Refleksi Atas Sengketa Tari Pendet

Iklan pariwisata Malaysia, yang menggunakan Tari Pendet dari Bali, menuai kontroversi. Dari data yang ada, ini adalah kasus persengketaan budaya yang ke-21 dengan pihak Malaysia.

Masyarakat bereaksi keras. Terjadi kekisruhan hebat antar warga negara, khususnya di dunia maya. Pihak DPR menilai ini terjadi karena pihak eksekutif lalai mendaftarkan HAKI artefak budaya dan lamban melakukan proses inventarisasi. Sejumlah anggota DPR bahkan bereaksi lebih keras lagi: jika perlu Dubes Malaysia dipulangkan.

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata mengecam dan mengirimkan surat teguran keras. Departemen Luar Negeri terus berupaya mengklarifikasi dengan pihak Malaysia.

Hal ini hendaknya dilihat dengan arif dan bijaksana. Tindakan reaktif penting. Namun, ia tidak akan menyelesaikan akar permasalahan.

Artikel ini berupaya untuk membedah latar belakang peristiwa ini. Mengapa kasus-kasus ini terus terjadi berulang-ulang dengan intensitas yang meningkat? Diskusi ini juga berupaya mengkaji sejumlah langkah strategis menyikapi kecenderungan tersebut.

Ekonomi Kreatif

Sistem ekonomi berevolusi. Situngkir (2009) dalam publikasinya di Journal of Knowledge Management membagi 3 fase evolusi sistem ekonomi, yaitu: “ekonomi berbasis manufaktur”, “ekonomi berbasis teknologi” serta “ekonomi berbasis inovasi dan kreativitas”.

Teknologi telah berdifusi begitu luas. Misalnya kemampuan membuat ponsel, ia tidak lagi didominasi oleh negara maju. China, Korea Selatan, India, dan negara-negara lain juga telah mampu menguasainya teknologi ponsel. Persaingan teknologi meningkat pesat.  Hal ini mendorong harga (hardware) produk teknologi, khususnya information technology, terus menurun.

Permasalahanya sekarang tidak lagi berpusat pada teknologi tetapi bagaimana mengisinya (content technology). Difusi teknologi dan persaingan global menyebabkan pergeseran sistem ekonomi dari “berbasis teknologi” menjadi “berbasis inovasi dan kreativitas”. Google, Facebook, Wikipedia dan Youtube tidaklah begitu superior dari sisi teknologi, tetapi memiliki muatan yang penuh inovasi dan kreativitas.  Kita tengah bergerak menuju sebuah era baru, evolusi ketiga dalam sistem ekonomi.

Situngkir (2009) kemudian menunjukan bahwa tingkat keragaman, baik diversitas pasar maupun diversitas produk, adalah faktor kunci di era baru tersebut. Keragaman budaya Indonesia adalah sumber inspirasi produk kreatif ekonomi. Artefak-artefak budaya tradisional, yang pada tadinya dianggap tidak bernilai, menjadi sangat berharga. Hal ini terefleksikan pada langkah Adidas yang memanfaatkan batik sebagai motif batik dalam jaket, baju dan sepatu dalam program “materials of the world”.

Tren global memaksa setiap pihak untuk terus bergerak mencari sumber-sumber inovasi baru. Hal inilah yang menyebabkan sengketa kepemilikan budaya terus terjadi berulang-ulang dengan intensitas yang semakin tinggi akhir-akhir ini. Persaingan global ke depan tidak hanya akan dipenuhi konflik SDA dan SDM semata, tetapi juga sengketa perebutan sumber daya budaya. Ini adalah dimensi perperangan dan kompetisi dalam tren sosial ekonomi yang baru.

Langkah Strategis

Dahlan dan Situngkir (2009) menunjukkan adanya tiga faktor kunci dalam proses revitalisasi budaya Indonesia, di era baru ini, yaitu perlindungan hukum, penelitian dan inovasi ekonomi. Tiga titik ini hanya dapat berjalan efektif dan efisien jika ditunjang dengan basis data yang baik.

Langkah pertama adalah inventarisasi kekayaan budaya bangsa. Namun perlu diingat, Indonesia sangat kaya akan diversitas. Ada jutaan artefak budaya di bumi pertiwi. Metode pendataan konvensional menjadi tidak efektif. Ia membutuhkan biaya yang sangat tinggi. Upaya Inisiatif Budaya Kepulauan Indonesia (IBKI) yang melakukan proses pendataan dengan memanfaatkan teknologi web 2.0 dan partisipasi publik adalah alternatif baru yang menarik.

Langkah kedua adalah perlindungan hukum. Maraknya klaim pihak asing terhadap artefak kebudayaan Indonesia harus disikapi serius. Tiga konsep hukum yang tersedia saat ini, yaitu HAKI konvensional, WIPO dan GPL, sepertinya tidak cukup mampu menjawab. Kita memerlukan sejumlah terobosan hukum baru.

Langkah ketiga adalah penelitian. Kita tidak boleh memandang ekonomi kreatif sebagai produk seni semata.  Evolusi ketiga sistem ekonomi ini lahir akibat “kejenuhan” teknologi. Inovasi dan kreativitas ditujukan untuk mengisi muatan (content) teknologi agar tidak terjadi kejenuhan. Produk kreatif idealnya lahir dari hubungan sinergis antara kekayaan budaya (sebagai sumber kreativitas) dan teknologi. Penelitian “fisika batik” yang melahirkan peluang pembangkitan pola dan motif-motif baru adalah salah satu contoh bentuk sinergisasi tersebut.

Langkah keempat adalah inovasi ekonomi. Data PBB tahun 2006 menjukkan bahwa Indonesia memiliki diversitas pasar yang sangat baik, tetapi lemah dalam diversitas produk. Inovasi ekonomi seyogyanya diarahkan untuk menjawab permasalahan ini. Pengrajin kita telah memulainya. Batik tidak lagi ditampilkan dalam media kain semata, melainkan menjadi sandal, sepatu, kaos dan lain sebagainya. Ini patut untuk kita apresiasi.

Penutup

Sengketa Tari Pendet seyogyanya menjadi wahana refleksi. Ia menunjukan datangnya sebuah gelombang baru, yaitu “ekonomi berbasis inovasi dan kreativitas”. Pada fase ini, keragaman budaya bangsa menjadi modal penting yang harus diberdayakan. Untuk itu ada empat langkah strategi yang harus kita lakukan, yaitu inventarisasi, perlindungan hukum, penelitian dan inovasi ekonomi. Sekarang bukanlah saatnya untuk saling menyalahkan atau sekedar membela diri, tetapi melakukan langkah nyata.

Rolan M. Dahlan, Peneliti Dept. Ekonomi Evolusioner, Bandung Fe Institute.

  1. Yup, betul. Mencari kambing hitam tidak menyelesaikan masalah. Apalagi kalau debat berkepanjangan tentang siapa yang salah, bisa-bisa substantinya bisa kabur. Kasus tari pendet memang seyogyanya membuka mata kita betapa memelihara apa yang kita miliki itu sangat penting.
    🙂 Salam,

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com/
    http://notulabahasa.com/

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: