Dunia Dua Titik Nol

Evolusi biologi dan teknologi memiliki pola yang sama. Ia tidak membentuk sebuah garis lurus, melainkan cenderung bersifat eksponensial. Apa artinya? Pada awalnya ia berkembang dengan sangat lambat, namun kemudian melaju dengan semakin cepat.

Coba kita cermati perkembangan kehidupan biologi. Perubahan molukel menjadi mahluk multisel membutuhkan waktu lebih dari 2 milyar tahun. Perkembangan multisel menjadi mamalia berlangsung sekitar 380 tahun. Selisih waktu kemunculan mamalia dan primata pertama sekitar 150 juta tahun. Evolusi primate tertua menjadi homo sapiens (manusia) hanya memakan waktu sekitar 55 juta tahun.

Pola ini diteruskan dalam proses evolusi teknologi. Raymond Kurzweil membeberkan fakta terjadinya aklerasi teknologi. Perkembangan teknologi pada abad ke-19 setara dengan jumlah kemajuan selama 10 abad sebelumnya. Penemuan dan inovasi 2 dekade awal abad ke-20 dapat disejajarkan dengan total perkembangan abad ke-19. Teknologi semakin progresif.

Tradisi ini berlajut dalam perkembangan teknologi komputasi. Gordon Moore menunjukkan bahwa kerapatan transistor dalam integrated circuit meningkat dua kali lipat setiap 24 bulan. Saat ini, komputer seharga 10 juta rupiah telah mampu melakukan lebih dari 1 juta instruksi setiap detik.

Manusia tidak hanya dibekali dengan perkakas pemprosesan canggih. Komputer, ponsel, kamera digital, dan perangkat teknologi yang kita gunakan sehari-hari telah mampu berkomunikasi satu sama lain.

Mengapa komunikasi antar perkakas begitu penting? Komunikasi membuat karya dari sebuah perkakas dapat ditranfer, diolah oleh perkakas lain dan menghasilkan kreasi baru. Representasi ide berkembang dengan semakin pesat. Intenet adalah media komunikasi antar perkakas yang terbesar.

Kolaborasi perkembangan kemampuan komputasi dan sistem komunikasi menghasilkan serangkain gelombang revolusi baru.

Pada era sebelumnya, teknologi pencarian dibuat berdasarkan struktur kategori yang berbentuk seperti ranting pohon. Untuk mencari buku sejarah DPR-RI, Anda harus menuju bagian ilmu sosial, lalu mencari kelompok ilmu politik, dan kemudian memeriksa rak buku politik dalam negeri. Cara lain adalah memfaatkan katalog warisan Dewey. Namun terkadang, ia jauh lebih menyulitkan.

Hari ini telah tersedia mesin pencari. Ia dibuat berdasarkan basis kategori yang keterhubungannya tidak berbentuk seperti ranting pohon. Anda tinggal memasukkan beberapa kata kunci. Mesin pencari, seperti google, membuat kita dapat menemukan sebuah berkas di antara milyaran berkas di internet. Proses yang mustahil dilakukan oleh teknologi pencarian klasik. Kita memasuki era teknologi pencari 2.0.

Di masa lampau, tidak ada tulisan yang demokratis. Jika tidak sependapat, Anda tidak dapat mengubahnya. Teknologi web 2.0 menghadirkan demokrasi digital. Jika memiliki pandangan yang berbeda, Anda dapat berkomentar atau bahkan mengubah tulisan tersebut. Web 2.0 membuat kolaborasi sukarelawan di Wikipedia menggoyang kemapanan pekerjaan professional di Encyclopedia Britannica. Fakta ini menunjukkan betapa dasyatnya kolaborasi yang bisa dihasilkan media online.

Proses pemprograman berubah. Dulu, program komputer dibuat mandiri. Hari ini, ia bisa dikerjakan secara kolaboratif. Inovator dengan sukarela membuka kode programnya. Kita tidak harus membuat sebuah program utuh. Anda dapat mengumpulkan material yang ada di internet, lalu mengkomposisikannya sesuai kebutuhan. Kita memasuki era pemprograman 2.0.

Bola perubahan terus bergulir. Ia berjalan keluar dari area murni teknologi komputasi dan informasi. Sistem sosial bereaksi terhadap gelombang tersebut.

Ilmu pengetahuan berubah. Grigori Perelman memperoleh Fields Medal (semacam nobel untuk matematika) tanpa mempublikasikan karyanya di jurnal ilmiah, yang merupakan standar masyarakat akademik. Pemikiran seorang anak kecil dimuat di jurnal matematika bergengsi. Ilmuwan dengan suka rela membuka catatan hariannya. Diskusi terbuka berlangsung sebelum karya tersebut selesai. Ia dapat diakses semua orang, tidak lagi didominasi oleh kelompok elit universitas. Ini adalah gelombang sains 2.0. Sebuah gelombang yang menggeser kemapanan birokrasi ilmu pengetahuan (akreditas, gelar, cum, jenjang karier, universitas elit, dan sebagainya).

Bagaimana dengan dunia mode? Saat ini, Anda datang ke toko dan membeli pakaian dari pilihan yang telah disediakan. Tak lama lagi, setiap orang bisa menjadi desainer untuk dirinya sendiri. Kita dengan mudah dapat membuat desain sendiri, lalu pakaian itu akan tiba di rumah. Fashion 2.0 menjadi topik utama komunitas fashion di New York semenjak pertengahan 2009. Gelombang ini akan mengubah sistem produksi, mulai dari tata letak pabrik, rantai pasok, hingga pergudangan.

Bagaimana dengan sistem politik? Selama ini, ilmu politik terkungkung dalam pemikiran demokrasi perwakilan. Demokrasi langsung ala Yunani dianggap naif karena hambatan ruang. Lanskap digital mengurangi hambatan tersebut. Ilmuwan politik berspekulasi tentang tata perpolitikan baru, demokrasi 2.0. Ide ini mungkin terlalu ekstrem. Namun setidaknya, proses representasi, aspirasi dan teknik kampanye sepertinya akan berubah. Petisi online, seperti kasus penolakan publik atas diblokirnya sejumlah situs tertentu, menjadi model alternatif penyaluran aspirasi.

Kita memasuki fase eksposif perubahan dunia. Jangan terkejut jika lahir musisi besar yang tidak melewati industri musik sama sekali. Jangan heran jika lahir karya-karya jenius dari individu di tempat terpecil. Pengetahuan tidak lagi terlokalisasi di universitas dan pusat-pusat penelitian.

Dunia berubah semakin cepat. Sistem pendidikan nasional harus disiapkan. Generasi muda harus belajar menulis sejarah dengan memanfaatkan perkakas canggih yang ada disekitarnya. Budaya tradisi harus dilestarikan dengan cara-cara yang tidak tradisional. Seluruh sistem produksi mental bangsa harus dimobilisasi menyambut kedatangan dunia 2.0.

Rolan M. Dahlan, Peneliti Dept. Ekonomi Evolusioner, Bandung Fe Institute

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: