Perempuan—Wanita—Vice Versa

Balinese Tukang Suun

Tukang Suun Bali, Life Magazine 13 Feb 1950

Ini posting pertama saya. Jadi mohon maaf sebelumnya bila tak menjadikan perkenan di hati Anda. Sekian basa-basi saya. Sekarang waktunya cerita. Cerita lama.

Suatu waktu, sebelum ‘Kementerian Pemberdayaan Perempuan’ ditambah-tambahi ‘dan Perlindungan Anak’, seorang kawan pernah bilang—dengan seijinnya, ijinkan saya mengutip kata demi kata dari surelnya—:

Aktivis wanita di dekade 1950an mengunokan kelaziman kata ‘perempuan’. Jadilah Menteri Urusan Peranan Wanita. Aktivis perempuan di dasawarsa 1990an mengunokan kelaziman kata ‘wanita’. Jadilah Menteri Pemberdayaan Perempuan.

‘Sotoi, lo,’ spontan saya bilang. ‘Orang baru lahir tahun 1980an, juga?’ Dan tak lama kemudian, dia susulkanlah surel tambahan.

Untuk yang dekade 1950an, dia singgung pernyataan Nj. H. Ratu Aminah Hidajat pada satu sesi sidang Konstituante dalam mana Nj. Hidajat adalah anggauta dari Fraksi I.P.K.I. Dalam notulen sesi ini, Nj. Hidajat menerjemahan Pasal 16 Ayat 1 International Bill of Rights[1] yang beliau usulkan masuk konstitusi:

“Orang-orang dewasa baik laki-laki maupun perempuan dengan tidak dibatasi oleh kebangsaan dan kewarganegaraan atau agama berhak untuk mentjari djodoh dan untuk membentuk keluarga. Mereka mempunjai hak jang sama dalam soal perkawinan dan pada waktu pertjeraian.”[2:1745]

Butir ini tidak serta-merta diiyakan Nj. Ibrahim Siti Ebong, sesama anggota Konstituante dari Fraksi Masjumi. Menurut Nj. Ebong, kalau terjemahan Nj. Hidajat diiyakan, lantas bagaimana nasib, misal, poligini? Dan perdebatan pun bergulir ke arah mensekulerkan perkawinan atau tidak sama sekali—dan sekian tahun setelahnya kita tahu, ada versi catatan sipil dan ada versi KUA untuk acara kawin mawin, kendati soal ini tak masuk konstitusi dan jelas tak relevan dengan posting ini.

Yang ingin lebih dikemukakan kawan saya adalah sambungan respon Nj. Ebong. Masih dalam sesi sidang yang sama, beliau mengomentari penerjemahan Nj. Hidajat sebagai berikut:

“Laki-laki dan perempuan (djadi belum dipakai kata wanita, Saudara Ketua) jang telah tjukup umur dengan tiada pembatasan apapun berdasarkan bangsa, kebangsaan (kewarga-negaraan) atau agama, berhak akan kawin dan membentuk keluarga.”[2:1751][cetak miring ditambahkan blogger]

Ah-ha! Nj. Ebong mengunokan pemakaian kata perempuan oleh Nj. Hidajat.[3] Itulah yang ingin ditunjukkan kawan saya. Tuché!

Adalah tak kalah uniknya ketika kawan ini menyodorkan kutipan dari kurun setengah abad kemudian:

“Menjadi Perempuan adalah menjadi Empu bagi diri-nya sendiri. Konsep bahasa Melayu yang diadopsi menjadi bahasa Indonesia ini bersifat lebih “member-Daya-kan” apabila dibandingkan dengan penyebutan Wanita dari bahasa Jawa yang lebih bersifat menjadikan wanita sebagai yang di-tata, di-atur, di-obyek-kan.”[4][cetak tebal dari teks asli]

Ah-ha! Demikianlah argumen kawan saya. Dan saya pun mulai bersepaham sama dia. Satu lagi informasi. Satu lagi faktoid. Satu lagi trivia. Eureka!

Tapi, cukup! Sampai situ saja.

Saya bilang, saya ogah berspekulasi macam-macam tentang studi perempuan hanya berbekal selembar dokumen tua dan sebuah pranala. Saya tak serta merta bersepaham dalam isu, misal, mbok ya para ‘perempuan’ lebih bersemangat membahas problema ‘wanita’ betulan daripada ngotot-ngototan soal sebutan. Yang lebih radikal—dan menurut saya naif—dia usul, sekalian saja tinggalkan isu ini sama sekali, sebab, bias, diskriminasi, ketaksetaraan dan lain-lain yang berbau jender akan tetap ada selama orang terus mengungkit-ungkitnya, lewat perda keluar malam sampai hitung-hitungan kuota keterwakilan; sederhanakan semua dengan hak dan kewajiban warga negara, bukan hak dan kewajiban perempuan, laki, banci, transvestit, biseksual, dan sebangsanya. Saya pilih abstain. Dialah yang, ironisnya, waktu itu sedang memungut gelar master studi perempuan entah di mana di Jerman sana, bukan saya. Jadi saya tegaskan ke kawan ini, apalah yang saya tahu perihal ketakberdayaan wanita dan keperkasaan perempuan?, apalah hak saya untuk menyerocos macam-macam? Saya bukan misogini tapi bukan juga Irwansyah si pecinta perempuan—eh!—wanita. Saya tidak baca Second Sex. Saya baca majalah dewasa khusus pria.

Sejauh yang saya pahami, dalam hal perempuan vs. wanita, bahasa itu ada karena penuturnya, apapun konsep yang diwakili leksem-per-leksem-nya, bukan karena ada sebuah atau beberapa otoritas eksternal yang berinter-relasi dalam jalinan—ahem!—kuasa. Bagi saya, wanita tidak lebih benar/salah daripada perempuan gara-gara ‘lembaga kajian X’ atau ‘pusat pengembangan Y’ atau ‘pusat studi Z’ berkata sedemikian. Memang ada kurun ketika praktik berbahasa sangat dekat dengan strategi kebudayaan yang dikontrol oleh negara atau proto-negara. Tapi jauh sebelum Jawa Hokokai, atau Soempah Pemoeda, atau Boedi Oetomo, atau bahkan sebelum konsep ‘negara’ diformalkan, bahasa sudah operasional duluan, tumbuh dari bawah, dari setiap penuturnya, orang-orang biasa seperti saya dan Anda; tak pandang Anda pakai burka atau bra, buta aksara atau cerdik cendekia.

Tak ada institusi yang lebih demokratis—dalam hati, saya ketik kata ‘anarkis’—dibanding konsensus penutur bahasa. Tidak ada perwakilan apalagi anggota dewan yang terhormat di sana, tiada pula aparat korporat macam ISO, ANSI atau ECMA. Yang ada hanya aturan sederhana: kalau seseorang tidak jelas sedang ngomong apa, maka yang diajak ngomong tinggal nyeletuk, ‘Ngomong apa sih, nih, anak?’; tak peduli fraksinya apa atau jenis kelaminnya berapa. Habis perkara.

Jadi, perempuan atau wanita? Lain cerita kalau Anda sedang bercakap dengan Marissa Haque, namun bila Anda sedang ngobrol dengan saya, bukanlah hak saya untuk menyalah/benarkan Anda bila Anda pakai salah satunya, dan vice versa. Paling jauh, sebagai seorang ontolog amatir, saya hanya berani menambahi, jika Plato mengisolasi manusia sebagai ‘featherless biped’[5], maka perempuan dan wanita sama-sama himpunan bagian dari manusia, sama-sama ‘featherless biped with vagina.

Ah-ha!


[1] ^ Yang dimaksud adalah himpunan bagian dari ‘International Bill of Human Rights’, yakni ‘Universal Declaration of Human Rights’ yang diadopsi Majelis Umum PBB pada 10 Desember 1948. Wikipedia.

[2] ^ ^ Konstituante Republik Indonesia. (1958). ‘Pemandangan Umum tentang Hak Asasi Manusia/Hak dan Kewadjiban Warga Negara, 14 Agustus 1958.’ Dalam Risalah Perundingan Tahun 1958 Djilid IV. Jakarta: Konstituante Republik Indonesia.

[3] ^ BTW, Ben Anderson dan Ruth McVey sepertinya sengaja menobatkan istri jenderal ini sebagai femme fatale (wanita fatal?, perempuan fatal?) dalam kesimpang-siuran peristiwa mangkatnya Ir. H. Djuanda. Bukannya mau menista pahlawan atau apa, hanya saja, gara-gara Ben dan Ruth-lah saya tahu bahwa Djuanda doyan nge-twist, ternyata.

“… we can state on unimpeccable authority that the late Ir. Djuanda met his death at the hands of Ratu Aminah Hidajat, who enticed him against his better judgment to dance the twist one evening in the Nirvana Room of the Hotel Indonesia, as a result of which activity he suffered a fatal heart attack.”

Anderson, Benedict R. O’G. & Ruth McVey. (1971/2009). A Preliminary Analysis of the October 1, 1965 Coup in Indonesia:126. Jakarta: Equinox. GoogleBooks.

[4] ^ Soekirno, Dewi Candraningrum. (2006). ‘Karena aku Empu, maka aku Melawan!’ Jurnal Perempuan Online, 9 Maret 2006. Diakses 2008/11/19 01:37:29 WIT. Mirror. TembolokGoogle.

[5] ^ Plato. (-360). Statesman. Trans. Benjamin Jowett. Domain publik. classicMit.

    • bung kus
    • Juli 22nd, 2010

    Astaga, Bung Djuanda…Kirain mati serangan jantungnya di tempat tidur, rupanya lagi dansa-dansi. Goyang teruuus mang.. Btw, Femme Fatalé: Perempuan Berbahaya,,Au Auu

    • sumanto
    • Juli 27th, 2010

    Bukan gw yang bilang, loh, tapi Ben Anderson. Ih, rumpi, dèh, guwèh!😀 Tareq, Maaang!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: