Setelah TDL, berharap angka inflasi berada di bawah 6%

Awal Juli ini kita memasuki semester baru dalam roda kehidupan publik. Sebagian besar keluarga di tanah air secara rutin melihat Juli sebagai bulan yang penuh pengeluaran karena saat inilah anak-anak mulai libur sekolah, yang tentunya terkadang perlu liburan meski perlu pula menjadi was-was, karena begitu semester dan tahun ajaran baru dimulai pasca libur, maka peluang untuk mengeluarkan dana lebih, juga muncul. Juli dan pra Agustus pada tahun ini juga unik dan menyimpan was-was karena tahun ini Ramadhan 1431H dimulai di minggu kedua Agustus – sebuah alarm yang secara rutin mendongkrak harga-harga barang konsumsi di tengah masyarakat.  Hal-hal inilah yang secara seasonal dan mikro menjadi sumber ke-tak-linier-an pasar.

Namun, kebijakan untuk mencabut subsidi energi listrik dipilih untuk dilakukan pemerintah atas alasan bahwa kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) di awal bulan Juli (yang sedikit banyak tentu sudah mempengaruhi)  kenaikan inflasi bulan yang mencapai angka 5.05%. Perhitungan akan prediksi inflasi yang akurat tentu sangat diperlukan oleh pemerintah dalam rangka menyiapkan berbagai macam skenario yang dapat diambil.

Berdasarkan data (yang terbatas) yang diumumkan oleh Bank Indonesia, kita menerapkan analisis statistik non-parameterik dengan menggunakan jaring saraf buatan untuk melihat proyeksi angka inflasi Juli (yang nantinya akan diumumkan per Agustus 2010). Analisis non-parameterik ini dipilih mengingat data inflasi merupakan sebuah besaran dengan frekuensi yang relatif jauh lebih rendah dari pergerakan pasar modal, misalnya; di samping availibilitas data yang memang terbatas. Di sini kita melihat bahwa pada dasarnya inflasi dalam keadaan menaik di pertengahan tahun ini. Hasil proyeksi menunjukkan bahwa inflasi per Juli 2010 pada dasarnya dalam rentang 5.3% hingga 5.7% diikuti dengan proyeksi di bulan berikutnya 5.8% hingga 6%.

Perlu kita perhatikan di sini bahwa dalam pengambilan kebijakan, naik-turun inflasi ini terkait pada seasonalitas yang endogen di dalam data. Tahun ajaran baru dan momentum jelang puasa merupakan saat-saat rutin yang rentan akan kontraksi pasar. Langkah aman dalam memperhatikan proyeksi ini adalah melalui nilai batas atasnya. Di sini kita melihat bahwa per Juli, inflasi diproyeksikan dapat mencapai batas atas 5.7% dan dalam pathways menuju 6% pada bulan berikutnya. Kita perlu mencatat bahwa proyeksi kita semata-mata memperhatikan endogenitas di dalam data itu sendiri; eksternalitas seperti TDL yang bercampur dengan momentum seasonal tentunya dapat berbicara lain dan menggelembungkan nilai batas atas inflasi ini – dan sekaligus menjadi kelemahan dalam tiap model prediktif serupa. Ini yang perlu kita waspadai. Semoga inflasi masih bisa berada tetap di bawah angka 6%…

Hokky S. (Dept. Computational Sociology, BFI)

  1. Juli 24th, 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: