Arsip untuk Oktober, 2010

#savejkt?

Seperti tulisan sebelumnya, topik kali ini pun berawal dari keisengan saat time line saya dipenuhi kicauan tentang Jakarta yang makin ruwet. Soal macet, banjir, sampah dan foke  mungkin kicauan umum para tweeps Jakarta. Ini jadi menarik ketika kemuakan itu kemudian terorganisir dalam hashtag #save jkt. Rupanya ‘sekelompok tweeple’ sedang menginisiasi sebuah gerakan sipil penyelamatan Jakarta di twitland. Kata “gerakan“ saja sudah sangat menarik bagi saya, apalagi diembel-embeli pemanfaatan twitter sebagai alat mobilisasi untuk tujuan politik: (mengutip seorang “sosiolog” RT@ sociotalker) “kita mencari kandidat (gubernur Jakarta) non parpol yang didukung warga..bukan parpol,parpol perlu kompetitor agar bs benahi diri”. Maka keisengan pun berlanjut menjadi sebuah laporan sederhana berikut.

Gambar 1: Network interaksi antar tweeple dalam #savejkt

Baca lebih lanjut

Sumpah Pemuda 2010 di TwitLand

Semenjak tanggal 20 Oktober 2010, Fahira Idris, seorang superstar twitter Indonesia dan beberapa rekanannya meng-inisiasi sebuah jajak pendapat asosiasi bebas kepada follower-nya yang lebih dari 16000 akun twitter. Dengan menggunakan hashtag #28OktPoll, ia menanyakan kepada follower-nya, bagaimana kira-kira opini bebas mereka terhadap peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober 2010. Sebagai sebuah media sosial yang memang sedang sangat bertumbuh di Indonesia, animo pengguna twitter nasional cukup tinggi, ditambah agresifitas Fahira Idris sendiri yang menjemput bola, bertanya kepada banyak orang yang juga superstar twitter lain untuk memberikan jawaban bagaimana tanggapan mereka terhadap peringatan Sumpah Pemuda.

Sumpah Pemuda (atau dalam bahasa orisinilnya, Ikrar Pemuda) 28 Oktober 1928, merupakan sebuah tonggak penting dalam perlawanan bangsa Indonesia terhadap kolonialisme Belanda pada masa itu yang sudah lebih dari 3,5 abad. Sumpah Pemuda ini penting dalam sejarah Indonesia, karena pada peristiwa tersebut-lah kawula muda Indonesia dari berbagai penjuru geografi berkumpul dan mengikrarkan kebersamaan yang “membentuk” satu bangsa baru, bernama Indonesia, dengan lanskap geografi, tanah air Indonesia, di mana penduduknya berbahasa satu, bahasa Indonesia. Mengingat diversitas penduduk Indonesia, peristiwa ini menjadi sangat penting, karena di sinilah untuk pertama kali deklarasi perjuangan menuju kemerdekaan sebagai sebangsa dan setanah air dikumandangkan pertama kali.

Delapan puluh dua tahun kemudian, setelah enam puluh lima tahun proklamasi kemerdekaan, hal ini dicoba dikaji lagi. Bagaimana secara kolektif pengguna twitter kira-kira memaknai peristiwa Sumpah Pemuda 1928. Dari archiving atas hashtag #28OktPoll diperoleh lebih dari 1000 posting ke twitter. Kajian singkat ini coba merefleksikan jajak pendapat ini. Baca lebih lanjut