alam ini.

Saya percaya dengan apa yang telah terjadi akhir-akhir ini karena rasa sayangNya yang teramat besar untuk bangsa Indonesia. Letusan gunungapi hanya menyita waktu nyaman manusia beberapa hari saja dibanding manfaatnya yang akan dinikmati bertahun-tahun ke depan. Kalau saat ini Tuhan memberi kita ujian dengan adanya korban jiwa, saya percaya Tuhan ingin kita “naik kelas”. Filosofi sederhananya, tanpa ujian maka anak sekolah tidak akan naik kelas. Dari sana lah kita akan belajar, mengubah paradigma, menjadikan dinamika alam sebagai hal yang dinikmati ketimbang mengakibatkan bencana.

Di televisi, di obrolan dengan teman, di wall facebook saya mendengar beberapa orang mengkritik penanggulangan bencana di Indonesia. Kritik, idealnya menjadi titik nol dimana ke depan kita semua (bukan hanya pemerintah) membangun kesiapsiagaan (kapasitas) secara mandiri. Menumpahkan kekecewaan dan menyalahkan tanpa mengaktualisasikan dalam bentuk aksi tidak akan ada manfaatnya.

Kita adalah bangsa yang sedang belajar. Penelitian kebencanaan di Indonesia terus dan terus berkembang. Bahkan pengamatan gunungapi di Indonesia dimonitor kontinyu (24 jam sehari). Rekomendasi teknis pun dikaji dalam hitungan jam. Namun, sesuai dengan porsinya, peneliti bukanlah pengambil keputusan dan pelaksana di lapangan. Tugas peneliti pada akhirnya hanya memberi rekomendasi dari hasil penelitiannya. Ujung tombak, pengambil keputusan dan pelaksana di lapangan adalah pemerintah daerah setempat dan pada akhirnya setiap individu itu sendiri.

Sikap proaktif harus terus dibangun, jangan menunggu tapi mengejar. Menjadi pemandangan umum dimana beberapa orang maupun kelompok memberikan bantuan berupa pakaian, makanan, dll pasca bencana terjadi. Ini memang hal yang sangat mulia. Namun akan semakin sempurna jika kita bersama memberi kontribusi sebelum bencana itu terjadi. Dapat berupa sosialisasi ke pelosok-pelosok daerah dimana informasi akan kebencanaan sangat minim atau bahkan tidak ada. Pemerintah setiap tahun melakukan sosialisasi ke pelosok-pelosok daerah yang memiliki potensi bencana. Namun luasnya negeri ini, membuka peluang bagi perorangan ataupun kelompok untuk ikut bersama membangun kesiapsiagaan masyarakat Indonesia. Bukan sekedar lewat himbauan & kata-kata bijak tanpa implementasi.

Terakhir, mengenai wacana beberapa orang yang masih percaya bahwa bencana yang saat ini kerap terjadi adalah pertanda kiamat, saya tidak mau mengatakan itu benar atau salah. Utamanya karena saya tidak tahu kapan kiamat akan terjadi. Saya pribadi tidak mau sibuk memikirkan itu karena pada akhirnya itu akan tetap menjadi rahasia Tuhan. Yang nyata adalah bahwa letusan gunungapi akan terus terjadi, gempabumi dan tsunami akan terus terjadi, begitu pula dengan dinamika alam lainnya. Tugas kita adalah meningkatkan kesiapsiagaan dan kapasitas kita sehingga dinamika alam yang terjadi tidak lagi menimbulkan bencana tapi hanya akan menjadi pertunjukkan alam yang kita nikmati bersama.

Devy Syahbana

    • tiang agama
    • November 12th, 2010

    berarti gak bener ya kita jadi bodoh dan terbelakang karena alam tidak memberi kita cukup tantangan,kira2 apa faktor x yang menyebabkan kita tetap bodoh dan terbelakang di tengah tantangan alam?nyawa manusia yang tidak ada harganya kah?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: