Mimpi Presiden dan Ketidakadilan Sejarah Piala Dunia

“Rich not only get richer, but get disproportionately richer.”

“…Indonesia Punya Kesempatan Masuk Piala Dunia…” [1]. Demikianlah harapan bapak Presiden saat nonton bareng di kediamannya, Puri Cikeas Bogor. Mungkin tidak yah? Tulisan berikut ini adalah laporan iseng hasil otak-atik data historis pertandingan piala dunia.

Dominasi 8 negara

Kawan saya pernah berkata bahwa jika Brazil jadi juara lagi di Piala Dunia Afrika Selatan, sebaiknya negara tersebut dilarang saja ikut Piala Dunia selamanya. Alasannya karena sudah terlalu dominan. Sebenarnya, bukan cuma Brazil yang layak untuk dilarang ikut piala dunia. Kecenderungannya, terdapat sejumlah kecil negara-negara yang dominan dalam kompetisi ini, sementara sebagian besar negara lain hadir hanya sebagai penggembira.

Data historis piala dunia dimodelkan sebagai unweighted undirected network dengan negara peserta sebagai node nya [2]. Jika dua negara pernah bertandingan maka terdapat edge yang menghubungkan keduanya. Semakin banyak edge sebuah node maka semakin besar node nya.

Gambar 1 menunjukan dominasi dari sedikit node yang telah melakoni sebagian besar pertandingan dalam sejarah piala dunia. Sementara sebagian besar negara hanya menjalani sedikit pertandingan saja dengan sejumlah kecil node.  Secara statistik, fenomena “oligarki” ini akan menghasilkan distribusi hukum pangkat. Konsekuensinya sangat luas, di antaranya menunjukan ketidaknormalan dari sistem yang diamati. The rich get richer, semakin sering suatu negara bertanding dalam piala dunia maka semakin bagus kualitas permainannya. Implikasinya, semakin besar kemungkinan negara tersebut ikut serta dalam pertandingan atau turnamen selanjutnya, atau bahkan juara. Umpan balik positif bekerja melandasi munculnya oligarki ini. Sementara desain sistem kompetisi yang  teroptimasi sedemikian rupa membuat yang terbaik akan keluar sebagai juara. Menariknya, fenomena “oligarki” ini telah dikonfirmasi secara empirik di berbagai sistem alam maupun sosial. Mulai dari distribusi pendapatan, jaringan internet, jaringan metabolisme tubuh, sampai hasil pemilu. Ini seolah-olah menasbihkan bagaimana alam semesta bekerja.

Namun sedikitnya data membuat properti hukum pangkat dari network piala dunia tidak dapat ditunjukan. Namun kecenderungannya sangat jelas terlihat. Nilai clustering coefficient nya (cc = 0.217473 sangat besar sementara nilai average shortest path length nya (aspl = 2.5) kecil relatif terhadap random network (cc rand = 0.078, aspl rand = 2.5). Artinya, sejumlah kecil node cenderung mengelompok sekaligus terhubung kebanyak node di luar kelompoknya. Akibatnya, ukuran network yang besar tidak membuat  jarak antar node menjadi jauh.  Hal ini populer dikenal sebagai efek dunia kecil. Karena node-node dominan cenderung menjadi makin dominan, maka sifat statistik hukum pangkat akan  diperoleh untuk data yang semakin banyak.  Secara empirik, hal ini telah dikonfirmasi pada data pertandingan piala UEFA [3] maupun data turnamen Grand Slam di tenis [4].

Ketika sejumlah kecil elit menduduki hirarki tertinggi kelas pendapatan sebuah negara, apakah  “kue” tersebut cenderung didistribusikan secara homogen ke seluruh sistem ataukah justru aliran sumber daya yang tersedia di dalam sistem itu hanya berputar-putar antar kelompok elit saja? Adakah rich club di dalam network sepakbola dimana node dominan akan cenderung terhubung dengan node dominan lainnya? Dengan menambahkan faktor bobot pada edge yang merepresentasikan frekuensi pertemuan dua negara, kita mengkonfirmasi adanya “geng negara-negara dominan” pada  weighted network piala dunia.

Rasio rich club coefficient network piala dunia terhadap random network (Gambar 2) yang lebih besar dari 1 mengindikasikan rich node [5] cenderung terhubung secara erat dengan rich node lainnya dibandingkan dengan poor node. Artinya, sekali lagi, efek umpan balik positif dan sistem kompetisi membuat hanya negara-negara terbaiklah yang akan bertanding di babak akhir piala dunia. Proses yang terus berulang dalam siklus 4 tahunan membuat “geng” ini makin kuat dan dominan.  Jika hanya negara terbaik di kawasan masing-masing yang berhak lolos ke piala dunia, maka hanya ada sekelompok kecil yang berhak masuk jajaran lebih elit lagi. Merekalah “master mind” yang membuat turnamen ini menjadi menarik (atau membosankan?) Siapakah mereka? Tidak salah lagi kedelapan negara ini selalu meramaikan babak-babak akhir piala dunia dan jadi kandidat kuat juara (gambar 3 untuk kriteria dominan 8<s <11).

Lalu siapakah yang paling tangguh secara historis? Ketangguhan sebuah tim akan diakui jika mampu mengalahkan  tim tangguh yang telah banyak mengalahkan tim lainnya. Medioker vs medioker tidak berdampak besar pada peningkatan kualitas tim. Namun situasinya jadi rumit ketika misalkan  A mengalahkan B, B mengalahkan C sementara C mengalahkan A. Untuk itu, data historis piala dunia direpresentasikan sebagai directed weighted network.  Keterhubungan antar node negara mempunyai bobot dan arah berdasarkan jumlah gol yang tercipta. Hal ini merepresentasikan kekuatan relatif sebuah negara terhadap lawannya.

Sebagaimana Google menentukan urutan halaman dalam mesin pencarinya, kita menggunakan page rank algorithm untuk menentukan urutan ketangguhan negara peserta piala dunia.  Dengan cara ini diketahui bahwa Perancis, Italia, Brazil, Argentina, Jerman, Inggris, Belanda dan Spanyol berada pada urutan teratas (gambar 4). Menariknya negara-negara ini juga yang tergabung dalam “rich club” sebelumnya. Artinya, selain kedelapan negara tersebut sering menang lawan negara-negara medioker, mereka juga saling mengalahkan satu sama lain. Dengan kata lain, mereka berada pada rangking teratas karena memiliki banyak “follower” (baca: tim yang dikalahkan) dan atau di “follow” atau saling mem”follow” dengan node lain yang juga memiliki banyak follower.

Dunia yang tidak adil dan mimpi SBY

Setiap kompetisi akan melahirkan pemenang. Kompetisi yang baik adalah yang mampu membedakan medioker dan yang terbaik. Mulai dari isi dompet anda sampai frekuensi kata yang digunakan, dari jumlah makalah yang mengutip tulisan anda sampai perolehan suara partai dalam pemilu. Sang superstar akan selalu muncul dan menikmati manfaat akumulatif terus menerus dalam hidupnya.

Mungkin awalnya sebuah kebetulan karena sepakbola lahir di negara-negara yang dominan tersebut. Selanjutnya alam semesta lah yang bekerja, memberikan reward dan memperbesar ruang antara si medioker dan mereka yang awalnya hanya sedikit lebih baik. Tentu akan menjadi lebih dahsyat ketika sepakbola kemudian berubah menjadi sebuah industri raksasa. Saat ini, rich node di atas berisi rich player dalam arti yang sebenarnya.

Dunia memang tidak adil. Namun ketidakadilan itu berlaku untuk semua karena tidak ada tempat yang aman bahkan bagi sang pemenang. Pecundang tetaplah pecundang, tapi dalam dunia seperti ini, si dominan dapat tergantikan oleh pendatang baru yang tiba-tiba muncul dari mana saja. Kejutan! Dunia seperti ini penuh dengan kejutan-kejutan.

Industrialisasi sepakbola mungkin berperan penting menjaga dominasi rezim sepakbola. Namun industrialisasi juga berperan mengirimkan pesan ke pelosok-pelosok dunia melalui layar kaca, membangun mimpi jutaan anak-anak di negara-negara medioker. Kehebohan piala dunia membuat setiap ruang kosong, lapangan rumput, ataupun jalan-jalan di depan rumah kita riuh dengan anak-anak yang memainkan bola. Talenta itu bisa ada di manapun! Tapi hanya akses terhadap fasilitas dan sistem kompetisi yang bagus yang akan mengantarkan mereka menjadi yang terbaik. Tanpa itu, hanya akan lahir segelintir medioker yang dominan terhadap medioker lainnya. Ini yang terjadi sekarang, bukan hanya di sepakbola, tapi juga dalam sistem ekonomi dan politik negeri kita. Tentu jauh lebih berbahaya bagi kemanusiaan bukan?

Jadi bapak presiden yang terhormat, seperti inilah dunia berkerja. Tidak masalah kita bermimpi masuk piala dunia, asal kita konsisten dengan konsekuensi bermimpi di dunia yang bekerja seperti ini. Di sini tidak ada konsep rataan seperti dalam dunia ideal para ekonom kita. Di sini, kebijakan TDL yang anda buat bisa berdampak jauh lebih dahsyat dari yang anda bayangkan.  Kita harus bangun dan belajar menghadapi kenyataan yang sebenarnya. Kalau menjadi peserta piala dunia terlalu mahal bagi kita kenapa tidak berprestasi di bidang yang lain. Toh, kalau bikin nuklir terlalu mahal, kita punya keberagaman hayati yang tinggi buat bikin bikin senjata biologi kan?

Ardian Maulana

[1] dimuat oleh Inilah.com

[2] data yang digunakan adalah hasil pertandingan dari babak yang menggunakan sistem gugur. Artinya, hanya pemenang yang berhak masuk babak berikutnya. Rentang datanya adalah piala dunia 1986-2010. Ini karena sejak tahun 1986, sistem gugur untuk babak per 16 final  sampai babak final secara konsisten digunakan.

[3]  Galazka, Marek.,(2009).,”The UEFA Cup Network”., Journal Social Complexity Vol 4 Number 1, 2009 Bandung Fe Institute.

[4] Situngkir, Hokky., (2007).,”Small World Network of Athletes. Graph Representation of the World Professional Tennis Player”., BFI working paper series 2007.

[5] rich node dapat ditentukan berdasarkan kriteria jumlah edge yang dimiliki node atau total strength (s, frekuensi pertemuan turut diperhitungkan) dari node. Untuk kedua kriteria, kita menemukan bentuk grafik yang konsisten.

    • hokkys
    • Juli 25th, 2010

    …tak lebih mudah memajukan sepak bola daripada menciptakan iklim ekonomi yang aspiratif dan melindungi warga republik…

    • noe
    • Juli 27th, 2010

    lebih mudah memajukan perut….terbukti kok

    • sumanto
    • Juli 27th, 2010

    Berhubung faktornya adalah fasilitas sama sistem kompetisi, kita kirim ajah talenta kita ke negri yang punya keduanya. Tapi, jangan buru-buru dipulangin biar gak balik jadi medioker. Setelah deket-deket PPD, baru mereka boleh pulang. Lolos ato tidak, setelah PD, asingkan lagi mereka jadi Primavera ato Baretti tahap 2, tahap 3, dst. Nantinya, setelah kedua faktor terpenuhi, barulah kita pulangin mereka–mungkin bertepatan waktunya dengan anak-anak mereka yang mulai gantung sepatu. Mirip-mirip sodara sebendera kita, laaa. Timnya bisa merumput di pengasingan, kan?

  1. Oktober 31st, 2010
    Trackback from : #savejkt? « KopiSantan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: