“DNA” Batik Indonesia

Kehidupan begitu mempesona. Telur ayam tumbuh menjadi ayam dewasa. Namun kehidupan tidak hanya tumbuh, ia juga dapat berubah. Sebuah spesies dapat berkembang menjadi spesies baru. Palaeomastodon berevolusi menjadi beraneka ragam jenis gajah.

Yang mengagumkan adalah proses ini mengikuti sejumlah keteraturan. Telur ayam tidak akan tumbuh menjadi angsa. Palaeomastodon tidak berevolusi menjadi ular. Keteraturan ini melahirkan sebuah pertanyaan besar. Apa rahasia di balik proses tersebut?

Tahun 1794, Eramus Darwin melontarkan pertanyaan kontroversial, “apakah awal semua kehidupan organik adalah sebuah benang hidup yang sejenis”. 65 tahun kemudian cucunya, Charles Darwin, kembali menggunakan kata “benang” pada topik tersebut.

Argumentasi ini menguat dengan penemuan DNA. Asam inti tersebut menyimpan cetak biru perkembangan mahluk hidup. Polimer ini berbentuk seperti benang yang terpilin. Rahasia kehidupan alam tersimpan melalui “benang” yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Informasi pada “benang” tersebut menjamin telur ayam tidak akan tumbuh menjadi angsa. Kode-kode ini dapat berubah secara gradual. Ia menjamin palaeomastodon tidak akan serta-merta berevolusi menjadi ular.

***

Tentu saja tidak semua hal dapat dijelaskan dengan kacamata evolusi hayati semata. Coba bayangkan, misalnya, ada dua orang anak kembar identik. Keduanya berpisah sejak kecil. Ana besar di Surakarta dan Ane tumbuh di Aceh.  Ketika dewasa, Ana menyukai tarian yang lemah gemulai, seperti tarian Surakarta. Ana menggemari tarian dinamis, seperti tarian Aceh.

Keduanya kembar identik atau memiliki susunan gen yang relatif sama. Bagaimana mungkin hal ini dapat terjadi?

Tahun 1976, Richard Dawkins, biolog Inggris, memperkenalkan ide yang sangat kontroversial. Jika Eramus Darwin mengimajinasikan “benang” yang mengatur transfer informasi genetik dalam sistem hayati, Dawkins membayangkan “benang” yang mengatur transfer informasi kultural dalam sistem sosial. Argumentasi ini melahirkan pendekatan memetika.

Perspektif memetika melihat obyek kultural tersusun atas unit-unit yang dapat mereplikasi dirinya sendiri yang diistilahkan sebagai meme. Dalam beberapa hal, konsep meme di budaya tersebut analog dengan gen di biologi. Meme merupakan suatu unit informasi yang tersimpan di sistem kognitif manusia. Ia dapat berupa ide, gaya berpakaian, norma dan lain sebagainya.

Cerita Ana dan Ane menjadi dapat dipecahkan. Ada unit-unit informasi yang tersimpan di sistem kognitif individu-individu di Surakarta atau Aceh tentang tarian yang indah. Ia kemudian bertransmisi dan tereplikasi dalam sistem sosial tersebut.

Namun perlu ditekankan, meme tidak berada di artefak budaya. Ia berada dalam sistem kognitif manusia. Meme kemudian terefleksikan melalui artefak budaya.

***

Awalnya, kemajuan pendekatan ini sedikit tersendat. Dawkins dan para pengikutnya tidak begitu beruntung. Mereka tidak memiliki cukup keragaman obyek penelitian, seperti kisah Charles Darwin di Galapagos atau Alfred Wallace di Sulawesi.

Hal ini tidak dialami peneliti ilmu sosial di Indonesia. Kita beruntung dianugerahi keragaman budaya yang sangat tinggi. Pendekatan memetika terus dikembangkan.

Kita telah mampu memecahkan persoalan taksonomi hierarkis hubungan kekerabatan antar artefak budaya. Jika di biologi diselesaikan melalui pendekatan filogenetika, pada evolusi budaya dikembangkan pendekatan filomemetika. Penelitian Bandung Fe Institute ini mendapat penghargaan “101 Inovasi Indonesia 2009” dari Kementrian Riset dan Teknologi.

Pada artikel ini disajikan pohon filomemetika Batik Indonesia. Sebagaimana kita ketahui tanggal 2 Oktober 2009 ini, Batik mendapat anugerah dari UNESCO.

Ada dua parameter yang digunakan untuk menyusun “DNA” Batik Indonesia. Yang pertama adalah besaran yang mengukur struktur bentuk motif. Kita menggunakan dimensi fraktal. Parameter kedua adalah distribusi warna motif. Konfigurasi warna yang ada tersusun atas kombinasi tiga warna dasar.

Parameter-parameter ini kemudian disusun menjadi tabel kumpulan meme yang merefleksikan data-data Batik yang diobservasi. Kemudian dihitung jarak antar artefak batik. Jarak ini yang selanjutnya divisualisasikan ke dalam pohon filomemetika Batik Indonesia.

Proses komputasional ini memperlihatkan terjadinya pengelompokan batik berdasarkan wilayah. Sampel desain Batik dari Solo, Yogyakarta, Pekalongan, Cirebon, Garut, Riau hingga Bengkulu cenderung mengelompok berdasarkan daerah asalnya. Setiap daerah memiliki karakteristik yang khas.

Hasil yang diperoleh sangat mengejutkan. Mengapa demikian? Sekarang coba kita bayangkan, kita ambil satu buah desain batik acak dari Pasar Klewer yang tidak kita ketahui asalnya. Lalu kita foto dengan kamera digital. Setelah melalui proses perhitungan di komputer maka secara probabilistik dapat diketahui dari daerah mana ia berasal.

Saat ini, Polri melakukan tes DNA untuk proses identifikasi. Di masa yang tak lama lagi, bisa jadi, kita akan mengadakan tes “DNA” artefak budaya jika ada perseteruan dengan Negara tetangga. Semua jalan ini menjadi mungkin berkat anugerah keragaman budaya yang ada di bumi pertiwi.

***

Kekayaan budaya adalah warisan yang harus dilestarikan. Batik dan penggalian pengetahuan akan Batik telah menginspirasi dunia. Momentum ini hendaknya wahana untuk meningkatkan kecintaan kita akan budaya Indonesia.

Rolan M. Dahlan, Peneliti Dept. Ekonomi Evolusioner, Bandung Fe Institute

Untuk MAJALAH GONG, Edisi: 107/X/2009

—————-

INFORMASI LEBIH JAUH:

http://compsoc.bandungfe.net/kartografi-indonesia/motif-EN.html

    • rio
    • Agustus 13th, 2010

    terlintas pikiran bahwa penelitian ini sudah sangat berkembang seiring dengan perkembangan zaman, sangat diharapkan ke depannya dengan keterbukaan dari negara-negara lain dalam memberikan kesempatan untuk pengecekan “DNA” yang dimaksud walaupun tidak menutup kemungkinan efek-efek lain yang mengikutinya (umpamakan DNA pakaian motif tunik atau yang lain yang diteliti di bumi pertiwi ini juga memiliki asal usul dari luar.

    intinya saya berharap penelitian ini akan terus berkembang yang pada akhirnya akan berguna bagi kita semua

  1. Nothing too lose, even it comes from out far side there. Much be better for know, and to understanding it. The truth will set people free.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: