Berdemokrasi Secara Realistis

Ada kesan kegamangan ketika memandang masa depan demokrasi di Indonesia. Kita tetap meyakini demokrasi adalah pilihan terbaik.  Namun argumen  seperti “demokrasi kita masih bersifat prosedural”, ”pemilih kita belum rasional”  makin sering terdengar.  Kegamangan tersebut sering kali bermula dari penolakan atas realita proses demokrasi itu sendiri.

googlebook demokrasi

Gambar 1: (atas):kilasan wacana demokrasi di media massa; (bawah): kecenderungan penggunaan kata democracy, monarchi, oligarcy dan autocracy dalam 5.2 juta buku yang telah didigitalisasi oleh google sampai tahun 2008. Terlihat adanya persilangan antara wacana demokrasi dan monarki di akhir abad ke-19. Setelah itu demokrasi menjadi wacana yang dominan di kalangan intelektual.

Baca lebih lanjut

Polarisasi dalam demokrasi: dari ajang Idol-an ke Pemilu

Idealnya demokrasi berdiri di atas dua kaki: keberagaman dan permusyawaratan, yakni di satu sisi adanya penerimaan akan kekhasan setiap individu, dan di sisi lain adanya kesadaran dan upaya terstruktur untuk memfasilitasi terjadinya pertukaran pemahaman dan pemikiran yang beragam sedemikian sehingga perbedaan cara pandang dapat termoderasi dengan baik. Dalam kenyataannya permufakatan yang tunggal sulit  terwujud. Demokrasi modern menjadikan voting sebagai jalan untuk mencapai kesepakatan. Baca lebih lanjut

Ramainya Pilpres 2014 di Twitter

capres1

Mungkin inilah saat pertama ketika percaturan politik kita sangat didominasi peran media sosial. Mungkin, saat ini pulalah jutaan akun media sosial menjadi sangat politis. Ketika panggung politik terbelah dalam dua arus kelompok elit politik menjadi kubu Jokowi-JK dan kubu Prabowo-Hatta, “specimen” media sosial pun “terbelah” dalam dua aras percakapan politis. Pesta demokrasi menjadi sangat media sosial, dan media sosial pun merayakan demokrasi pemilihan umum. Baca lebih lanjut

Pemilu 2014, pemilu paling “SocMed” (?)

Kemajuan teknologi informasi selalu mendorong terjadinya perubahan dalam dunia politik. Demikianlah yang terjadi, mulai dari ketika layar televisi menjadi panggung politik di era 60-an, sampai era media sosial dan internet seperti saat ini. Politik bukan lagi sekedar perdebatan di ruang parlemen maupun kesepakatan-kesepakatan gelap di balik panggung. Saat ini politik adalah hiburan warga melalui tayangan-tayangan debat di televisi, juga bahan percakapan yang seru dan menyenangkan di media sosial.

Di tahun 1969 kita mengingat John F Kennedy sebagai politisi pertama yang mendapat berkah atas penayangan debat kandidat presiden Amerika di televisi. Dan belum lama ini, dalam pemilu Amerika 2008,  kita juga menyaksikan bagaimana Barack Obama berhasil memanfaatkan media sosial sebagai medium kampanya yang sangat efektif untuk menjangkau pemilih muda Amerika. Keduanya sama-sama muda, relatif tidak terkenal awalnya, namun sukses menggapai kekuasaan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi. Mereka adalah ikon dari evolusi dunia politik. Baca lebih lanjut

MENGUKUR “SUHU” POLITIK JELANG PEMILU

Dinamika politik tidak dapat dipisahkan dari munculnya  konflik dan ketegangan antar elit politik. Dan istilah “suhu politik” sering kita gunakan untuk mendeskripsikan situasi tersebut.  Kita mengatakan suhu politik sedang tinggi pada saat elit politik saling menyerang,  bantah-membantah dan mulai membangun koalisi yang saling bermusuhan satu sama lain. Demikian pula sebaliknya. Persoalannya adalah bagaimana menjadikan istilah tersebut sebagai sebuah indikator yang terukur dan merepresentasikan kontelasi politik yang sedang berkembang.

nps Baca lebih lanjut

Wawasan Indonesia 2014


Beberapa tahun silam, Bandung Fe Institute merilis buku berjudul “Solusi untuk Indonesia“, sebuah buku yang ingin menampilkan potret hasil studi kompleksitas sosial yang dikerjakan oleh peneliti-penelitinya semenjak didirikan beberapa tahun sebelumnya. Seiring dengan bertambahnya waktu, topik studi-studi yang diemban oleh institut bertambah terus, dan implementasi dituntut. Masyarakat sendiri berkembang terus. Era reformasi adalah era dimana keterbukaan informasi menyambut dan dinamika opini berjalan menjadi sangat cepat. Kesadaran bahwa sistem sosial sebagai sistem kompleks yang perlu disikapi dalam kacamata kompleksitas pun meningkat. Begitu banyak paradoks, kontradiksi, ketaklengkapan, dan kebingungan ketika berbagai solusi dari ilmu-ilmu abad pencerahan Barat berusaha dijadikan landasan kebijakan dan kacamata memandang Indonesia. Baca lebih lanjut

Over-kompensasi sistem kompleks dan potensi munculnya kediktatoran baru!

Sistem organis sangat berbeda dengan sistem mekanik. Mobil bekas yang jarang dipakai memiliki harga jual yang lebih baik daripada yang sudah ratusan ribu kilometer dikendarai. Di sisi lain, otot atlet dan otak cendekia yang sering digunakan justru memiliki “harga jual” yang lebih baik daripada yang masih belum banyak “digunakan”.

Sistem mekanik aus dan rentan dengan kerusakan jika mendapat tekanan, benturan, gangguan saat digunakan. Sementara sistem organik seperti tubuh manusia justru makin kuat, hebat, dan kokoh saat mendapat stress, beban, dan gangguan saat “digunakan”. Inilah esensi kemampuan adaptif dari sistem kompleks.  Sebagaimana diungkap filsuf Friedrich Nietzsche yang sering dikutip, apapun yang tak membunuhnya, malah membuatnya makin kuat, kokoh, dan perkasa.

Dalam menghadapi benturan dan tekanan, sistem kompleks melakukan over-kompensasi, melipatgandakan antisipasi sistemik, bersiap untuk benturan atau tekanan lebih besar yang mungkin akan dialami berikutnya. Itulah sebabnya, berpuasa total untuk menurunkan berat badan bukanlah cara diet yang dianjurkan. Saat tubuh didera tekanan hebat dengan tiadanya makanan yang masuk, tubuh melakukan “persiapan” dengan mengurangi konsumsi energi saat beraktivitas. Baca lebih lanjut