<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>KopiSantan</title>
	<atom:link href="http://kopisantan.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kopisantan.wordpress.com</link>
	<description>Wisata &#039;Kuliner&#039; Zonder &#039;-ner&#039;</description>
	<lastBuildDate>Tue, 03 Jan 2012 05:36:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='kopisantan.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/9d7b6fc3ed9bbe432e66e9550f1e3d34?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>KopiSantan</title>
		<link>http://kopisantan.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://kopisantan.wordpress.com/osd.xml" title="KopiSantan" />
	<atom:link rel='hub' href='http://kopisantan.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Sains dan Kompleksitas Hukum</title>
		<link>http://kopisantan.wordpress.com/2011/12/28/sains-dan-kompleksitas-hukum/</link>
		<comments>http://kopisantan.wordpress.com/2011/12/28/sains-dan-kompleksitas-hukum/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Dec 2011 06:33:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>chipoto</dc:creator>
				<category><![CDATA[HUKUM]]></category>
		<category><![CDATA[POLITIKA]]></category>
		<category><![CDATA[efek dunia kecil]]></category>
		<category><![CDATA[jaringan]]></category>
		<category><![CDATA[network]]></category>
		<category><![CDATA[Undang-undang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kopisantan.wordpress.com/?p=422</guid>
		<description><![CDATA[Pada prinsipnya membangun negara itu seperti mendirikan rumah. Ia melindungi penghuninya dari panas, dingin, penyakit, hingga menjaga privasi pemiliknya. Negara melindungi warganya agar leluasa mengaktualisasikan diri demi kebahagiaannya, mengatasi gangguan kehidupan, hingga menjaga kedaulatannya. Rumah memiliki fondasi yang di atasnya disusun batu bata dan elemen-elemen lainnya. Negara mempunyai fondasi dasar Pancasila dan UUD 45, kemudian <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kopisantan.wordpress.com&amp;blog=14647606&amp;post=422&amp;subd=kopisantan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada prinsipnya membangun negara itu seperti mendirikan rumah. Ia melindungi penghuninya dari panas, dingin, penyakit, hingga menjaga privasi pemiliknya. Negara melindungi warganya agar leluasa mengaktualisasikan diri demi kebahagiaannya, mengatasi gangguan kehidupan, hingga menjaga kedaulatannya.</p>
<p>Rumah memiliki fondasi yang di atasnya disusun batu bata dan elemen-elemen lainnya. Negara mempunyai fondasi dasar Pancasila dan UUD 45, kemudian di atasnya disusun berbagai perangkat perundang-undangan. Namun tentu saja, tujuan bernegara jauh lebih kompleks daripada mendirikan rumah. Jika memdirikan rumah mengenal kata “selesai”, maka pembangunan kehidupan bernegara tak akan pernah usai. Dinamika legislasi membuat perundang-undangan senantiasa berubah.<span id="more-422"></span></p>
<p>Pada pembangunan rumah, seiring berjalannya waktu, beberapa elemen, seperti asbes, genteng dan sebagainya terkadang perlu diganti. Demikian juga dengan Negara, beberapa Undang-undang (UU) yang tidak relevan lagi diganti dengan UU yang lebih mutakhir, sesuai perkembangan zaman.</p>
<p>Sebuah rumah merupakan hasil dari konfigurasi elemen-elemen penyusunnya, mulai dari bata, papan, tripleks, asbes, hingga genteng. Lantas bagaimanakah dengan negara? Wajah kehidupan bernegara terefleksikan dalam tatanan sistem perundang-undangan. Sistem hukum kita tersusun atas 1929 produk UU, semenjak proklamasi (data Depdagri yang meliputi UU, PNPS, PRPS, dan UU Darurat). Sebagian UU tersebut sudah tak berlaku lagi dan digantikan dengan yang baru.</p>
<p><a href="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/12/time-series1.png"><img class="aligncenter size-full wp-image-424" title="time series" src="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/12/time-series1.png?w=510&#038;h=198" alt="" width="510" height="198" /></a></p>
<p>Sebuah UU tak mungkin independen dari perundangan lainnya. Ia mesti mengingat dan memperhatikan UU yang lain, atau setidaknya merujuk kepada sumber-sumber hukum dasar yang jadi fondasi negara hukum. Hubungan mengingat dan memperhatikan antara satu UU dengan UU lain membentuk “jaringan undang-undang” (<em>web of law</em>). Inilah wajah kehidupan bernegara kita.</p>
<p>Hingga saat ini, ada 50 kelompok UU yang dalam evolusinya belum terhubung satu sama lain. Sistem hukum kita memang masih dalam proses pembangunan awal. Ia belum terintergrasi menjadi sebuah bangunan sistem hukum yang utuh. Namun setidaknya, sebagian besar UU yang ada, telah membentuk <em>web of law. </em>Ada 1214 UU yang sudah saling terhubung dan membentuk sebuah kelompok besar. Fenomena ini juga ditemukan di Kitab Hukum Lingkungan Perancis (Romain Boulet, dkk, 2010) dan seluruh perangkat yuridis di Amerika Serikat (Thomas Smith, 2007).</p>
<p><a href="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/12/net.png"><img class="aligncenter size-full wp-image-425" title="net" src="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/12/net.png?w=510&#038;h=404" alt="" width="510" height="404" /></a></p>
<p>Di berbagai tempat, struktur <em>web of law </em>tersebut memiliki karakteristik yang serupa dengan jejaring sosial, yang disebut “efek dunia kecil”. Hasil penelitian Ardian Maulana &amp; Hokky Situngkir (2010), dari Bandung Fe Institute, mengkonfirmasi fenomena ini dalam sistem perundangan di Indonesia.</p>
<p><a href="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/12/chart.png"><img class="aligncenter size-full wp-image-426" title="chart" src="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/12/chart.png?w=510&#038;h=212" alt="" width="510" height="212" /></a></p>
<p>“Efek dunia kecil” dalam menunjukkan bahwa sejatinya hanya sedikit UU yang menjadi <em>anchor </em>atau dirujuk oleh banyak UU. Hanya 2,1% UU yang dirujuk lebih dari 20 UU lainnya. UU tersebut menjadi semacam “otoritas legal” yang muncul secara organis. Mereka berperan penting dalam mengintegrasikan sistem peraturan perundangan menjadi sebuah kesatuan yang utuh.</p>
<p>UU apa saja yang memegang posisi sentral dalam <em>web of law </em>di Indonesia? Hingga saat ini, dari 10 UU dengan “otoritas legal” tertinggi, kesemuanya terkait sistem pemerintahan dan politik, contohnya UU No. 12/2008 dan UU No. 22/2007. Pemerintahan daerah dan politik menjadi tema sentral dalam dinamika kehidupan legislasi di Indonesia. Hal ini dapat dipahami mengingat kuatnya dorongan revitalisasi pemerintahan daerah dan politik pasca reformasi.</p>
<p><a href="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/12/rank.png"><img class="aligncenter size-full wp-image-427" title="rank" src="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/12/rank.png?w=510&#038;h=313" alt="" width="510" height="313" /></a></p>
<p>Penelitian ini menunjukkan bahwa sejatinya dinamika legislasi kita masih “sangat muda”. <em>Web of law </em>Indonesia masih dalam proses tranformasi awal menuju sebuah sistem hukum yang terintegrasi secara utuh. Ada berbagai dimensi kenegaraan lain terdapat dalam <em>web of law</em>, seperti seperti kesejahteraan rakyat, sumber daya alam, demokrasi ekonomi, budaya, dan lain sebagainya. Namun tema-tema tersebut belum menjadi isu sentral<em>.</em></p>
<p>Posisi dinamis dari evolusi hukum tersebut mengingatkan kita akan pentingnya upaya percepatan reformasi hukum di tanah air. Proses ini seyogyanya tidak dilakukan secara <em>trial and error</em>. Untuk itu, desain regulasi harus didukung oleh pengetahuan tentang bagaimana sistem bekerja dan merespon perubahan.</p>
<p>Beberapa dekade terakhir, sains berkembangan dengan pesat dan memberikan cakrawala baru dalam memahami kompleksitas sistem hukum dan politik.  Ada berbagai metode kontemporer yang akan sangat bermanfaat dalam proses reformasi hukum di Indonesia, seperti pendekatan fisika hukum, analisis politik komputasional, dan lain sebagainya.<em> Web of law </em>sejatinya hanyalah sebuah titik kecil dalam kajian fisika hukum yang saat ini tengah berkembang dengan pesat.</p>
<p><em>Web of law </em>telah mendemonstrasikan bagaimana sains dapat membantu menyingkap tabir evolusi kehidupan berbangsa dan bernegara di republik ini. Saya percaya pengembangan metode-metode kontemporer akan memberikan khazanah baru dalam memahami kompleksitas hukum dan politik di Indonesia. Hukum dan politik harus dibedah secara interdisiplin, dari sudut pandang ekonomi, sosiologi, fisika, ilmu komputer, biologi, matematika dan lain sebagainya.</p>
<p>Reformasi hukum Indonesia ke depan akan berhadapan dengan berbagai masalah dan tantangan baru. Tetapi kita tidak perlu pesimis, karena sejatinya di sekeliling kita telah tersedia berbagai metode dan solusi-solusi baru.</p>
<p>Setiap zaman akan melahirkan anak zaman dan masalahnya sendiri. Setiap masalah membutuhkan solusi tersendiri. Mari sama-sama berpetualang menjelajahi solusi-solusi baru dalam dunia yang baru!</p>
<address> Ardian maulana</address>
<address>peneliti bandung fe institute</address>
<address>homepage: <a href="http://bandungfe.net/ai">http://bandungfe.net/ai </a></address>
<address>twitter: <a href="http://twitter.com/ardianeff">@ardianeff</a></address>
<p><strong>Referensi: </strong></p>
<p>Maulana, A. dan H. Situngkir (2010) Complexity of Law: The Exploration of Indonesian Legislation Network, Working Papers Series WP-11-2010, Bandung Fe Institute</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kopisantan.wordpress.com/422/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kopisantan.wordpress.com/422/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kopisantan.wordpress.com/422/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kopisantan.wordpress.com/422/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kopisantan.wordpress.com/422/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kopisantan.wordpress.com/422/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kopisantan.wordpress.com/422/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kopisantan.wordpress.com/422/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kopisantan.wordpress.com/422/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kopisantan.wordpress.com/422/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kopisantan.wordpress.com/422/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kopisantan.wordpress.com/422/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kopisantan.wordpress.com/422/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kopisantan.wordpress.com/422/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kopisantan.wordpress.com&amp;blog=14647606&amp;post=422&amp;subd=kopisantan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kopisantan.wordpress.com/2011/12/28/sains-dan-kompleksitas-hukum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8f0da6603f945cdad4104c108f63719f?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">chipoto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/12/time-series1.png" medium="image">
			<media:title type="html">time series</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/12/net.png" medium="image">
			<media:title type="html">net</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/12/chart.png" medium="image">
			<media:title type="html">chart</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/12/rank.png" medium="image">
			<media:title type="html">rank</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KADO yang TELAT</title>
		<link>http://kopisantan.wordpress.com/2011/12/09/kado-yang-telat/</link>
		<comments>http://kopisantan.wordpress.com/2011/12/09/kado-yang-telat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Dec 2011 08:40:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>chipoto</dc:creator>
				<category><![CDATA[BUDAYA]]></category>
		<category><![CDATA[SOCIAL MEDIA]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>
		<category><![CDATA[ulang tahun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kopisantan.wordpress.com/?p=320</guid>
		<description><![CDATA[Setiap orang memiliki hari kelahiran. Tidak hanya kelahiran manusia yang dirayakan, merayakan hari lahirnya suatu institusi, organisasi maupun negara menjadi tradisi yang terus diulang setiap tahunnya. Pendeknya, memperingati hari saat dimulainya kehidupan seseorang di dunia merupakan hal yang jamak, bukan hanya  saat ini tapi sejak dahulu kala. Sejak kapan? Yang pasti hal ini tentu terkait <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kopisantan.wordpress.com&amp;blog=14647606&amp;post=320&amp;subd=kopisantan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap orang memiliki hari kelahiran. Tidak hanya kelahiran manusia yang dirayakan, merayakan hari lahirnya suatu institusi, organisasi maupun negara menjadi tradisi yang terus diulang setiap tahunnya.</p>
<p>Pendeknya, memperingati hari saat dimulainya kehidupan seseorang di dunia merupakan hal yang jamak, bukan hanya  saat ini tapi sejak dahulu kala. Sejak kapan? Yang pasti hal ini tentu terkait dengan masa dimana manusia mulai bisa memberikan tanda pada hari-hari dalam kehidupannya, dan menjalani kehidupan dalam siklus waktu yang tetap berdasarkan kalender atau apapun itu yang menjadi penandanya. Bayangkan saja, bagaimana mungkin mengucapkan selamat ulang tahun pada seseorang yang usianya seumur dengan pohon mangga di samping rumah? Ini seperti cerita orang-orang tua dulu yang kelahirannya ditandai dengan penanaman pohon mangga.<span id="more-320"></span></p>
<p><a href="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/12/1.png"><img class="size-full wp-image" src="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/12/1.png?w=372" alt="Image" /></a></p>
<p>Itu pun terkait dengan sistem penanggalan yang digunakan. Misalkan problem  tahun kabisat pada penanggalan Masehi  membuat  orang yang lahir 29 februari hanya bisa merayakan ulang tahunnya setiap 4 tahun sekali. Sehingga mau tidak mau harus memajukan atau memundurkan ulang tahun-nya  agar bisa merayakannya setiap tahun. Atau hari ulang tahun yang dirayakan tiap enam bulan sekali berdasarkan tahun Wuku dalam sistem penanggalan masyarakat Bali.</p>
<p>Tidak hanya metrik untuk penanda kelahiran yang beragam, bagaimana perayaan dan pemaknaan perayaan hari kelahiran dalam sistem kultural masyarakat juga beragam. Anak Yahudi, misalnya, akan mengenang hari ulang tahunnya yang  ke-12 ataupun ke-13 (<em>bat mitzvah</em>) sebagai titik transisi kedewasaannya dalam perspektif religius, sementara di Filipina ada tradisi <em>debut</em> untuk perayaan ulang tahun ke-18 seorang anak perempuan dan ke-21 bagi anak laki-laki.</p>
<p>Kue ulang tahun, lilin, hadiah dan nyanyian dan ucapan selamat “ ulang tahun” merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam perayaan ulang tahun seseorang.  Tradisi saling memberi dan menerima hadiah ini mungkin terlihat agak konyol. Seseorang yang berulang tahun diberi hadiah oleh temannya dan kemudian akan balik memberikan hadiah juga pada saat temannya berulang tahun. Proses ini terus berulang sampai salah dari keduanya meninggal lebih dahulu sementara yang lain mendapatkan akumulasi hadiah yang lebih banyak :D (kata Sheldon Cooper di serial the Big Bang Theory ).</p>
<p><a href="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/12/2.png"><img class="size-full wp-image" src="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/12/2.png?w=481" alt="Image" /></a></p>
<p>Namun inilah sistem sosial dimana kita hidup. Melalui prosesi saling memberi, mengucapkan salam dan selamat ulang tahun individu membangun dan mempererat relasi sosialnya. Menariknya, semua prosesi sosial ini dewasa ini makin dipermudah oleh teknologi yang “semakin mengerti” kebutuhan sosial  manusia. Facebook, Twitter dan ragam media sosial menjadi wahana yang menciptakan dunia sosial baru.  Facebook secara otomatis memberitahukan siapa saja dalam lingkar sosial kita yang berulang tahun saat ini. Ucapan “selamat ulang tahun&#8221; dapat disampaikan dengan cara yang unik dan menarik melalui ragam aplikasi yang tersedia</p>
<p>Gambar di atas adalah cloud words dari sekitar 8916 twit  “ulang tahun”  yang beredar di twitter pada tanggal 3 Desember, dari pukul 12.00 – 23.15. Dari ribuan akun twitter yang terlibat terdapat sekitar 1473 account yang menerima ucapan selamat ulang tahun. Rupanya lumayan banyak juga penghuni twitland yang lahir pada tanggal 3 Desember. Diantaranya terdapat account selebiritis seperti @dude2herino, @britneyspears maupun @Inbox SCTV.</p>
<p class="MsoNormal">Namun jumlah ini relatif kecil dibandingkan estimasi sekitar 750 ribu orang Amerika merayakan ulang tahun setiap harinya.  Sementara tanggal 5 oktober resmi ditasbihkan sebagai <em>America’s Most Common Birthday</em> karena lebih dari 960 ribu orang merayakan ulang tahunnya pada hari itu [1].</p>
<p><a href="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/12/3.png"><img class="size-full wp-image" src="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/12/3.png?w=618" alt="Image" /></a></p>
<p class="MsoNormal">Di dunia nyata, ada ulang tahun yang beramai-ramai dirayakan dan ada pula yang merayakannya secara khusuk dalam sepi bersama segilintir kawan. Demikian pula di dunia sosial <em>twitland</em>. Para selebritis twitter yang berulang tahun pada hari itu ramai mendapatkan ucapan selamat dari kawan maupun pengikutnya. Hal ini wajar karena jumlah <em>follower</em>-nya yang banyak. Sementara banyak lainnya hanya mendapatkan sedikit ucapan selamat karena <em>follower</em>-nya yang sedikit dan  ulang tahunnya hanya diketahui oleh segelintir teman-temannya.</p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/12/4.png"><img class="size-full wp-image" src="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/12/4.png?w=372" alt="Image" /></a></p>
<p class="MsoNormal">Tapi kenapa <em>sih</em> tulisan ini sampai membahas soal ulang tahun? Pangkal soalnya adalah karena pada tanggal 3 Desember tersebut kawan saya @rolan_md  merayakan hari kelahirannya yang ke-30. Sebagai kawan, dan sesuai tradisi yang ada, saya tentu harus  memberikan kado untuk dia. Tulisan ini merupakan  hadiah ulang tahun dari saya untuk @rolan_md.</p>
<p class="MsoNormal">Tentu saja tidak lengkap kalau tulisan ini tidak membahas tentang profil  @rolan_md. Dia adalah seorang peneliti di <a href="http://bandungfe.net/bos" target="_blank">Bandung Fe Institute</a>, sebuah lembaga riset sosial yang menggunakan pendekatan sains kompleksitas untuk mendekati dan memecahkan persoalan-persoalan yang ada dalam sistem sosial. Di lembaga ini, tepatnya di departemen ekonomi evolusioner Bandung Fe Institute, @rolan_md mendalami kajian perilaku agen dalam sistem  ekonomi.</p>
<p class="MsoNormal"> Gambar sebelumnya sekilas menunjukan profil akun twitternya. Jika pengaruh seseorang di dunia twitland dapat direpresentasikan dengan perbandingan jumlah <em>follower</em> dan <em>following</em>, maka akun @rolan_md mempunyai  pengaruh  itu.</p>
<p class="MsoNormal">Nah, dengan siapakah akun @rolan_md sering bercengkerama di <em>twitland</em>? Gambar di bawah menunjukan siapa mereka.</p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/12/5.png"><img class="size-full wp-image" src="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/12/5.png?w=548" alt="Image" /></a></p>
<p class="MsoNormal">Demikianlah tulisan ini saya akhiri, <em>Happy birthday </em>@rolan_md, <em>wish you health and happiness</em>. Saya mengharapkan kado dari anda di hari ulang tahun saya nanti <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> .</p>
<p class="MsoNormal">@<a href="http://bandungfe.net/ai" target="_blank">ardianeff</a></p>
<p class="MsoNormal">peneliti, departemen komputasional sosiologi Bandung Fe Institute</p>
<p class="MsoListParagraph" style="text-indent:-.25in;"> 1.<span style="font:7pt 'Times New Roman';">      1 . </span><a href="http://abcnews.go.com/blogs/technology/2011/10/oct-5-americas-most-common-birthday/">http://abcnews.go.com/blogs/technology/2011/10/oct-5-americas-most-common-birthday/</a></p>
<p class="MsoListParagraph" style="text-indent:-.25in;">2.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kopisantan.wordpress.com/320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kopisantan.wordpress.com/320/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kopisantan.wordpress.com/320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kopisantan.wordpress.com/320/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kopisantan.wordpress.com/320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kopisantan.wordpress.com/320/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kopisantan.wordpress.com/320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kopisantan.wordpress.com/320/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kopisantan.wordpress.com/320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kopisantan.wordpress.com/320/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kopisantan.wordpress.com/320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kopisantan.wordpress.com/320/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kopisantan.wordpress.com/320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kopisantan.wordpress.com/320/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kopisantan.wordpress.com&amp;blog=14647606&amp;post=320&amp;subd=kopisantan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kopisantan.wordpress.com/2011/12/09/kado-yang-telat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8f0da6603f945cdad4104c108f63719f?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">chipoto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/12/1.png?w=372" medium="image">
			<media:title type="html">Image</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/12/2.png?w=481" medium="image">
			<media:title type="html">Image</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/12/3.png?w=618" medium="image">
			<media:title type="html">Image</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/12/4.png?w=372" medium="image">
			<media:title type="html">Image</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/12/5.png?w=548" medium="image">
			<media:title type="html">Image</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Emosi dalam Lirik Lagu Penyanyi Pop Kita</title>
		<link>http://kopisantan.wordpress.com/2011/07/14/emosi-dalam-lirik-lagu-penyanyi-pop-kita/</link>
		<comments>http://kopisantan.wordpress.com/2011/07/14/emosi-dalam-lirik-lagu-penyanyi-pop-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jul 2011 11:40:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hokkys</dc:creator>
				<category><![CDATA[BUDAYA]]></category>
		<category><![CDATA[POLITIKA]]></category>
		<category><![CDATA[PSIKOLOGI]]></category>
		<category><![CDATA[SAINS & TEKNOLOGI]]></category>
		<category><![CDATA[analisis teks]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>
		<category><![CDATA[gairah]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[korpus]]></category>
		<category><![CDATA[lagu]]></category>
		<category><![CDATA[pop]]></category>
		<category><![CDATA[senang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kopisantan.wordpress.com/?p=312</guid>
		<description><![CDATA[Ada emosi dalam tiap kata yang kita gunakan. Ia menggambarkan rasa senang, sedih, gairah, atau melankoli saat kita meng-ekspresi-kan apa yang ada dalam pikiran dan perasaan kita secara verbal. Penelitian terkait ekspresi emosional dalam kata telah memungkinkan kita untuk melihat bagaimana kata-kata yang ter-ekspresi dalam lagu populer kita merepresentasikan emosi yang dipengaruhi dan juga mempengaruhi <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kopisantan.wordpress.com&amp;blog=14647606&amp;post=312&amp;subd=kopisantan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada emosi dalam tiap kata yang kita gunakan. Ia menggambarkan rasa senang, sedih, gairah, atau melankoli saat kita meng-ekspresi-kan apa yang ada dalam pikiran dan perasaan kita secara verbal. Penelitian terkait ekspresi emosional dalam kata telah memungkinkan kita untuk melihat bagaimana kata-kata yang ter-ekspresi dalam lagu populer kita merepresentasikan emosi yang dipengaruhi dan juga mempengaruhi suasana hati zaman. Obyek populer dan industrial di dunia modern tentu lahir dari lanskap kehidupan sosial, yang pada gilirannya juga memberikan pengaruh akan situasi sosial di masa tersebut dalam bentuk umpan-balik positif. Menarik melihat blantika musika populer kita dari sisi representasi ekspresi emosional ini. Adakah kita makin bahagia sebagaimana direpresentasikan lagu-lagu populer kita?</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/07/lagu1.jpg"><img class="size-full wp-image-313 aligncenter" title="lagu1" src="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/07/lagu1.jpg?w=510&#038;h=281" alt="" width="510" height="281" /></a></p>
<p><span id="more-312"></span></p>
<p>Kajian-kajian psikologi emosi mendapati bahwa emosi manusia pada dasarnya dapat ditelaah melalui dua dimensi: valensi (katakanlah α) dan intensitas ekspresi (katakanlah β) juga seolah kontinu nilainya. Ekspresi emosi kita cenderung menjelajahi lanskap yang koordinatnya ditentukan atas dua variabel ini. Saat valensi emosional itu netral  tapi sangat tinggi intensitasnya, yang muncul adalah ekspresi kaget, dan valensi yang netral dengan intensitas yang rendah ter-ekspresikan dalam nuansa fisiologis mengantuk, ingin sekali tidur.</p>
<p>Jadi, rasa riang bisa jadi adalah paduan antara “kekagetan” dengan “rasa senang”, dan amarah bisa jadi bentuk paduan antara “kekagetan” dengan “rasa sedih”. Kita sadar, bahwa emosi tak pernah datang secara tunggal. Emosi yang kita ekspresikan selalu berbentuk paduan antara emosi yang satu dengan yang lain. Psikolog evolusioner dan ilmuwan neurosains berupaya keras untuk mengetahui apa yang jadi emosi dasar, dan kemudian membikin berbagai formalisasi bagaimana kira-kira ekspresi emosional tatkala emosi-emosi dasar ini berpadu-padan.<a href="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/07/lagu2.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-314" title="lagu2" src="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/07/lagu2.jpg?w=300&#038;h=258" alt="" width="300" height="258" /></a></p>
<p>Satu kata yang dipilihkan dalam sebuah korpus tekstual, apalagi sebuah korpus estetis seperti lirik lagu, tentunya memiliki level-level valensi kesenangan dan intensitas gairah yang berbeda-beda. Dan flow sebuah lagu sebagaimana ditunjukkan dalam liriknya akan dapat menggambarkan “perjalananan” atau “pathways” dari emosionalitas seniman tatkala lagu dinyanyikan dengan penghayatan yang tepat.  Dengan sebuah perangkat komputasi “Detektor Emosi Teks”, kita dapat melihat perjalanan emosional satu lagu yang beriringan dengan acuan emosional dari kata-kata di dalam lagu tersebut. Lagu “Dibalas dengan Dusta” menggunakan kata-kata yang cenderung kental dengan rasa sedih dengan kecenderugan level gairah yang realtif rendah saat dinyanyikan oleh Audy. Tentu saja, hal ini sesuai dengan tema yang dibawakan oleh lagu tersebut.</p>
<p>Tiap lagu pada akhirnya menunjukkan dinamika emosi yang rata-rata koefisien-koefisien perasaan hatinya diharapkan dapat memberikan sejauh mana sebuah lagu dipenuhi oleh metafora-metafora yang memberikan ekspresi rasa senang dan seberapa besar gairah hendak ditunjukkan secara umum dari masing-masing lagu. Dari lagu-lagu terbaik (Majalah Rolling Stone, 2009) dan lagu-lagu terpopuler yang dipilih oleh pemirsa televisi pada <em>event</em> SCTV Music Awards (2007-2010) kita peroleh dinamika ekspresi emosi rata-rata sebagaimana tercermin dalam lagu-lagu pop tersebut.</p>
<p>Fakta menarik tentunya adalah, dari sisi valensi rasa senang, secara umum, lagu-lagu pop zaman sekarang cenderung menggunakan metafora yang bernuansa emosi lebih positif dibandingkan lagu-lagu pada beberapa dekade sebelumnya. Namun lebih jauh, lagu-lagu terpopuler tersebut cenderung menggunakan kata-kata yang relatif makin rendah gairah emosionalnya. Lagu-lagu zaman sekarang cenderung makin mendayu-dayu, meski meng-ekspresi-kan rasa senang dan bahagia. Ini tentu merupakan fakta menarik atas lagu-lagu populer kita.</p>
<p>Lebih lanjut, jika masing-masing penyanyi kita kumpulkan lirik lagu mereka dan kita analisis emosionalitas pilihan kata dalam lirik-lirik lagu tersebut, kita mendapati secara rata-rata gambaran yang menarik, mana artis yang paling sering menggunakan ekspresi rasa senang/sedih dan ekspresi gairah dan mendayu-dayu dalam lirik lagu-lagu mereka. Hal ini digambarkan pada gambar di bawah ini…</p>
<p><a href="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/07/lagu3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-315" title="lagu3" src="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/07/lagu3.jpg?w=510&#038;h=412" alt="" width="510" height="412" /></a></p>
<p>Dari sampel lirik-lirik penyanyi pop Indonesia, kita mendapati bahwa Ruth Sahanaya merupakan penyanyi yang liriknya sangat melankolis dan sering menggunakan metafora terkait perasaan sedihnya, diikuti penyanyi seperti Audy, Kris Dayanti, dan beberapa grup band yang paling sering gunakan kata-kata bernuansa hati sedih seperti grup band Ada Band, D’Massive, dan Padi. Sementara lagu-lagu yang relatif lebih sering menggunakan kata-kata bernuansa senang adalah band Slank dan Wali, serta penyanyi Gita Gutawa dan Rossa.</p>
<p>Meskipun tampilkan rasa sedih dan pilu hati, Melly Goeslaw dan Rhoma Irama cenderung menggunakan kata-kata yang membangkitkan gairah dan semangat, yang juga ditemukan pada lirik-lirik lagu legenda musik pop Iwan Fals dan Ebiet G. Ade.</p>
<p>Coba kita bandingkan misalnya lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Ruth Sahanaya, yang sarat kata-kata bernuansa rasa sedih dalam lirik-liriknya dengan grup band Slank kata-kata dalam liriknya lebih gembira sekaligus pula penuh nuansa rasa gairah dalam awan teks berikut ini…</p>
<p><a href="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/07/lagu4.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-316" title="lagu4" src="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/07/lagu4.jpg?w=510&#038;h=205" alt="" width="510" height="205" /></a></p>
<p>Dalam awan kata-kata tersebut, makin sering sebuah kata digunakan dalam lirik-liriknya, digambarkan dengan kata yang lebih besar fontasenya. Menarik, Slank relatif jarang menggunakan kata-kata bernuansa melodramatis seperti kata “cinta”, “pergi”, “kembali”, sebagaimana Ruth Sahanaya. Kata-kata yang dominan dalam lirik-lirik lagu Slank adalah kata-kata seperti “nggak”, “mereka”, jangan”, “bebas” , dan sebagainya yang lebih cenderung merepresentasikan gairah.</p>
<p>Lanskap emosionalitas ini menarik untuk menampilkan bagaimana satu penyanyi ternyata menunjukkan representasi emosionalitas yang berbeda-beda dan menjadi bagian dari karakter yang ditampilkan oleh penyanyi yang bersangkutan. Dan sedikit banyak, demikian pulalah kenyataan yang terepresentasikan dari penikmat musik populer di tanah air.</p>
<p><strong>Kepustakaan</strong><strong>:</strong><br />
Situngkir, H. (2011). &#8220;<a href="http://www.bandungfe.net/?go=xpj&amp;&amp;crp=4df2222e">Lanskap Ekspresi Leksikal berasosiasi Emosi</a>&#8220;. BFI Working Paper Series WP-1-2011. Bandung Fe Institute.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kopisantan.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kopisantan.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kopisantan.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kopisantan.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kopisantan.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kopisantan.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kopisantan.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kopisantan.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kopisantan.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kopisantan.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kopisantan.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kopisantan.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kopisantan.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kopisantan.wordpress.com/312/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kopisantan.wordpress.com&amp;blog=14647606&amp;post=312&amp;subd=kopisantan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kopisantan.wordpress.com/2011/07/14/emosi-dalam-lirik-lagu-penyanyi-pop-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6ace328fe89a4922f1e1abbc90c5e76d?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hokkysitungkir</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/07/lagu1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lagu1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/07/lagu2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">lagu2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/07/lagu3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lagu3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/07/lagu4.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lagu4</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>“The Science of Twitter”</title>
		<link>http://kopisantan.wordpress.com/2011/06/23/%e2%80%9cthe-science-of-twitter%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://kopisantan.wordpress.com/2011/06/23/%e2%80%9cthe-science-of-twitter%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Jun 2011 04:47:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hokkys</dc:creator>
				<category><![CDATA[BUDAYA]]></category>
		<category><![CDATA[PSIKOLOGI]]></category>
		<category><![CDATA[SAINS & TEKNOLOGI]]></category>
		<category><![CDATA[SOCIAL MEDIA]]></category>
		<category><![CDATA[gosip]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>
		<category><![CDATA[twittter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kopisantan.wordpress.com/?p=301</guid>
		<description><![CDATA[Saat ini merupakan masa perayaan interaksi antar orang dari perjalanan panjang evolusi spesies kita di planet ini. Mungkin tak ada masa di mana orang begitu terkoneksi satu sama lain dalam hal komunikasi selain pada masa sekarang ketika hampir tiap orang terkoneksi ke sebuah penyelia jasa telekomunikasi. Di era informasi ini, tiap orang adalah produsen informasi. <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kopisantan.wordpress.com&amp;blog=14647606&amp;post=301&amp;subd=kopisantan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/06/gossips.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-306" title="gossips" src="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/06/gossips.jpg?w=510" alt=""   /></a>Saat ini merupakan masa perayaan interaksi antar orang dari perjalanan panjang evolusi spesies kita di planet ini. Mungkin tak ada masa di mana orang begitu terkoneksi satu sama lain dalam hal komunikasi selain pada masa sekarang ketika hampir tiap orang terkoneksi ke sebuah penyelia jasa telekomunikasi. Di era informasi ini, tiap orang adalah produsen informasi. Tiap aktor sosial memiliki kapasitas yang setara dalam memberikan informasi yang dapat dinikmati oleh siapa saja, sepanjang yang bersangkutan mengizinkannya. Itulah sebabnya banyak orang menyebut layanan berbasis web 2.0, yang merupakan tulang belakang teknologi informasi ini, sering disebut sebagai <em>social media</em>, karena tiap orang menjadi memiliki kesempatan untuk menjadi media massa, sebuah produsen informasi massal di era terdahulu. Salah satu yang menarik perhatian untuk kehidupan <em>social media </em>di tanah air saat ini adalah layanan Twitter. Layanan yang memungkinkan pertukaran teks antar aktor sosial (<em>client</em>) yang dibangun berbasis layanan pesan singkat (SMS) dalam koneksitas internet oleh <a href="http://twitter.com/jack">Jack Dorsey</a>, <a href="http://twitter.com/biz">Biz Stone</a>, dan <a href="http://twitter.com/ev">Evan Williams</a> ini telah digunakan lebih dari <a href="http://blog.sysomos.com/2010/01/14/exploring-the-use-of-twitter-around-the-world/">13 juta akun</a> di mana orang Indonesia merupakan populasi terbanyak di dunia setelah Amerika Serikat, Inggris, Brazil, Kanada, dan Australia.<span id="more-301"></span></p>
<p>Meskipun satu twit sekilas hanya menyimpan informasi yang jumlahnya tak lebih dari 140 karakter, pada dasarnya tubuh sebuah twit menyimpan segudang informasi terkait apa, siapa, dimana, kapan, dan bagaimana sebuah twit tersebut dikirimkan. Anatomi sebuah twitter pernah diilustrasikan oleh <a href="http://twitter.com/raffi">Raffi Krikorian</a> sebagaimana di tunjukkan pada gambar.</p>
<div id="attachment_302" class="wp-caption alignright" style="width: 258px"><a href="http://www.geeksmack.net/content_media/WhatdoesaTweetreallylooklike_116DD/anatomy_of_tweet_thumb.png"><img class="size-medium wp-image-302 " title="anatomy_of_tweet_thumb" src="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/06/anatomy_of_tweet_thumb.png?w=248&#038;h=300" alt="" width="248" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Anatomi sebuah twit</p></div>
<p>Saat ini ada lebih dari 7 miliar twit yang tercatat pernah dimasukkan ke twitter, yang konon jika dicetak setara dengan sebuah perpustakaan dengan buku sebanyak 1 juta lebih buku setebal  300-an halaman! Mengigat informasi kolektif yang terkandung dalam sebuah twit, maka twitter memang layak disebut sebagai sebuah mega-perpustakaan di dunia informasi. Di dalamnya terdapat berbagai catatan personal individu-individu se-dunia yang mengisahkan apa yang dipikirkannya dan dialaminya secara sangat lokal, sangat mikro. Mempelajari Twitter merupakan sebuah pintu masuk yang menarik dalam mempelajari spesies sosial manusia yang hidup di era informasi. Interaksi verbal antar individu dalam Twitter merupakan sebuah gudang data ekspresi spontan yang terdokumentasi dengan baik – suatu hal yang tak dimiliki oleh penziarah ilmu pengetahuan di masa yang lampau.</p>
<p>Cara menggunakan twitter menjanjikan banyak sekali <a href="http://28.media.tumblr.com/tumblr_lm7q5bMgJ01qejjfeo1_500.png">informasi yang luar biasa penting</a>: 72% orang menggunakan Twitter untuk update status personal, 62% untuk ikhwal pekerjaannya, dan 54% untuk menunjukkan apa yang dilihatnya dalam kesehariannya (yang jadikan Twitter gudang ekspresi spontan). Di sisi lain 55% pengguna Twitter menggunakannya untuk berbagi link internet, 52% orang me-retweet posting orang lain, 40% untuk berbagi foto, dan 28% berbagi video (yang jadikan Twitter sebagai media propagasi dan transimisi informasi inter-personal yang menarik). Tak heran 83% perusahaan di Eropa dan 72% perusahaan di Amerika Serikan (namun baru 67% perusahaan di Asia Pasifik) telah menggunakan Twitter sebagai media antar muka dengan publik, untuk memberikan update terbaru terkait produk dan perusahaan (88%), penawaran layanan pelanggan (40%), penjualan (28%), dan ajakan untuk lapangan pekerjaan (10%).</p>
<p>Lantas bagaimanakah bentuk Sains-nya Twitter itu? Secara sederhana, agen sosial yang jadi fokus mikro dalam pendekatan ilmu sosial mendapat obyek observasi alternatif: akun Twitter!</p>
<ul>
<li><strong>Twitter sebagai Akumulusi Perilaku Kolektif (<em>Mention Map in Social Network)</em></strong></li>
</ul>
<p>Contoh observasi sains sosial atas akumulasi perilaku kolektif dapat dilihat dalam melihat bagaimana sebuah konsep semantik ditanggapi oleh masyarakat secara luas dalam jejaring sosialnya di Twitter adalah saat kita hendak mengetahui bagaimana orang menyebut (<em>mention</em>) satu hal, baik suatu konsep maupun orang lain dalam komentar dan <a href="http://kopisantan.wordpress.com/2010/12/26/final-aff-di-twitter/">twit-twit mereka terkait Final Piala AFF</a>. Twitland adalah sebuah substrat di mana informasi, ekspresi, dan opini tak kuasa untuk disumbat, bagaimana seseorang merujuk, menyebut, me-<em>mention </em>konsep lain merupakan lapangan eksplorasi baru yang menarik dan menantang ilmu sosial masa depan.</p>
<ul>
<li><strong>Twit sebagai korpus (gudang teks)</strong></li>
</ul>
<p>Korpus dan dokumentasi selalu jadi sumber rujukan primer dalam semua kajian sosial, apapun domainnya. Dalam hal ini, Twitter merekam semua interaksi (verbal) tersebut dan memberikan sebuah “hasil jajak pendapat” yang terlakukan oleh pengguna Twitter secara sukarela, tanpa diminta. Sebuah contoh yang menarik adalah ketika kita ingin mengetahui bagaimana <a href="http://kopisantan.wordpress.com/2010/10/28/sumpah-pemuda-2010-di-twitland/">pemikiran pengguna media sosial Twitter di Indonesia terkait Sumpah Pemuda</a>, sebuah momen historis yang memiliki peran besar dalam kehidupan modern bangsa Indonesia. Tak jarang berbagai hal yang tak terpikirkan sebelumnya muncul ketika kita hendak mempelajari suatu konsep semantik sosio-antropologis modern dalam eksplorasi twit-twit ini.</p>
<ul>
<li><strong>Akun Twitter sebagai Aktor Sosial</strong></li>
</ul>
<p>Tiap akun merepresentasikan aktor sosial, baik individu maupun kelompok individu, berupa komunitas, firma, ataupun institusi. Bisa dibayangkan bahwa berbagai kerja sosial dan aktivisme masa depan akan dapat dengan mudah muncul di Twitter. Peta jejaring orang di Twitter lebih baik daripada peta jejaring dalam definisi yang konvensional, karena jejaring konvensional hanya memperhatikan sejauh mana seseorang kenal dengan orang lain. Di Twitter, kenal/tidaknya orang satu sama lain langsung dikaitkan pada isu dan percakapan spontan antar individu yang memungkinkan berbagai observasi lanjut terkait jejaring sosial mendapat lapangan baru. Hal ini dicontohkan saat kita hendak melihat bagaimana sebuah <a href="http://kopisantan.wordpress.com/2010/10/31/savejkt/">isu seperti #saveJkt berkembang di kalangan pengguna Twitter</a> nasional. Isu ini terkait pada episentrum Twitter nasional, yaitu kota Jakarta dan ajakan untuk membenahi kehidupan urban perkotaan di dalamnya. Informasi-informasi terkait orang dan kelompok sosial (<em>social cluster</em>) di dalamnya termunculkan dalam ekstraksi informasi yang ada dalam Twitter.</p>
<div id="attachment_303" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/06/gos.jpg"><img class="size-medium wp-image-303" title="gos" src="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/06/gos.jpg?w=300&#038;h=144" alt="" width="300" height="144" /></a><p class="wp-caption-text">Peta persebaran sebuah gosip &amp; berita bohong 2 Mei 2011 di Twitter (besarnya titik menunjukkan besarnya follower dari akun Twitter)</p></div>
<ul>
<li><strong>Twitter sebagai Media Warga</strong></li>
</ul>
<p>Persebaran epidemiologis rumor dan gosip merupakan kajian sosial yang sangat menarik, karena inilah sebenarnya sumber utama ketaklinieran dalam kehidupan masyarakat secara umum. Persebaran gosip dan rumor dalam Twitter sudah memiliki karakteristik-karakteristik propagasi gosip dan rumor dalam kehidupan nyata. Penelitian persebaran gosip, bahkan berita bohong, menyebar dalam karakteristik kuantitatif yang sama dengan apa yang diamati secara observasional dalam <a href="http://pre.aps.org/abstract/PRE/v76/i3/e036117">sains rumor dan gosip</a>. Sebuah <a href="http://www.bandungfe.net/?go=xpj&amp;&amp;crp=4df226cc">pembedahan atas persebaran berita keliru atas kematian salah seorang intelektual di Indonesia</a> misalnya, memiliki <em>mention map</em> yang memberikan bentuk topologis diseminasi gosip dan rumor yang nyata.</p>
<p>Tak pelak, Twitter merupakan sebuah layanan internet yang menjanjikan banyak peluang observasional yang menarik dalam studi-studi dan kajian sosial masa depan. Ke sinilah mungkin nanti salah satu arus pengembangan ilmu sosial masa depan akan bermuara…</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kopisantan.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kopisantan.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kopisantan.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kopisantan.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kopisantan.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kopisantan.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kopisantan.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kopisantan.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kopisantan.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kopisantan.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kopisantan.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kopisantan.wordpress.com/301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kopisantan.wordpress.com/301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kopisantan.wordpress.com/301/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kopisantan.wordpress.com&amp;blog=14647606&amp;post=301&amp;subd=kopisantan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kopisantan.wordpress.com/2011/06/23/%e2%80%9cthe-science-of-twitter%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6ace328fe89a4922f1e1abbc90c5e76d?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hokkysitungkir</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/06/gossips.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gossips</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/06/anatomy_of_tweet_thumb.png?w=248" medium="image">
			<media:title type="html">anatomy_of_tweet_thumb</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/06/gos.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">gos</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Matematika Buruk Kebijakan Energi</title>
		<link>http://kopisantan.wordpress.com/2011/06/13/matematika-buruk-kebijakan-energi/</link>
		<comments>http://kopisantan.wordpress.com/2011/06/13/matematika-buruk-kebijakan-energi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jun 2011 12:23:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rolanmd</dc:creator>
				<category><![CDATA[EKONOMIKA]]></category>
		<category><![CDATA[MANAJEMEN]]></category>
		<category><![CDATA[POLITIKA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kopisantan.wordpress.com/?p=282</guid>
		<description><![CDATA[Pak Ujang adalah seorang tukang becak, sebuah kendaraan yang tidak menggunakan BBM. Suatu ketika pemerintah menaikkan tarif BBM. Harga mie instan kemudian mengalami kenaikan karena proses produksi dan pengangkutannya membutuhkan BBM. Pak Ujang sangat sering mengkonsumsi mie instan, karena harganya yang relatif murah. Apakah Pak Ujang akan menaikkan tarif becak akibat kenaikan BBM? Menurut perspektif <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kopisantan.wordpress.com&amp;blog=14647606&amp;post=282&amp;subd=kopisantan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Pak Ujang adalah seorang tukang becak, sebuah kendaraan yang tidak menggunakan BBM. Suatu ketika pemerintah menaikkan tarif BBM. Harga mie instan kemudian mengalami kenaikan karena proses produksi dan pengangkutannya membutuhkan BBM. Pak Ujang sangat sering mengkonsumsi mie instan, karena harganya yang relatif murah. Apakah Pak Ujang akan menaikkan tarif becak akibat kenaikan BBM? Menurut perspektif “matematika garis lurus” yang lazim digunakan dalam menyusun kebijakan energi, Pak Ujang pasti tidak akan menaikkan tarif, alasannya karena becak tidak menggunakan BBM. Namun, jika kita memperhatikan efek rantai kenaikan harga maka Pak Ujang bisa jadi akan menaikkan tarif becak. Pak Ujang terpaksa menaikkan tarif becak karena terdesak oleh peningkatan biaya kebutuhan hidupnya. Ada peluang kenaikan tarif becak tersebut kemudian diikuti oleh Pak Hari, Pak Budi, Pak Imin dan para tukang becak lainnya. Faktor ini disebut dengan efek mengerumun kenaikan harga.</em></strong></p>
<p>Selama ini, para kita (para ekonom) sangat sering menggunakan perspektif “matematika garis lurus” dalam merumuskan kebijakan energi, khususnya dalam melihat hubungan antara kenaikan tarif komoditas energi terhadap infasi. Perspektif “matematika garis lurus” secara sederhana dapat dirumuskan sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>ada <em>X</em>% bobot kontribusi komoditas energi <em>Y</em> (misalnya listrik, bensin, solar, minyak tanah, dan seterusnya),</li>
<li>jika harga <em>Y</em> naik sebesar <em>Z</em>% maka sumbangan inflasi yang diberikan adalah <em>X</em>% dikali <em>Z</em>%.</li>
</ul>
<p>Perspektif ini dijadikan rujukan oleh para pemangku kebijakan di republik ini, mulai dari Presiden, Menteri Keuangan, Menteri Perdagangan, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, hingga Kepala Badan Pusat Statistik, sebagaimana dapat kita lihat dari cuplikan-cuplikan berita berikut ini:</p>
<p><span id="more-282"></span><strong>DETIK.COM, Jumat, 18 Juni 2010, 15:50 WIB, “Naikkan Tarif Listrik, SBY Minta Pengertian Rakyat”</strong></p>
<p style="text-align:center;"><em>Dampak kenaikan TDL terhadap kenaikan harga barang-barang, Presiden yakin tidak akan terlalu besar. Ia menggambarkan, untuk usaha kecil yang menggunakan listrik antara 900-1.300VA, kenaikan listrik mencapai 12%. Berdasarkan studi dari 5 universitas, <strong>biaya listrik hanyalah sekitar 4,5%. Jadi kalaupun ada kenaikan harga, seharusnya adalah 12% dari 4,5% saja (atau 0,54%).</strong></em></p>
<p><em> </em><strong>TEMPO INTERAKTIF, Senin, 02 Mei 2011, 14:47 WIB, &#8220;Premium Dihapus, Inflasi Bakal Melonjak&#8221;</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:center;"><em>Rusman (Kepala Badan Pusat Statistik) menilai kebijakan ini akan sangat mempengaruhi inflasi. Menurut dia konsumsi <strong>bahan bakar minyak memiliki bobot inflasi hingga 3%.</strong> Untuk setiap <strong>kenaikan harga BBM Rp500  akan menyumbang inflasi 0,25%-0,3%.</strong></em></p>
<p><strong>DETIK.COM, Senin, 3 Oktober 2005, 17:27 WIB, “Sri Mulyani: BBM Plus Bom Bali II, Inflasi Bisa Capai 12%“</strong></p>
<p style="text-align:center;"><em>Menteri Keuangan Jusuf Anwar yang tetap meyakini inflasi tetap satu digit. Meski ada bom Bali II, Jusuf yakin peristiwa itu tidak akan memberi dampak yang terlalu besar. &#8220;<strong>Kalau dampak kenaikan BBM by theory setiap kenaikan BBM 10 persen, inflasinya naik 0,3 persen.</strong> Itu primernya, sekundernya 0,1 persen. Karena by theory, prakteknya tidak harus linier. Mungkin juga tidak ada dampak inflasi,&#8221; tambah Jusuf.</em></p>
<p><em> </em><strong>MEDIA INDONESIA, 8 Februari 2005, “Kenaikan Harga BBM Picu Inflasi 1%”</strong></p>
<p style="text-align:center;"><em>&#8220;Berdasarkan simulasi kenaikan harga BBM pada 2001, dari segi <strong>kenaikan harga BBM terhadap inflasi, kira-kira antisipasinya 0,5 hingga 1,0 persen</strong>,&#8221; kata Mari (Menteri Perdagangan) di sela-sela Musyawarah Perencanaan Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025, di Jakarta, kemarin&#8230; Sebagaimana diberitakan, <strong>pemerintah akan menaikkan harga BBM antara 30-40%</strong>. Kapan waktu kenaikan itu belum ditentukan, namun Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Sri Mulyani memberikan ancar-ancar kenaikan itu akan dilakukan pada kuartal I tahun ini. </em></p>
<p>Perspektif “matematika garis lurus” tersebut memiliki kesalahan teoretis yang sangat signifikan. Ia tidak menyertakan efek rantai kenaikan harga dan efek-efek mikro ekonomi lainnya, seperti efek mengerumun kenaikan harga. Ilustrasi mengenai hal ini dapat dilihat pada contoh “Becak Pak Ujang” di atas.</p>
<p>Lalu bagaimana dengan keabsahan perspektif “matematika garis lurus” tersebut secara empiris? Marilah kita bersama-sama mengkaji keabsaahan perspektif “matematika garis lurus” tersebut secara empiris.</p>
<p align="center"><a href="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/06/bbm-inflasi.jpg"><img class="aligncenter size-large wp-image-284" title="Gambar 1, Inflasi dan persentase kenaikan harga bensin (sumber data: BPS)" src="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/06/bbm-inflasi.jpg?w=393&#038;h=256" alt="" width="393" height="256" /></a><strong>Gambar 1, </strong>Inflasi dan persentase kenaikan harga bensin (sumber data: BPS).</p>
<p>Studi kasus penulis pada di sini adalah melihat hubungan inflasi terhadap bensin. Gambar 1 merepresentasikan data inflasi dan persentase kenaikan harga bensin dalan 12 tahun terakhir <a title="" href="#_ftn1">[1]</a>. Gambar 2 menunjukkan hubungan persentase kenaikan harga bensin di bulan <em>t</em> dan inflasi pada <em>t</em>-3, <em>t</em>-2, <em>t</em>-1, <em>t</em>, <em>t</em>+1, <em>t</em>+2 dan <em>t</em>+3.</p>
<div><a href="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/06/e1.jpg"><img class="aligncenter size-large wp-image-285" title="Gambar 2, Persentase kenaikan harga bensin di bulan t serta inflasi pada t-3, t-2, t-1, t, t+1, t+2 dan t+3" src="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/06/e1.jpg?w=361&#038;h=285" alt="" width="361" height="285" /></a></p>
<p align="center"><strong>Gambar 2, </strong>Persentase kenaikan harga bensin di bulan <em>t</em> serta inflasi pada t-3, t-2, t-1, t, t+1, t+2 dan t+3.</p>
<p>Pada gambar 2 terlihat adanya diproporsionalitas momentum kenaikan tarif bensin dan inflasi. Pada saat kenaikan tarif bensin cukup besar (&gt; 25%), kenaikan tarif pada bulan <em>t </em>cenderung akan meningkatkan inflasi pada bulan <em>t</em>. Pada saat kenaikan tarif bensin relatif kecil (&lt; 25%), kenaikan tarif pada bulan <em>t </em>cenderung akan mendorong inflasi pada bulan-bulan sebelumnya (<em>t</em>-2 dan <em>t</em>-1). Hal ini diduga berkaitan dengan efek psikologis pra-momentum kenaikan.</p>
<p align="center"><a href="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/06/e2.jpg"><img class="aligncenter size-large wp-image-286" title="Gambar 3, Persentase kenaikan harga bensin pada bulan t terhadap inflasi bulan t pada fitting linier dan kubik" src="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/06/e2.jpg?w=353&#038;h=285" alt="" width="353" height="285" /></a><strong>Gambar 3, </strong>Persentase kenaikan harga bensin pada bulan <em>t </em>terhadap inflasi bulan <em>t</em> pada <em>fitting</em> linier dan kubik.</p>
</div>
<div>
<p>Gambar 3 merepresentasikan hubungan persentase kenaikan tarif bensin dan inflasi. Secara visual terlihat adanya diproporsionalitas skala (hubungan non-lininer) antara kenaikan tarif bensin dan inflasi. Untuk mengkonfirmasi hipotesis ini, kita dapat mengujinya secara sederhana dengan menggunakan model polinomial. Ia bersifat lebih umum, karena model linier sejatinya hanyalah himpunan bagian dalam model polinomial <a title="" href="#_ftn1">[2]</a>.  Pada gambar 3 terlihat hubungan antara kenaikan tarif bensin dan inflasi lebih sesuai direpresentasikan dalam model kubik (polinom berderajat 3) dibandingkan dengan model linier (polinom berderajat 1).</p>
<p>Proses perhitungan ini menunjukkan bahwa pada hakekatnya hubungan antara kenaikan tarif bensin dan inflasi tidaklah bersifat linier. Perspektif yang digunakan oleh para ekonom dan birokrat di atas secara empiris adalah keliru.</p>
<div>
<p><strong>SUARA KARYA, Selasa, 4 Oktober 2005. &#8220;Dampak Kenaikan BBM: Inflasi Bisa Capai 12%&#8221;</strong></p>
<div style="text-align:center;"><strong><em>Inflasi pada Oktober 2005 ini kemungkinan besar mencapai 12 persen sebagai dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang rata-rata mencapai 126 persen</em></strong><em>. &#8220;Tapi pemerintah berupaya keras menekan inflasi tetap di bawah dua digit atau di bawah 10 persen,&#8221; kata Menneg Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Sri Mulyani Indrawati kepada wartawan usai meresmikan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di Jakarta, Senin.</em></div>
<div style="text-align:center;">
<p style="text-align:left;">Matematika buruk tersebut menyebabkan terjadinya ketidakakuratan massal yang terus berlangsung berulang-ulang, sebagaimana telah <a href="http://kopisantan.wordpress.com/2011/01/01/akuntabilitas-kebijakan-ekonomi/">dibahas pada artikel sebelumnya</a>. Pada saat kenaikan BBM Oktober 2005, misalnya, kata Menneg Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Sri Mulyani Indrawati mengumumkan perkiraan inflasi tahun 2005 sekitar 12%. Fakta infasi 2005 yang terjadi 17,11%. Selisih proyeksi dan realita inflasi 5,11%, hanya dalam rentang 3 bulan, adalah sebuah kekeliruan ini sangat fenomenal. “Matematika garis lurus” tersebut terbukti memiliki cacat teoretis dan empiris yang sangat parah. Ia hanya melihat bobot komponen energi semata (efek langsung) dan mengabaikan efek rantai kenaikan harga dan efek-efek mikro ekonomi lainnya, seperti efek mengerumun kenaikan harga (efek-efek turunan).</p>
<p style="text-align:left;">Pengaruh BBM tidak semata-mata terkait dengan aspek inflasi semata, tetapi juga terkait dengan permasalahan pengangguran, kemiskinan dan kesejahteraan. Pada gambar 4 terlihat bahwa hubungan antara tarif komoditas energi, yang pada kasus ini adalah harga bensin, sangat terkait dengan perubahan tingkat pengangguran. Peningkatan tarif bensin cenderung akan mendorong peningkatan jumlah pengangguran. Hubungan antar kedua faktor tersebut juga bersifat non-linier.</p>
<p><a href="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/06/bbm-pengangguran.jpg"><img class="aligncenter size-large wp-image-287" title="Gambar 4, Hubungan antara tingkat pengangguran dan harga bensin (sumber data: BPS)" src="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/06/bbm-pengangguran.jpg?w=436&#038;h=284" alt="" width="436" height="284" /></a><strong>Gambar 4, </strong>Hubungan antara tingkat pengangguran dan harga bensin (sumber data: BPS).</p>
</div>
<div>
<p>Impotensi metodologis kebijakan energi tersebut menyebabkan terjadinya permasalahan dalam aspek-aspek ekonomi lainnya, seperti dalam kebijakan kemiskinan dan kesejahteraan. Kita pasti ingat kasus yang sangat kontroversial pada akhir Februari 2005. Sebuah lembaga penelitian, bersama 36 tokoh nasional, membuat iklan besar-besaran di media massa dan menyatakan bahwa kenaikan BBM yang disertai program kompensasi akan mengurangi jumlah penduduk miskin secara signifikan. Laporan BPS setelah itu berkata lain: jumlah penduduk miskin semakin meningkat! Mengapa kekeliruan ini dapat terjadi?</p>
<p align="center"><a href="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/06/bbm-miskin.jpg"><img class="aligncenter size-large wp-image-288" title="Gambar 5, Hubungan antara tingkat kemiskinan dan harga bensin (sumber data: BPS)" src="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/06/bbm-miskin.jpg?w=459&#038;h=243" alt="" width="459" height="243" /></a><strong>Gambar 5, </strong>Hubungan antara tingkat kemiskinan dan harga bensin (sumber data: BPS).</p>
<p>Pada gambar 5 terlihat bahwa hubungan antara kemiskinan dan tarif komoditas energi, yang pada kasus ini adalah harga bensin, juga tidak terjadi secara proporsional atau bersifat non-linier. Pada saat tingkat kenaikan harga berada di atas titik kritis (pada <em>return</em> kenaikan sekitar 0,26), jumlah penduduk miskin cenderung akan meningkat. Pada saat level kenaikan harga di bawah titik kritis maka ia cenderung mengurangi laju penurunan tingkat kemiskinan.</p>
<p>Kenaikan tarif energi juga memiliki dampak yang begitu kompleks. Inflasi tidak hanya terkait dengan aspek pengangguran dan tingkat kemiskinan, tetapi juga aspek-aspek kesejahteraan. Pada saat harga-harga di pasar meningkat, maka sebagian penduduk akan kesulitan untuk memenuhi aspek-aspek kesejahteraannya. Pada gambar 6 terlihat hubungan antara tingkat balita gizi buruk dan harga bensin. Secara umum, pada saat terjadi peningkatan tarif bensin maka persentase balita dengan gizi buruk cenderung akan meningkat. Anomali hanya terjadi pada tahun 1998. Hal ini diduga karena efek <em>recovery</em> pasca krisis 1997 yang telah memicu inflasi yang sangat besar.</p>
<p align="center"><a href="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/06/bbm-gizi.jpg"><img class="aligncenter size-large wp-image-289" title="Gambar 6, Hubungan antara tingkat balita gizi buruk dan harga bensin (sumber data: BPS)" src="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/06/bbm-gizi.jpg?w=394&#038;h=220" alt="" width="394" height="220" /></a><strong>Gambar 6, </strong>Hubungan antara tingkat balita gizi buruk dan harga bensin (sumber data: BPS).</p>
<p>Presentasi sederhana ini menunjukkan bahwa sejatinya perspektif “matematika garis lurus” tersebut ini menyimpan kekeliruan teoretis dan empiris yang begitu mendalam. Efek kebijakan energi terhadap harga sejatinya tidak bersifat linier. Selain itu, kebijakan energi juga memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap aspek-aspek lainnya. Kekeliruan perspektif matematis kebijakan energi menimbulkan masalah dalam upaya penanggulanan penggangguran, kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.</p>
<p>Ilmu ekonomi saat ini telah berkembang pesat. Ada berbagai alternatif metodologi baru yang dapat menggantikan perspektif “matematika garis lurus” tersebut, mulai dari <em>Markov chain</em>, pendekatan berbasis agen, metode ultrametrik dan berbagai pendekatan stokastik lainnya. Kemalasan kita untuk terus memperbaiki metodologi perhitungan, sesuai dengan kerangka teoretis dan penggaris empiris yang ada, berpotensi menimbulkan kerugian sosial yang besar.</p>
<p>Selain upaya perbaikan metodologi perhitungan ekonomi yang berkesinambungan, sikap lain yang dibutuhkan adalah penegakan etika ekonomi. Jika pengukuran selalu salah, maka akuilah kesalahan dan belajar agar tidak mengulangi kesalahan yang sama di waktu yang akan datang.</p>
<p>Formulasi kebijakan ekonomi yang dapat melepaskan Indonesia dari keterpurukan sejatinya hanya dapat ditemukan melalui perbaikan metodologi berkelanjutan yang dibangun melalui penegakan etika ekonomi. Semoga metodologi dan etika ekonomi hanya menjadi pencitraan semata!</p>
<p><strong>Rolan Mauludy Dahlan</strong></p>
<p>Peneliti Dept. Ekonomi Evolusioner, Bandung Fe Institute</p>
<p>Twitter: @rolan_md</p>
</div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Data Inflasi dihitung secara periodik (bulanan) dari proses pendataan yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik pada tanggal 1-15 untuk setiap bulannya. Data harga bensin juga dihitung secara periodik (bulanan) dengan titik referensi tanggal 15 untuk setiap bulannya.</p>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[2]</a> Ada berbagai variasi derajat polinomial, seperti: linier (derajat 1), kuadratik (derajat 2), kubik (derajat 3), kuartik (derajat 4) dan seterusnya. Untuk menghindari problem &#8220;nilai kiri&#8221; dan keterbatasan data maka polinomial derajat genap dan polinomial derajat tinggi dieliminasi dalam proses perhitungan.</p>
</div>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kopisantan.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kopisantan.wordpress.com/282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kopisantan.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kopisantan.wordpress.com/282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kopisantan.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kopisantan.wordpress.com/282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kopisantan.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kopisantan.wordpress.com/282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kopisantan.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kopisantan.wordpress.com/282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kopisantan.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kopisantan.wordpress.com/282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kopisantan.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kopisantan.wordpress.com/282/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kopisantan.wordpress.com&amp;blog=14647606&amp;post=282&amp;subd=kopisantan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kopisantan.wordpress.com/2011/06/13/matematika-buruk-kebijakan-energi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a48373c5396a5917f0fabdb11c7df06a?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rolanmd</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/06/bbm-inflasi.jpg?w=1024" medium="image">
			<media:title type="html">Gambar 1, Inflasi dan persentase kenaikan harga bensin (sumber data: BPS)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/06/e1.jpg?w=1024" medium="image">
			<media:title type="html">Gambar 2, Persentase kenaikan harga bensin di bulan t serta inflasi pada t-3, t-2, t-1, t, t+1, t+2 dan t+3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/06/e2.jpg?w=1024" medium="image">
			<media:title type="html">Gambar 3, Persentase kenaikan harga bensin pada bulan t terhadap inflasi bulan t pada fitting linier dan kubik</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/06/bbm-pengangguran.jpg?w=1024" medium="image">
			<media:title type="html">Gambar 4, Hubungan antara tingkat pengangguran dan harga bensin (sumber data: BPS)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/06/bbm-miskin.jpg?w=1024" medium="image">
			<media:title type="html">Gambar 5, Hubungan antara tingkat kemiskinan dan harga bensin (sumber data: BPS)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kopisantan.files.wordpress.com/2011/06/bbm-gizi.jpg?w=1024" medium="image">
			<media:title type="html">Gambar 6, Hubungan antara tingkat balita gizi buruk dan harga bensin (sumber data: BPS)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Akuntabilitas Kebijakan Ekonomi</title>
		<link>http://kopisantan.wordpress.com/2011/01/01/akuntabilitas-kebijakan-ekonomi/</link>
		<comments>http://kopisantan.wordpress.com/2011/01/01/akuntabilitas-kebijakan-ekonomi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Jan 2011 08:14:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rolanmd</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://kopisantan.wordpress.com/?p=275</guid>
		<description><![CDATA[Pada pertengahan Juli 2010, presiden menyatakan bahwa “biaya listrik hanyalah sekitar 4,5%, jadi kalaupun ada kenaikan harga seharusnya adalah 12% dari 4.5% (atau 0,54%)”. Prediksi inflasi akibat kenaikan TDL tidak hanya diumukan oleh presiden. BPS memproyeksikan 0,22%. BI mengeluarkan nilai maksimum 0,3%. Awal Agustus 2010, BPS mengumumkan data inflasi bulan Juli 2010 sebesar 1,57%. Jika <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kopisantan.wordpress.com&amp;blog=14647606&amp;post=275&amp;subd=kopisantan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada pertengahan Juli 2010, presiden menyatakan bahwa “biaya listrik hanyalah sekitar 4,5%, jadi kalaupun ada kenaikan harga seharusnya adalah 12% dari 4.5% (atau 0,54%)”. Prediksi inflasi akibat kenaikan TDL tidak hanya diumukan oleh presiden. BPS memproyeksikan 0,22%. BI mengeluarkan nilai maksimum 0,3%.</p>
<p>Awal Agustus 2010, BPS mengumumkan data inflasi bulan Juli 2010 sebesar 1,57%. Jika angka ini dinormalisasi terhadap data historis maka dapat disimpulkan bahwa ketiga prediksi tersebut melenceng jauh. Padahal kondisi ini berlaku dengan asumsi pengaruh TDL hanya terjadi pada bulan Juli. Jika terjadi efek psikologis TDL bulan Juni atau efek lanjutan pada bulan Agustus dihitung maka ketidakakuratan prediksi tersebut menjadi bertambah besar.<span id="more-275"></span></p>
<p>Ketidakakuratan massal tersebut seolah menjadi fenomena lama yang terus berulang.</p>
<p>Sesaat setelah kenaikan BBM Oktober 2005, beberapa birokrat dan ekonom mengumumkan perkiraan inflasi tahun 2005 sekitar 12%. Fakta infasi 2005 yang terjadi 17,11%. Ada selisih proyeksi dan realita inflasi 5,11%, hanya untuk rentang 3 bulan. Angka ini sangat fenomenal.</p>
<p>Kasus yang paling kontroversial terjadi pada akhir Februari 2005. Sebuah lembaga penelitian, bersama 36 tokoh nasional, menyatakan bahwa kenaikan BBM yang disertai program kompensasi akan mengurangi jumlah penduduk miskin secara signifikan. Laporan BPS berkata lain: jumlah penduduk miskin semakin meningkat!</p>
<p>Ada beberapa kasus lainnya seperti proyeksi asumsi APBN, formula DAU, kegagalan menunjukan argumentasi sainstifik pada <em>bailout</em> Bank Century (hanya <em>subjective judgment</em>), dan lain sebagainya.</p>
<p>***</p>
<p>Mengapa terjadi ketidakakuratan massal secara berulang? Hal ini hanya bisa dijawab dengan memperhatikan dan mengkaji landasan, asumsi, dan model yang digunakan di balik argumentasi tersebut satu persatu.</p>
<p>Namun sayangnya, sebagian besar argumentasi ilmiah di balik kebijakan tersebut tidak dapat diakses. Ini yang menyebabkan kesulitan peneliti atau pihak manapun untuk mengkaji ulang sebuah kebijakan ekonomi, apalagi melakukan kritik ilmiah. Akibatnya adalah pemandangan sehari-hari di mana diskusi ekonomi lebih sering berkembang menjadi pertempuran yang politis, tidak ilmiah, dan ketidakakuratan terus saja berulang tanpa ada hal konstruktif.</p>
<p>Tetapi, penulis cukup beruntung mendapatkan 2 model yang menjadi pijakan kebijakan ekonomi, yaitu formula DAU dan proyeksi kenaikan tarif energi terhadap inflasi.</p>
<p>Pada kasus pembagian DAU, ada sebuah kekeliruan fatal. Model tersebut menggunakan distribusi yang tidak tepat. Hal ini menyebabkan DAU tidak terdistribusikan secara proporsional.</p>
<p>Model proyeksi pengaruh kenaikan tarif energi terhadap inflasi juga memiliki kesalahan yang sangat signifikan. Ia tidak menyertakan efek berantai kenaikan harga dan kepanikan pasar, hanya melihat fraksi komponen harga. Model linier tersebut nampaknya masih terus digunakan, seperti terlihat pada pernyataan presiden di atas. Ia cukup menjelaskan mengapa prediksi inflasi selalu lebih rendah dari kenyataan.</p>
<p>Apakah kita dapat membuat proyeksi kebijakan ekonomi yang akurat sempurna (100%)? Tentu saja tidak! Ada banyak hal yang membatasi kemampuan prediktif. Namun, alam senantiasa memberikan sains kesempatan untuk mendekatinya. Walaupun tidak akurat 100%, namun kesalahan dapat diminimalisir hingga begitu kecil dan tidak bersifat kekeliruan sistematis.</p>
<p>***</p>
<p>Akurasi adalah aspek penting bagi pemerintah dalam membuat kebijakan. Fenomena ketidakakuratan massal secara berulang sangat penting untuk dibahas. Ia terkait dengan kredibilitas pemerintah. Apa yang dapat dilakukan agar tidak kembali jatuh ke lubang yang sama?</p>
<p>Salah satu nilai penting yang dijunjung tinggi dalam kehidupan demokratis republik adalah akuntabilitas. Itulah sebabnya metodologi sains sering menjadi rujukan kehidupan demokratis, karena di dalam sains, <em>refutability </em>merupakan kemutlakan dalam semua proposisi ilmiah . Jika kita berpegang pada nilai ini maka sejatinya akurasi kebijakan ekonomi juga berlangsung membaik. Ada 2 aspek akuntabilitas kebijakan ekonomi.</p>
<p>Bagian <em>pertama</em> adalah etika profesi. Adalah naïf untuk mengatakan bahwa berbagai kekeliruan pemerintah dalam kebijakan ekonomi terlepas dari interpretasi yang keliru atas berbagai rekomendasi yang diberikan ekonom.  Seorang ekonom seyogianya mengetahui keterbatasan metodologis yang mereka gunakan sekaligus menyadari berbagai potensi interpretasi yang keliru atas usulan kebijakannya. Etika profesi ini belum ada saat ini.</p>
<p>Krisis ekonomi 2008 yang lalu sebenarnya telah membawa kesadaran baru tentang hal ini. Beberapa ekonom dengan reputasi internasional telah mewacanakan pentingnya etika profesi ekonomi dalam <em>The 98<sup>th</sup> Dahlem Workshop on Economic Crisis</em> 2008. Manifesto ini disambut luas dalam diskusi ekonomi di forum- forum internasional. Etika profesi ekonomi adalah wacana yang sangat penting dipertimbangkan.</p>
<p>Bagian <em>kedua</em> adalah keterbukaan metode. Setiap kebijakan harus didasarkan pada laporan ilmiah yang dapat diakses secara terbuka. Keterbukaan akan memberikan kesempatan bagi setiap ilmuwan untuk dapat mengkaji ulang metode dan asumsi yang digunakan sehingga mendorong penelitian. Kenyataan kompleksitas sosial di Indonesia terkait keberagaman yang tinggi dalam lanskap kepulauan dan historisitas yang unik merupakan hal yang mestinya memungkinkan lahirnya berbagai kajian ekonomi yang unik, tidak sekadar mengikuti pusar <em>mainstream </em>ekonomi. Wacana ekonomi di tataran ahli, pembuat kebijakan dan masyarakat akan semakin berkualitas.</p>
<p>Coba kita bandingkan dengan Amerika Serikat. Jika kita menelusuri mesin pencari maka dengan mudah menemukan <em>policy paper</em> kebijakan Barack Obama. Demikian juga dengan <em>policy paper</em> yang menopang argumentasi partai Republik. Wacana ekonomi menjadi semakin substanstial dan dapat dipertanggungjawabkan secara saintifik.</p>
<p>Kejadian ini adalah momentum refleksi bersama. Kebijakan ekonomi selama ini terus menuntut akuntabilitas dari masyarakat. Tetapi, apakah perumusan kebijakan ekonomi juga mampu memberikan teladan tentang akuntabilitas kepada masyarakat?</p>
<p><strong>Rolan Mauludy Dahlan, Twitter: @rolan_md </strong></p>
<p>Peneliti Dept. Ekonomi Evolusioner, Bandung Fe Institute</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kopisantan.wordpress.com/275/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kopisantan.wordpress.com/275/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kopisantan.wordpress.com/275/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kopisantan.wordpress.com/275/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kopisantan.wordpress.com/275/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kopisantan.wordpress.com/275/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kopisantan.wordpress.com/275/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kopisantan.wordpress.com/275/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kopisantan.wordpress.com/275/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kopisantan.wordpress.com/275/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kopisantan.wordpress.com/275/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kopisantan.wordpress.com/275/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kopisantan.wordpress.com/275/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kopisantan.wordpress.com/275/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kopisantan.wordpress.com&amp;blog=14647606&amp;post=275&amp;subd=kopisantan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kopisantan.wordpress.com/2011/01/01/akuntabilitas-kebijakan-ekonomi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a48373c5396a5917f0fabdb11c7df06a?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rolanmd</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Final AFF di Twitter!</title>
		<link>http://kopisantan.wordpress.com/2010/12/26/final-aff-di-twitter/</link>
		<comments>http://kopisantan.wordpress.com/2010/12/26/final-aff-di-twitter/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Dec 2010 11:14:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hokkys</dc:creator>
				<category><![CDATA[HUKUM]]></category>
		<category><![CDATA[OLAHRAGA]]></category>
		<category><![CDATA[POLITIKA]]></category>
		<category><![CDATA[PSIKOLOGI]]></category>
		<category><![CDATA[SOCIAL MEDIA]]></category>
		<category><![CDATA[aff]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[nurdin halid]]></category>
		<category><![CDATA[sepak bola]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kopisantan.wordpress.com/?p=257</guid>
		<description><![CDATA[Sepertinya &#8220;keramaian&#8221; di Twitter terkait putaran final AFF antara kesebelasan Indonesia vs Malaysia lebih dulu daripada di darat! Semenjak tanggal 20 Desember 2010, Twitter telah diramaikan oleh hampir 10.000 twit terkait pertarungan akbar yang seru ini, melalui hashtag #timnas, #GarudaDiDadaku, #InavsMal, #NurdinTurun, dan #PSSI, kita coba untuk melihat bagaimana kait-mengkait antara satu konsep dengan konsep <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kopisantan.wordpress.com&amp;blog=14647606&amp;post=257&amp;subd=kopisantan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sepertinya &#8220;keramaian&#8221; di <a href="http://twitter.com/quicchote">Twitter </a>terkait putaran final AFF antara kesebelasan Indonesia vs Malaysia lebih dulu daripada di darat! Semenjak tanggal 20 Desember 2010, <a href="http://twitter.com/quicchote">Twitter </a>telah diramaikan oleh hampir 10.000 twit terkait pertarungan akbar yang seru ini, melalui <em>hashtag</em> <a href="http://search.twitter.com/search?q=%23timnas">#timnas</a>, <a href="http://search.twitter.com/search?q=%23GarudaDiDadaku">#GarudaDiDadaku</a>, <a href="http://search.twitter.com/search?q=%23InavsMal">#InavsMal</a>, <a href="http://search.twitter.com/search?q=%23NurdinTurun">#NurdinTurun</a>, dan <a href="http://search.twitter.com/search?q=%23PSSI">#PSSI</a>, kita coba untuk melihat bagaimana kait-mengkait antara satu konsep dengan konsep lain sebagaimana ditunjukkan oleh masing-masing twit dari para tweeps di <a href="http://twitter.com/quicchote">twitland</a>.</p>
<div id="attachment_258" class="wp-caption aligncenter" style="width: 418px"><a href="http://kopisantan.files.wordpress.com/2010/12/aff1.jpg"><img class="size-full wp-image-258 " title="aff1" src="http://kopisantan.files.wordpress.com/2010/12/aff1.jpg?w=510" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">Keterhubungan Konsep Semantis terkait Final AFF di Twitter</p></div>
<p><span id="more-257"></span>Terdapat 815 konsep yang kita pilih yang terkategori kata benda (<em>noun</em>) dalam hampir 10.000 twit yang dikirimkan secara spontan oleh para pengguna Twitter di seluruh dunia. Dalam analsis kompleks jejaring semantik ini verteks adalah konsep  yang  direpresentasi dengan kata atau frasa tertentu dalam satu posting   tweet. Dua konsep dikatakan berhubungan, ketika muncul dalam satu <em>posting</em> <em>tweet</em>.   Lebih jauh, dalam pemodelan jejaring semantik ini, kita meilihat satu <em>posting tweet</em> sebagai kumpulan konsep yang punya kaitan erat satu sama lain. Ketika satu konsep penting berulang-ulang muncul di <em>posting twit</em> oleh pengguna <em><a href="http://twitter.com/quicchote"><em>twitter</em></a> </em>lain, maka terdapat konsekuensi adanya korelasi yang relatif tinggi antara kedua (atau lebih) <em>posting</em> <em>tweet</em> tersebut. Dalam analisis ini, kita memperhitungkan <em>retweet</em> (RT) oleh user yang berbeda. Dalam hal ini, kita bersandar pada asumsi bahwa aktivitas <em>ReTweet</em> menunjukkan konfirmasi persetujuan atas isi twit yang di-retweet.</p>
<p>Untuk melihat bagaimana satu konsep menjadi penting dalam populasi <em>twit</em> tersebut, kita gunakan metode pengukuran sentralitas antara  konsep-konsep yang ada dengan menggunakan teknologi algoritmis yang  mirip seperti digunakan dalam <a href="http://www.google.com/corporate/tech.html"><em>PageRank Algorithm</em></a> dalam <em>world wide web </em>oleh mesin pencari terkenal dan tercepat sedunia, <a href="http://www.google.com/webhp"><em>Google</em></a>. Hasilnya, kita dapat melihat seperti dalam tabel ini.</p>
<p><a href="http://kopisantan.files.wordpress.com/2010/12/konsep.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-259" title="konsep" src="http://kopisantan.files.wordpress.com/2010/12/konsep.jpg?w=510" alt=""   /></a></p>
<p>Sungguh menarik melihat konsep-konsep terpenting yang muncul dari twit yang terkumpul jelang seminggu sebelum pertandingan seru ini. Konsentrasi user dalam <em>posting </em>twit mereka tentunya adalah PSSI, dan konsep &#8220;Indonesia&#8221; &amp; &#8220;Malaysia&#8221; menjadi konsep tertinggi dalam sentralitas dari semua twit yang ada. Semangat yang ada dikaitkan dengan konsep &#8220;Garuda&#8221;, sesuai dengan lagu <em>supporter </em>Indonesia, &#8220;Garuda di dadaku!&#8221; yang sangat terkenal. Yang menarik tentunya adalah pemandangan global dari twit ini menunjukkan tingginya perhatian <em>tweeps </em>terhadap&#8221;Nurdin Halid&#8221; yang merupakan ketua umum dari Persatuan Sepakbola Indonesia saat ini. Kebanyakan dari twit berisikan kritik pedas terhadap beliau atas manajemen persepakbolaan nasional belakangan ini. Yang menarik, <em>tweeps </em>sangat apresiatif terhadap &#8220;Riedl&#8221;, yang merupakan pelatih timnas Indonesia, yang berhasil membawa kesebelasan Indonesia melaju ke babak final AFF 2010 ini.</p>
<p>Nama pemain seperti &#8220;Gonzales&#8221;, &#8220;Markus&#8221; juga muncul di 30 konsep terpenting yang dikalkulasi. Namun menarik juga memperhatikan adanya isu-isu politik yang muncul dari korpus twit ini, seperti &#8220;bakrie&#8221;, &#8220;politik&#8221;, &#8220;rakyat&#8221;, &#8220;negara&#8221;, &#8220;korupsi&#8221;. Hal ini sedikit banyak merefleksikan bagaimana publik twitland memandang tingginya aroma politis di dalam manajemen persepakbolaan di tanah air saat ini.Konsep &#8220;kaos&#8221;, misalnya menduduki jajaran penting di 30 konsep terpenting mengingat adanya polemik politik dan hukum terkait penggunaan logo negara &#8220;Garuda&#8221; di kaos Timnas oleh beberapa pihak pada pekan-pekan sebelumnya.</p>
<p>Isu budaya pun semarak melalui pertarungan tim Indonesia melawan Malaysia ini. Konsep &#8220;batik&#8221; juga menduduki jajaran akumulasi konsep yang terpenting. Hal ini bisa dikaitkan dengan adanya ajakan mengenakan batik saat menonton pertandingan final ini pada beberapa minggu sebelumnya. Hal ini tentu tak bisa dilepaskan dengan banyaknya kasus &#8220;klaim&#8221; elemen budaya Indonesia oleh beberapa pihak di negara jiran, Malaysia.</p>
<p>Twitland adalah sebuah substrat di mana informasi, ekspresi, dan opini tak kuasa untuk disumbat. Dan dari ulasan singkat ini, dengan menarik kita dapat melihat bagaimana satu pertandingan sepak bola, ternyata menyentuh banyak aspek yang <em>urgent </em>untuk segera dibereskan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia.</p>
<p><strong>Informasi Metodologis Lebih Lanjut:</strong></p>
<ol>
<li>Situngkir, H. (2007). “Model Jaringan dalam Analisis Media : Peluang Eksploitasi Studi Kultural Pada Sifat Skala Topografi Tekstual”. BFI Working Paper Series WPQ2007. Bandung Fe Institute.</li>
<li>Situngkir, H. (2007). SemanticGraphAnalysis Computational ToolBox, Bandung Fe Institute © 2007</li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kopisantan.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kopisantan.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kopisantan.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kopisantan.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kopisantan.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kopisantan.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kopisantan.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kopisantan.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kopisantan.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kopisantan.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kopisantan.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kopisantan.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kopisantan.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kopisantan.wordpress.com/257/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kopisantan.wordpress.com&amp;blog=14647606&amp;post=257&amp;subd=kopisantan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kopisantan.wordpress.com/2010/12/26/final-aff-di-twitter/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6ace328fe89a4922f1e1abbc90c5e76d?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hokkysitungkir</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kopisantan.files.wordpress.com/2010/12/aff1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">aff1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kopisantan.files.wordpress.com/2010/12/konsep.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">konsep</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Evolusi Budaya Manusia</title>
		<link>http://kopisantan.wordpress.com/2010/12/17/kisah-evolusi-budaya-manusia/</link>
		<comments>http://kopisantan.wordpress.com/2010/12/17/kisah-evolusi-budaya-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Dec 2010 22:13:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hokkys</dc:creator>
				<category><![CDATA[BUDAYA]]></category>
		<category><![CDATA[FILSAFAT]]></category>
		<category><![CDATA[PUSTAKA]]></category>
		<category><![CDATA[SAINS & TEKNOLOGI]]></category>
		<category><![CDATA[SOCIAL MEDIA]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[evolusi]]></category>
		<category><![CDATA[inovasi]]></category>
		<category><![CDATA[memetika]]></category>
		<category><![CDATA[peradaban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kopisantan.wordpress.com/?p=249</guid>
		<description><![CDATA[Dalam tubuh kita ini terdapat 500 trilyun sel yang masing-masing inti selnya menyimpan 5 milyar bit informasi. Jika kita ber-asumsi bahwa sebuah buku masing-masing terdiri dari 500 halaman, maka tubuh kita merupakan sebuah perpustakaan yang berisi sekitar satu juta jilid buku informasi genetika! Informasi-informasi ini bercerita tentang berbagai &#8220;pengetahuan&#8221; yang sebenarnya baru kita &#8220;ketahui&#8221; sekitar <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kopisantan.wordpress.com&amp;blog=14647606&amp;post=249&amp;subd=kopisantan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam tubuh kita ini terdapat 500 trilyun sel yang masing-masing inti  selnya menyimpan 5 milyar bit informasi. Jika kita ber-asumsi bahwa  sebuah buku masing-masing terdiri dari 500 halaman, maka tubuh kita  merupakan sebuah perpustakaan yang berisi sekitar satu juta jilid buku  informasi genetika! Informasi-informasi ini bercerita tentang berbagai  &#8220;pengetahuan&#8221; yang sebenarnya baru kita &#8220;ketahui&#8221; sekitar 2 atau 3 abad  silam. Informasi dalam buku tersebut berisi pengetahuan tentang  bagaimana kita mencerna makanan, bersin, tertawa, jatuh cinta, berahi,  dalam bahasa biokimia. Menilik penelitian evolusi genetika, maka satu  jilid buku tersebut sebenarnya bercerita tentang kehidupan organisme  hidup sebelum kita selama jutaan tahun. Tubuh kita adalah perpustakaan  sejarah makhluk hidup di planet bumi ini [1].</p>
<p>Saat teknologi modern &#8220;mempelajari&#8221; informasi yang terkandung dalam  perpustakaan hidup tersebut, manusia modern juga ternyata  meng-artikulasikan informasi. Gagasan, ide, pemikiran, filosofi, dan  berbagai pengetahuan yang lahir dari kehidupan sosial juga terekam dalam  apa yang kita ucapkan dan tulis dalam bahasa. Dan kehidupan modern  menyimpan semua informasi ini dalam bentuk huruf dan tanda-tanda  tekstual. Dalam dunia digital, informasi terkecil ini dipetakan dalam,  misalnya, standar elementer 256 karakter ASCII (<em>American Standard Code for Information Interchange</em>).  Hasilnya adalah milyaran buku yang ada di rak-rak buku di perpustakaan  dan toko buku hingga dalam sel-sel silika hardisk kita sebagai <em>e-book, web-page, </em>dan berbagai format digital lain. <img title="More..." src="http://qact.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" /><span id="more-249"></span></p>
<p>Jika tubuh kita merupakan sebuah perpustakaan hidup, maka  perpustakaan kita merupakan sebuah arsip kehidupan sebagaimana kita  ketahui dalam kapasitas kognitif kolektif manusia! Semenjak tahun 2004,  Google bersama dengan 40 perpustakaan perguruan tinggi telah <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Google_Books">memindai lebih dari 15 juta buku yang konon mewakili 12% dari buku-buku</a> yang pernah diterbitkan di planet bumi. Rentang huruf-huruf yang ada  dalam koleksi ini panjangnya 10.000 kali daripada untaian genom  (informasi genetika) manusia.</p>
<p>Unit informasi budaya manusia (meme) ber-evolusi lebih dahsyat secara  masif daripada unit informasi hereditas manusia (gene). Yang satu  bersifat sosial, yang satu bersifat biologis.</p>
<p>Di penghujung tahun ini, data-data tersebut dibuka untuk publik umum  untuk di-unduh dan dianalisis. Berbagai ilmuwan dari lintas disiplin  beberapa waktu lalu <a href="http://www.sciencemag.org/content/early/2010/12/15/science.1199644">melaporkan sebuah kajian </a>tentang  data-data yang massif tersebut. Tak kurang psikolog evolusioner Steven  Pinker, analis biolog matematikawan Martin Nowak, bersama sejumlah  peneliti di dalam Google Research menerbitkan bersama <a href="http://www.sciencemag.org/content/early/2010/12/15/science.1199644">analisis kuantitatif atas budaya manusia </a>yang tercermin dalam korpus buku-buku yang ada dalam aplikasi <a href="http://books.google.com/">Google Books</a>.  Tak berhingga informasi bisa lahir dari sini. Ketika tiap buku  menyimpan segundang informasi, maka kumpulan buku tersebut menyimpan  informasi tentang peradaban manusia. Penelitian tersebut mengungkap  berbagai analisis statistika tentang evolusi berbahasa (Inggris) manusia  dari tahun 1800 hingga 2000, baik dalam langgam British maupun Amerika,  penggunaan kata-kata spesifik bahasa Inggris, frekuensi penggunaan kata  tertentu, perkembangan gramatika/tata bahasa Inggris, dan sebagainya  [2].</p>
<p>Satu hal yang menarik perhatian dari temuan mereka bahwa orang-orang  hebat yang muncul zaman sekarang jauh lebih terkenal daripada periode  sebelumnya, tapi lebih gampang terlupakan. Di awal abad ke-19, misalnya,  seorang tokoh mulai menjadi terkenal pada usia rata-rata 43 tahun dan  butuh 8 tahun agar bisa terkenal dua kali lipat. Namun pada pertengahan  abad ke-20, orang mulai terkenal pada usia rata-rata 29 tahun dan  menjadi terkenal dua kali lipat hanya dalam waktu 3 tahun! Namun orang  terkenal zaman sekarang lebih gampang terlupa: jumlah penyebutan dalam  buku berkurang setengahnya dari puncak dalam waktu 71 tahun, sementara  di abad ke-19 perlu waktu rata-rata 120 tahun untuk penyebutan dalam  buku hingga setengah dari puncaknya.</p>
<p>Temuan ini dapat dikontraskan dengan penelitian komputasional yang dilakukan di <a href="http://www.bandungfe.net">Bandung Fe Institute</a>,  yang mensimulasikan secara evolusioner perkembangan gagasan dan ide  dalam lanskap kultural manusia. Selalu ada rentang waktu sebuah hasil  inovasi atau konsep memetis (kultura) dalam ruang budaya manusia yang  akan sangat bergantung pada kemunculan inovasi produk lain yang muncul  yang (tentunya) meng-adopsi secara progresif produk-produk yang muncul  pada periode terdahulu. Semakin banyak produk yang berkembang di pasar  atau lanskap kultural, maka semakin sulit satu ia bertahan lebih lama  [3].</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://qact.files.wordpress.com/2010/12/inovprod.jpg"><img title="inovprod" src="http://qact.files.wordpress.com/2010/12/inovprod.jpg?w=300&#038;h=220" alt="" width="300" height="220" /></a><p class="wp-caption-text">Potret simulasi komputasional naik turunnya popularitas hasil inovasi produk</p></div>
<p>Jean-Baptiste Michel dan Erez Lieberman Aiden menulis program <a href="http://ngrams.googlelabs.com/info">Ngram Viewer </a>buat  bisa dinikmati publik untuk melihat bagaimana satu kata (sebagai unit  informasi terkecil di buku) berkembang dalam sampel populasi seluruh  buku-buku yang telah dipindai oleh Google Books. Dalam perangkat lunak  tersebut, kita bisa melihat bagaimana perkembangan frekuensi satu kata  atau frasa dari tahun ke tahun.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://qact.files.wordpress.com/2010/12/complexity-simplicity2.jpg"><img title="complexity-simplicity2" src="http://qact.files.wordpress.com/2010/12/complexity-simplicity2.jpg?w=300&#038;h=110" alt="" width="300" height="110" /></a><p class="wp-caption-text">Simplicity dan Complexity dalam buku-buku yang dipindai dalam Google Books</p></div>
<p>Semakin  jauh peradaban modern kita ini berjalan, maka semakin insyaf dunia  intelektual manusia atas kompleksitas hidupnya. Dalam semua literatur  yang ada dalam Google Books, kita dapat melihat bahwa tren frekuensi  penggunaan kata &#8220;<em>simplicity</em>&#8221; (kesederhanaan) terus menurun, sementara kata &#8220;<em>complexity</em>&#8221; (kompleksitas) terus menanjak. Semenjak tahun 1964, kata &#8220;<em>complexity</em>&#8221; jauh lebih banyak digunakan daripada kata &#8220;<em>simplicity</em>&#8220;. Urgensi untuk ilmu-ilmu kompleksitas semakin dirasakan perlu memandang kompleksitas kehidupan natural dan sosial kita.</p>
<div id="attachment_254" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://kopisantan.files.wordpress.com/2010/12/founding-father2.jpg"><img class="size-medium wp-image-254" title="founding-father2" src="http://kopisantan.files.wordpress.com/2010/12/founding-father2.jpg?w=300&#038;h=110" alt="" width="300" height="110" /></a><p class="wp-caption-text">Founding fathers Indonesia dalam literatur berbahasa Inggris dalam Google Books</p></div>
<p>Sekarang kita coba misalnya melihat bagaimana popularitas <em>founding-fathers</em> Indonesia termasuk presiden ke-2 Indonesia dalam literatur berbahasa  Inggris. Sebagaimana kita tebak, tentu yang paling populer adalah  Presiden Sukarno dengan puncak penyebutan namanya di sekitar akhir masa  pemerintahan Orde Lama, kemudian turun terus hingga lalu di-over-lap  oleh popularitas Presiden Soeharto pada tahun 1995. Hal menarik lain  adalah bahwa nama Bung Sjahrir relatif lebih banyak disebut daripada  Bung Karno dair awal kemerdekaan hingga tahun 1951, yang langsung  disusul juga di periode yang sama oleh penyebutan Bung Hatta dalam  literatur berbahasa Inggris tersebut.</p>
<div id="attachment_253" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://kopisantan.files.wordpress.com/2010/12/bali-ind-sukarno2.jpg"><img class="size-medium wp-image-253" title="bali-ind-sukarno2" src="http://kopisantan.files.wordpress.com/2010/12/bali-ind-sukarno2.jpg?w=300&#038;h=110" alt="" width="300" height="110" /></a><p class="wp-caption-text">Konsep-konsep Bali, Indonesia, dan Sukarno dalam Google-Books</p></div>
<p>Hal  menarik yang juga bisa kita lihat adalah bahwa dalam perkembangan  literatur berbahasa Inggris, Bali memiliki popularitas yang sangat  tinggi terkait Indonesia. Sebelum deklarasi kemerdekaan Indonesia, meski  konsep gerakan ke-Indonesia-an sudah mulai ada, Indonesia dikenal luas  dalam buku-buku berbahasa Inggris atas eksotisme kultural dan natural  dari pulau Dewata Bali dan pemimpin gerakan nasionalnya, Ir. Soekarno.  Deklarasi kemerdekaan 1945 merupakan titik tolak pengumuman yang  di-sounding langsung ke seluruh penjuru dunia atas eksistensi sebuah  negara bernama Indonesia.</p>
<p>Banyak hal yang bisa kita pelajari dengan dibukanya informasi ini untuk bebas <a href="http://www.culturomics.org/Resources/culturomic-data">di-unduh </a>untuk  melihat bagaimana satu konsep semantik berkembang dari masa ke masa.  Kita tentu tinggal menunggu saja ketika buku-buku berbahasa Indonesia  nantinya juga akan dapat diakses bagi publik. Kita mungkin akan dapat  melihat bagaimana wajah kultural Indonesia dari masa ke masa&#8230;</p>
<p><strong>Kerja yang disebut</strong><br />
[1] Sagan, C. (1985). <em>Cosmos</em>. Ballantine Books.<br />
[2] Michel, J-B., Kui, Y., Aiden, A. P., Veres, A., Gray, M. K.,  Pickett, J. P., Hoiberg, D., Clancy, D., Norvig, P., Orwant, J., Pinker,  S., Nowak, M. A., &amp; Aiden, E. L. (2010). &#8220;Quantitative Analysis of  Culture Using Millions of Digitized Books&#8221;. <em>Science </em>10.1126. AAAS.<br />
[3] Khanafiah, D. &amp; Situngkir, H. (2006). &#8220;Innovation as Evolutionary Process&#8221;. <em>Proceedings of 9th International COnference on Computation, Intelligence, Economics, and Finance</em>. Atlantic Press.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kopisantan.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kopisantan.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kopisantan.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kopisantan.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kopisantan.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kopisantan.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kopisantan.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kopisantan.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kopisantan.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kopisantan.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kopisantan.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kopisantan.wordpress.com/249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kopisantan.wordpress.com/249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kopisantan.wordpress.com/249/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kopisantan.wordpress.com&amp;blog=14647606&amp;post=249&amp;subd=kopisantan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kopisantan.wordpress.com/2010/12/17/kisah-evolusi-budaya-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6ace328fe89a4922f1e1abbc90c5e76d?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hokkysitungkir</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" medium="image">
			<media:title type="html">More...</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2010/12/inovprod.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">inovprod</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2010/12/complexity-simplicity2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">complexity-simplicity2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kopisantan.files.wordpress.com/2010/12/founding-father2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">founding-father2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kopisantan.files.wordpress.com/2010/12/bali-ind-sukarno2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">bali-ind-sukarno2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang bencana yang terjadi akhir-akhir ini</title>
		<link>http://kopisantan.wordpress.com/2010/11/12/tentang-bencana-yang-terjadi-akhir-akhir-ini/</link>
		<comments>http://kopisantan.wordpress.com/2010/11/12/tentang-bencana-yang-terjadi-akhir-akhir-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Nov 2010 11:19:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kopisantan</dc:creator>
				<category><![CDATA[LINGKUNGAN HIDUP]]></category>
		<category><![CDATA[MANAJEMEN]]></category>
		<category><![CDATA[SAINS & TEKNOLOGI]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[risiko sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kopisantan.wordpress.com/?p=238</guid>
		<description><![CDATA[Lewat tulisan kali ini, saya hanya berusaha merangkum kata-kata populer di media dan di wall fb beberapa teman berkaitan dengan dinamika alam yg terjadi di negeri kita akhir-akhir ini. Berikut kata-kata yg sering saya dengar dan lihat: 1. Indonesia adalah negeri 1001 bencana 2. Tuhan sedang murka dan menegur kita lewat bencana 3. Pemerintah bergerak <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kopisantan.wordpress.com&amp;blog=14647606&amp;post=238&amp;subd=kopisantan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lewat tulisan kali ini, saya hanya berusaha merangkum kata-kata  populer di media dan di wall fb beberapa teman berkaitan dengan dinamika  alam yg terjadi di negeri kita akhir-akhir ini. Berikut kata-kata yg  sering saya dengar dan lihat:</p>
<p>1. Indonesia adalah negeri 1001 bencana<br />
2. Tuhan sedang murka dan menegur kita lewat bencana<br />
3. Pemerintah bergerak lambat dalam penanggulangan bencana<br />
4. Masyarakat tidak kooperatif dengan himbauan pemerintah<br />
5. LSM dan instansi swasta bergerak lebih cepat dalam menanggulangi bencana<br />
6. Bencana beruntun di Indonesia pertanda kiamat akan segera tiba</p>
<p>Sebetulnya,  wajar setiap orang membuat pernyataan. Begitu pun saya dan kamu, kita  bebas mengutarakan pendapat kita tentang apa pun berdasarkan pemahaman  kita. Tanpa bermaksud menyalahkan pernyataan di atas, saya ingin  berpendapat atas pendapat di atas.<span id="more-238"></span></p>
<p>Memang benar adanya  bahwa akhir-akhir ini kita melihat telah terjadi banyak sekali bencana  alam. Lalu apakah ini menunjukkan bahwa Tuhan sedang murka dan menegur  kita lewat bencana? Sebelum kita berusaha memahami lebih jauh, kita  mulai dari yang paling sederhana, definisi. Apakah itu bencana? Apakah  kejadian gunung meletus, gempabumi, tsunami, tanah longsor, dll itu  bencana? Dalam ilmu kebencanaan, suatu proses dikatakan bencana jika  mengakibatkan jatuhnya korban. Artinya, jika tidak mengakibatkan korban  jiwa maka tidak disebut sebagai bencana.</p>
<p>Indonesia adalah  negeri dengan 129 gunung api aktif, tempat bertemunya 3 lempeng tektonik  utama dunia, wilayah dengan garis pantai yang sangat panjang, negeri  dengan morfologi luar biasa beragamnya. Apakah kita sedang tinggal di  neraka? Terlalu awal untuk menilai. Mari kita lakukan perbandingan.  Gunung Merapi di Indonesia dan Gunung Etna di Italia. Dua gunung yang  masuk kategori paling aktif di dunia. Bahkan Etna di Italia bisa meletus  setiap tahun. Namun di sana, letusan gunungapi menjadi pertunjukan  alam, kreasi Tuhan yang mereka nikmati karena keindahannya. Teater alam  yang menyuguhkan pengalaman yang tidak terlupakan dan tidak terlukiskan  betapa menakjubkannya. Tidak ada korban karena letusannya, setidaknya  tidak menimbulkan bencana seperti apa yang terjadi di Merapi baru-baru  ini. Dua fenomena sama (letusan gunungapi) terjadi di tempat berbeda  mengakibatkan efek yang berbeda. Bencana tidak akan terjadi jika tidak  ada faktor kerentanan (vulnerability factor) atau bisa diimbangi dengan  kesiapsiagaan (capacity). Apakah faktor kerentanan itu? Hadirnya manusia  &amp; struktur buatan manusia karena kebutuhannya lah yang menyebabkan  adanya faktor kerentanan yang memungkinkannya terjadi bencana. Memang  benar, tanah yang subur di kaki gunungapi telah menarik perhatian  manusia untuk mengembangkan perekonomian mereka. Disadari bahwa  memanfaatkan kekayaan alam adalah hal yang tidak salah, di belahan bumi  mana pun ini terjadi. Namun akan menjadi bencana saat kita tidak  menyadari &amp; bersikap bahwa suatu saat gunung perlu meletus untuk  tetap menjaga manfaatnya.</p>
<p>Gempabumi dan tsunami, dinamika  alam lainnya yang pasti akan terus terjadi di negeri ini. Saya percaya  bahwa gempabumi dan tsunami tidak membunuh. Bangunan dan infrastruktur  buatan manusia sendiri yang menyebabkan jatuhnya korban saat terjadi  gempabumi. Pengikisan terumbu karang dan berkurangnya jalur hijau di  sekitar pantai karena aktivitas dan meningkatnya hunian manusia di  daerah pantai rawan tsunami juga menjadi senjata makan tuan dimana  gelombang tsunami bisa leluasa sampai di darat tanpa tercacah terlebih  dahulu dan pada akhirnya mengakibatkan bencana.</p>
<p>Sampai  sini rasanya saya malu sekaligus tidak rela jika negeri kita disebut  negeri 1001 bencana. Yang berarti negeri dengan faktor kerentanan yang  tinggi. Kita tidak bisa menghentikan gunung agar tidak meletus, kita  juga tidak bisa menghentikan gempa bumi, tsunami, dan dinamika alam  lainnya. Yang bisa kita lakukan adalah membangun kapasitas dalam  mengurangi faktor kerentanan. Kita tidak perlu menghentikan dinamika  alam. Seperti hujan, biarkan terjadi, nikmati romantisme karenanya tapi  jangan sampai menjadi bencana banjir.</p>
<p>Saya juga meyakini  bahwa Tuhan tidak melulu murka lewat dinamika alam seperti gunung  meletus, gempabumi, tsunami, dll. Coba dipikirkan dengan logika  sederhana saja, dinamika alam ini sudah terjadi ribuan bahkan jutaan  tahun (lewat taksiran carbon dating) sebelum manusia dihadirkan Tuhan ke  bumi. Dinamika ini terjadi bukan setelah kita hadir di bumi. Oleh  karenanya, kita lah yang seharusnya beradaptasi dengan dinamika alam  ini. Saya memandang bahwa dinamika alam ini perlu terjadi untuk  keseimbangan yang sebetulnya untuk menjadi manfaat bagi manusia. Nasi  yang kita makan setiap hari, air mineral yang kita minum, rumah yang  kita bangun dengan pasir, tanah yang subur untuk pertanian, kekayaan  mineral yang dekat ke permukaan, lansekap bumi yang indah, uang yang  kita hasilkan dari pekerjaan (petani, ilmuwan, wartawan, polisi,  tentara, hansip, dokter, dll) adalah sebagian manfaat yang kita nikmati  karena adanya letusan gunungapi. Jutaan lowongan pekerjaan hadir karena  adanya dinamika alam. Dipungkiri atau tidak, kita bisa bertahan hidup  tidak lepas dari dinamika alam ini.</p>
<p>Saya percaya dengan  apa yang telah terjadi akhir-akhir ini karena rasa sayangNya yang  teramat besar untuk bangsa Indonesia. Letusan gunungapi hanya menyita  waktu nyaman manusia beberapa hari saja dibanding manfaatnya yang akan  dinikmati bertahun-tahun ke depan. Kalau saat ini Tuhan memberi kita  ujian dengan adanya korban jiwa, saya percaya Tuhan ingin kita &#8220;naik  kelas&#8221;. Filosofi sederhananya, tanpa ujian maka anak sekolah tidak akan  naik kelas. Dari sana lah kita akan belajar, mengubah paradigma,  menjadikan dinamika alam sebagai hal yang dinikmati ketimbang  mengakibatkan bencana.</p>
<p>Di televisi, di obrolan dengan  teman, di wall facebook saya mendengar beberapa orang mengkritik  penanggulangan bencana di Indonesia. Kritik, idealnya menjadi titik nol  dimana ke depan kita semua (bukan hanya pemerintah) membangun  kesiapsiagaan (kapasitas) secara mandiri. Menumpahkan kekecewaan dan  menyalahkan tanpa mengaktualisasikan dalam bentuk aksi tidak akan ada  manfaatnya.</p>
<p>Kita adalah bangsa yang sedang belajar.  Penelitian kebencanaan di Indonesia terus dan terus berkembang. Bahkan  pengamatan gunungapi di Indonesia dimonitor kontinyu (24 jam sehari).  Rekomendasi teknis pun dikaji dalam hitungan jam. Namun, sesuai dengan  porsinya, peneliti bukanlah pengambil keputusan dan pelaksana di  lapangan. Tugas peneliti pada akhirnya hanya memberi rekomendasi dari  hasil penelitiannya. Ujung tombak, pengambil keputusan dan pelaksana di  lapangan adalah pemerintah daerah setempat dan pada akhirnya setiap  individu itu sendiri.</p>
<p><a href="http://kopisantan.files.wordpress.com/2010/11/risk.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-239" title="risk" src="http://kopisantan.files.wordpress.com/2010/11/risk.jpg?w=510" alt=""   /></a></p>
<p>Sikap proaktif harus terus dibangun,  jangan menunggu tapi mengejar. Menjadi pemandangan umum dimana beberapa  orang maupun kelompok memberikan bantuan berupa pakaian, makanan, dll  pasca bencana terjadi. Ini memang hal yang sangat mulia. Namun akan  semakin sempurna jika kita bersama memberi kontribusi sebelum bencana  itu terjadi. Dapat berupa sosialisasi ke pelosok-pelosok daerah dimana  informasi akan kebencanaan sangat minim atau bahkan tidak ada.  Pemerintah setiap tahun melakukan sosialisasi ke pelosok-pelosok daerah  yang memiliki potensi bencana. Namun luasnya negeri ini, membuka peluang  bagi perorangan ataupun kelompok untuk ikut bersama membangun  kesiapsiagaan masyarakat Indonesia. Bukan sekedar lewat himbauan &amp;  kata-kata bijak tanpa implementasi.</p>
<p>Terakhir, mengenai  wacana beberapa orang yang masih percaya bahwa bencana yang saat ini  kerap terjadi adalah pertanda kiamat, saya tidak mau mengatakan itu  benar atau salah. Utamanya karena saya tidak tahu kapan kiamat akan  terjadi. Saya pribadi tidak mau sibuk memikirkan itu karena pada  akhirnya itu akan tetap menjadi rahasia Tuhan. Yang nyata adalah bahwa  letusan gunungapi akan terus terjadi, gempabumi dan tsunami akan terus  terjadi, begitu pula dengan dinamika alam lainnya. Tugas kita adalah  meningkatkan kesiapsiagaan dan kapasitas kita sehingga dinamika alam  yang terjadi tidak lagi menimbulkan bencana tapi hanya akan menjadi  pertunjukkan alam yang kita nikmati bersama.</p>
<p id="profile_name"><a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=460248216840#!/dksyahbana?v=info">Devy Syahbana</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kopisantan.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kopisantan.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kopisantan.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kopisantan.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kopisantan.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kopisantan.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kopisantan.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kopisantan.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kopisantan.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kopisantan.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kopisantan.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kopisantan.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kopisantan.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kopisantan.wordpress.com/238/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kopisantan.wordpress.com&amp;blog=14647606&amp;post=238&amp;subd=kopisantan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kopisantan.wordpress.com/2010/11/12/tentang-bencana-yang-terjadi-akhir-akhir-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1117343c9348fcac2188a3f240f88c95?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kopisantan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kopisantan.files.wordpress.com/2010/11/risk.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">risk</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Algoritma Cangkang Kerang dan Borobudur!</title>
		<link>http://kopisantan.wordpress.com/2010/11/02/algoritma-cangkang-kerang-dan-borobudur/</link>
		<comments>http://kopisantan.wordpress.com/2010/11/02/algoritma-cangkang-kerang-dan-borobudur/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Nov 2010 19:33:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hokkys</dc:creator>
				<category><![CDATA[BUDAYA]]></category>
		<category><![CDATA[FILSAFAT]]></category>
		<category><![CDATA[POLITIKA]]></category>
		<category><![CDATA[PUSTAKA]]></category>
		<category><![CDATA[SAINS & TEKNOLOGI]]></category>
		<category><![CDATA[arsitektur vernakular]]></category>
		<category><![CDATA[borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[cellular automata]]></category>
		<category><![CDATA[fractal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kopisantan.wordpress.com/?p=227</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai sebuah negeri di kawasan khatulistiwa, yang luas lautannya lebih besar daripada luas daratannya, di Indonesia terdapat luar biasa banyaknya jenis kerang-kerangan laut. Warnanya  pun bermacam-macam. Pola pigmentasi kulit kerang laut sangat indah, kompleks! Setiap kali kita bermain-main di tepi pantai di kawasan nusantara yang masih asri, kita akan takjub memperhatikan goresan-goresan lukisan alam di <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kopisantan.wordpress.com&amp;blog=14647606&amp;post=227&amp;subd=kopisantan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.youtube.com/watch?v=ckdlhPhf4xk"><img class="aligncenter" title="BOROBUDUR" src="http://qact.files.wordpress.com/2010/10/borbud.jpg?w=300&#038;h=203" alt="" width="300" height="203" /></a></p>
<p><em>Sebagai sebuah negeri di kawasan khatulistiwa, yang luas  lautannya lebih besar daripada luas daratannya, di Indonesia terdapat  luar biasa banyaknya jenis kerang-kerangan laut. Warnanya  pun  bermacam-macam. Pola pigmentasi kulit kerang laut sangat indah,  kompleks! Setiap kali kita bermain-main di tepi pantai di kawasan  nusantara yang masih asri, kita akan takjub memperhatikan  goresan-goresan lukisan alam di kulit kerang yang indah sekali.  Goresan-goresan sederhana yang hasilkan pola yang luar biasa kompleks,  yang ketika di-implementasi pada bangun 3-dimensi menguak takdir  kompleksitas bangunan kuno candi Borobudur!</em> <img title="More..." src="http://qact.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" /><span id="more-227"></span></p>
<p>Lukisan maestro manapun, rasanya, tak mudah menandingi bentuk  &#8220;lukisan abstrak&#8221; di kulit kerang-kerangan laut itu. Sebagai contoh  adalah lukisan indah pada cangkang kerang <em>Cymbiola Innexa</em> berikut ini, yang beberapa waktu lalu diberikan oleh salah seorang kawan  yang baru melancong di kawasan Bali dan Lombok.  Terdapat bentuk dan  pola segitiga-segitiga yang seolah acak, tapi sebentar mengamatinya kita  seolah gampang menemukan polanya.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img title="Kerang Cymbiola Lombok" src="http://qact.files.wordpress.com/2010/10/cymbiola.jpg?w=300&#038;h=153" alt="Kerang Cymbiola dari Lombok" width="300" height="153" /><p class="wp-caption-text">Kerang Cymbiola dari Lombok</p></div>
<p>Jika  pelukis Renaissance perlu menggambar pola dasar, melalui penentuan  garis horizon, tempat ia nanti melukis obyek-obyek lukisan sesuai aturan  perspektif sehingga memunculkan &#8220;realitas&#8221; baru dari dalam lukisannya,  bagaimanakah alam melukis kulit cangkang seekor kerang? Tak ada dua  cangkang kerang yang sama persis, tetapi mata kita gampang membedakan  antara dua spesies kerang hanya dengan memperhatikan pola gambar dan  ornamentasi cangkangnya.</p>
<p>Alkisah, matematikawan dengan kontribusi interdisiplin, John von  Neumann (1903-1957) menawarkan sebuah model komputasi yang dapat  menunjukkan bahwa tak semua pola yang sangat kompleks lahir dari sistem  yang bekerja secara rumit pula. Ia menawarkan model bernama Otomata  Selular: sebuah model yang menunjukkan bagaimana aturan sederhana  (sel-sel berbentuk kotak-kotak) yang jika disusun dengan aturan  sederhana dapat memberikan pola kompleks yang luar biasa. Adalah Stephen  Wolfram, seorang fisikawan yang juga berkontribusi lintas disiplin,  mulai dari sains, ilmu komputer, hingga ekonomi, secara berani  mengakuisisi model otomata selular ini dalam mencoba menggagas  implementasi luas dari proposal von Neumann tersebut. Otomata selular,  ketika diterapkan dalam banyak lapangan studi, berpotensi memberikan  kita sebuah ilmu baru, <em>a new kind of science</em>, yang menjelaskan bahwa kompleksitas yang kita lihat sehari-hari, misalnya pola lukisan alam di cangkang kerang.</p>
<p><a href="http://mathworld.wolfram.com/CellularAutomaton.html">Otomata selular</a> merupakan sebuah &#8220;dunia&#8221; kotak-kotak yang selalu di-<em>update </em>secara  dinamis dengan aturan-aturan tertentu yang sebenarnya sangat sederhana.  Misalnya, jika ada 2 kotak berwarna (hitam), maka kotak tersebut akan  berubah warna atau tetap dengan warna itu&#8230; demikian serterusnya.  Sebagai contoh, mari kita lihat gambar di bawah ini. Otomata selular ini  berubah secara dinamis dengan memperhatikan apakah diisi atau tidaknya  di lapisan iteratif sebelumnya sesuai dengan tumbuh membesarnya cangkang  hewan lunak (<em>mollusca</em>) di laut. Gambar berikut menunjukkan aturan sederhana ber-kode 30 Otomata Selular Elementer 1D yang memunculkan pola pigmentasi kerang-kerangan Cymbiola Innexa yang sangat kompleks itu&#8230;</p>
<p style="text-align:center;"><img class="    aligncenter" title="Aturan31OSElementer" src="http://qact.files.wordpress.com/2010/10/ca_cangkang_rule30small.gif?w=300&#038;h=305" alt="" width="300" height="305" /></p>
<p>Dengan  menerapkan aturan sederhana pada gambar di atas, pola kompleks yang  mirip sekali dengan lukisan di cangkang kerang Cymbiola Innexa pun  muncul. <em>Ya</em>, alam tak punya penggaris dalam melukis pola-pola  konfigurasi struktur terlokalisasi yang tergambar pada cangkang  kerang-kerangan. Yang ada adalah konsentrasi molekul-molekul pigmen  dalam rongga-rongga kalsium karbonat yang menyusun cangkang. Jika secara  sederhana kita modelkan terisinya sekotak rongga sebagai &#8220;1&#8243; sementara  jika tak terisi sebagai &#8220;o&#8221;, maka dengan mengikuti aturan ber-nomor  indeks 30 otomata selular sederhana (elementer), pola ragam hias alamiah  cangkang kerang yang rumit akan muncul. Ilmuwan biologi modern banyak  memodelkan hal pigmentasi kerang dengan model otomata selular ini,  bahkan telah menggunakan pendekatan yang memper-umum-kan <a href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2829821/">pola algoritmik dari komposisi ragam hias alamiah cangkang kerang</a>. Dalam buku fenomenalnya, <a href="http://www.wolframscience.com/nksonline/toc.html"><em>A New Kind of Science</em></a>, Wolfram nemunjukkan potensi besar dari akuisisi otomata selular dalam menjawab pertanyaan besar ilmu hayat ini.</p>
<p>Menariknya, pendekatan ini dapat pula kita gunakan untuk melihat  kompleksitas yang luar biasa dari candi Buddha Mahayana terbesar di  Indonesia, peninggalan abad ke-8, ketika Dinasti Syailendra menjadi tuan  rumah di peradaban Nusantara. Nenek moyang kita sangat cerdas meniru  cara alam bekerja. Tak punya sistem metrik yang sangat canggih &#8211; yang  tentunya adalah hal paling penting dalam melukis, apalagi membangun  sebuah mega-struktur seperti candi &#8211; namun dengan meng-akuisisi teknik  proses kerja dari aturan sederhana untuk hasilkan pola arsitektur  kompleks, maka Borobudur pun dibangun. Gambar berikut tunjukkan bagaimana Otomata Selular 2D aturan 816 yang memunculkan pola mirip simplifikasi bangunan candi Borobudur&#8230;</p>
<p style="text-align:center;"><img class="   aligncenter" title="otomata-selularDANborobudur" src="http://qact.files.wordpress.com/2010/10/ca-bor-small.gif?w=300&#038;h=146" alt="" width="300" height="146" /></p>
<p>Itu  mungkin sebabnya mengapa &#8211; sama seperti cangkang kerang tak pernah ada  yang sama, namun mirip &#8211; candi-candi yang tersebar di Sumatera, Jawa,  hingga Bali, tak ada yang sama persis, namun punya &#8220;karakter&#8221; unik yang  membuat kita seolah mudah meng-identifikasinya bahkan membuat  klasifikasi-klasifikasi arsitektur vernakular. Bayangkan <a href="http://cogprints.org/7066/">Borobudur sebagai sebuah hasil tumpuk-tumpukan blok-blok batu</a> yang ditempatkan dengan aturan-aturan sederhana seperti halnya alam  mengisi struktur biokimia rongga-rongga molekul cangkang kerang dengan  pigmen, maka pola kompleks dalam wujud 3-dimensional pun hadir.</p>
<p>Sebuah teknik ber-geometri yang aneh, dari sudut pandang sains modern.  Sebelumnya pola serupa ini telah pula ditunjukkan pada <a href="http://qact.wordpress.com/2009/02/24/fraktal-di-batik-jawa-ketika-sains-dan-tradisi-saling-menginspirasi/">geometri motif kain tradisional Indonesia</a>:  batik. Matematikawan, Benoit Mandelbrot (1924-2010) memformalkan teknik  geometri unik ini dengan sebutan &#8220;fraktal&#8221;. Rilis video berikut ini  bercerita lebih detail tentang Borobudur, geometri fraktal, dan Otomata  Selular&#8230;</p>
<span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://kopisantan.wordpress.com/2010/11/02/algoritma-cangkang-kerang-dan-borobudur/"><img src="http://img.youtube.com/vi/ckdlhPhf4xk/2.jpg" alt="" /></a></span>
<p>Jika motif cangkang kerang adalah adikarya alam 2-dimensi, maka  Borobudur adalah adikarya budaya nusantara 3-dimensi. Sungguh  membanggakan menjadi pewaris teknologi kuno hebat ini, dan sungguh  meng-inspirasi dalam hidup yang sangat kompleks ini!</p>
<p><strong>Tautan Penelitian untuk Dirujuk Lebih Lanjut:</strong></p>
<ul>
<li>Boettiger, A. N. &amp; Oster, G. (2009). &#8220;<a href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2829821/">Emergent complexity in simple neural systems</a>&#8220;. <em>Communicative &amp; Integrative Biology</em> 2 (6): 467-70. Landes Bioscience.</li>
</ul>
<ul>
<li>Situngkir, H. (2010). &#8220;<a href="http://cogprints.org/7066/">Exploring Ancient Architectural Designs with Cellular Automata</a>&#8220;. <em>BFI Working Paper Series</em> WP-9-2010. Bandung Fe Institute.</li>
</ul>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kopisantan.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kopisantan.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kopisantan.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kopisantan.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kopisantan.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kopisantan.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kopisantan.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kopisantan.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kopisantan.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kopisantan.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kopisantan.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kopisantan.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kopisantan.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kopisantan.wordpress.com/227/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kopisantan.wordpress.com&amp;blog=14647606&amp;post=227&amp;subd=kopisantan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kopisantan.wordpress.com/2010/11/02/algoritma-cangkang-kerang-dan-borobudur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6ace328fe89a4922f1e1abbc90c5e76d?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hokkysitungkir</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2010/10/borbud.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">BOROBUDUR</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" medium="image">
			<media:title type="html">More...</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2010/10/cymbiola.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kerang Cymbiola Lombok</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2010/10/ca_cangkang_rule30small.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Aturan31OSElementer</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2010/10/ca-bor-small.gif" medium="image">
			<media:title type="html">otomata-selularDANborobudur</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
