#savejkt?

Seperti tulisan sebelumnya, topik kali ini pun berawal dari keisengan saat time line saya dipenuhi kicauan tentang Jakarta yang makin ruwet. Soal macet, banjir, sampah dan foke  mungkin kicauan umum para tweeps Jakarta. Ini jadi menarik ketika kemuakan itu kemudian terorganisir dalam hashtag #save jkt. Rupanya ‘sekelompok tweeple’ sedang menginisiasi sebuah gerakan sipil penyelamatan Jakarta di twitland. Kata “gerakan“ saja sudah sangat menarik bagi saya, apalagi diembel-embeli pemanfaatan twitter sebagai alat mobilisasi untuk tujuan politik: (mengutip seorang “sosiolog” RT@ sociotalker) “kita mencari kandidat (gubernur Jakarta) non parpol yang didukung warga..bukan parpol,parpol perlu kompetitor agar bs benahi diri”. Maka keisengan pun berlanjut menjadi sebuah laporan sederhana berikut.

Gambar 1: Network interaksi antar tweeple dalam #savejkt

Berbicara “gerakan” dan #savejkt, benak saya dengan cepat flash back ke masa 12 tahun lalu. Saat berbagai media mulai ramai melaporkan letupan-letupan kecil demonstrasi di berbagai pelosok Indonesia. Dengan pamflet dan megaphone di tangan, sejumlah kecil mahasiswa konsisten berteriak tentang situasi yang makin buruk. Namun tidak ada yang pernah mengira teriakan itu bisa bergulir bak bola salju menjadi sebuah ledakan yang menjatuhkan rejim yang sedang berkuasa. Situasi sosial yang makin menghimpit, isu yang cerdas, teriakan yang di amplify secara konsisten membuat kegelisahan mahasiswa itu menjalar dalam jejaring sosial masyarakat yang kompleks. Sampai kemudian ada saat dimana barisan demonstran itu cukup besar untuk membuat isu perubahan menjadi bernilai bagi semua orang..dan boom!!..perubahan terjadi ketika sistem sosial bekerja untuk perubahan itu sendiri.

Sistem sosial tidaklah rigid sehingga mematikan semua upaya perubahan. Sistem sosial juga tidaklah random sehingga meniadakan semua upaya sadar untuk perubahan. Sistem sosial itu sistem yang kompleks, yang mampu mengabulkan doa si miskin sekaligus membuat diktator tidak pernah nyaman di posisinya. Dan keliaran sistem ini hanya dapat “dijinakan” oleh pemahaman yang cerdas bagaimana sistem seperti ini bekerja serta kesadaran untuk belajar hidup di dalamnya.

Sekarang saya menganggap twitter itu seperti megaphone dan para tweeple adalah demonstran yang kicauannya merambat dalam jejaring virtual twitland. Jaringan antar tweeple ini jauh lebih terkoneksi dari hipotesis small-worldnya Stanley Milgram. Saat seorang tweeple mengunjungi semua teman dari temannya sampai yang berjarak 5 individu dari dirinya, maka sama saja ia telah mengunjungi hampir seluruh warga twitland[i]. Relasi antar tweeple yang cenderung satu arah membuat Twitland lebih menyerupai jejaring status dimana selebritas membrojol dari seberapa informatif dan inspiratif kicauannya. Hal inilah yang menjadikan twitter sebagai media sosial yang sangat dahsyat sekaligus berbeda dengan ragam online social network engine lain.

Sebagaimana sistem sosial, twitland juga menunjukan karakter sistem kompleks. Evaluasi data archive kicauan dengan hashtag #savejkt[ii] menunjukan adanya fenomena skala pada distribusi kicauan (gambar 2). Tidak peduli seberapa banyak tweeple yang terlibat, jumlah tweeps selalu proporsional (dalam skala log-log) terhadap dengan banyaknya kicauan (gambar 2a). Seolah-olah twitland mengatur dirinya sendiri (self-organized) sedemikian sehingga jumlah kicauan anda menentukan seberapa besar tweeps yang akan ikut serta dalam wacana #savejkt. Keberadaan seorang tweeple bisa mempengaruhi dinamika sistem keseluruhan. Dan pesannya adalah berkicaulah sebanyak dan seinspiratif mungkin, maka twitland akan secara organis mempertahankan proposionalitasnya. Sampai kemudian akan ada saat dimana warga twitland mengkicaukan hal yang sama dengan anda.

Gambar 2: Distribusi kumulatif: a. jumlah twit; b. Node strength pada network interaksi

Evaluasi lebih detail pada network interaksi (gambar 1)  antar tweeple berdasarkan relasi mention dan re-twit menunjukan sejumlah kecil tweeple berperan sebagai otoritas informasi yang “lagi-lagi” proposional terhadap kekuatan keterhubungannya (gambar 2b). Sejumlah kecil minoritas kreatif yang mendominasi wacana #savejkt, dan sebagai besar lainnya berperan sebagai massa. Makna yang sama dapat diungkapkan dalam kalimat “terdapat sejumlah kecil gempa bumi dengan intensitas yang besar, sementara sebagian besar adalah gempa bumi dengan skala kecil”, “jumlah kota besar lebih sedikit dibandingkan jumlah kota kecil, “ ada sejumlah kecil kata yang sering kita pakai, sementara sebagian besar lainnya jarang digunakan”, “perolehan suara partai proporsional terhadap rangkingnya”, dan “20% penduduk menguasai 80% distribusi kapital sebuah negara[iii]. Dalam sistem yang kompleks, tidak ada informasi yang bisa diperoleh dari kalimat ”secara rata-rata penduduk Indonesia berpendapat sekian rupiah” atau “secara rata-rata intensitas gempa bumi adalah sekian ritcher”.

Adanya minoritas kreatif ini memancing keisengan lebih jauh. Pertanyaannya adalah siapakah mereka di antara sekian ribu partisipan #savejkt? Tweeple yang menjadi otoritas informasi dapat ditemukan dengan memanfaatkan algoritma yang mirip digunakan oleh mesin pencari google. Dalam konteks ini, sentralitas seorang tweeple tidak hanya bergantung kepada banyaknya tweeple yang merujuk ke dirinya, tetapi juga pada ‘kualitas’ setiap perujuknya. Konsep sentralitas dalam analisa network, misalnya analisa network teroris[iv], sangat berguna karena memberikan informasi nilai penting sebuah node dalam jejaring aktivitasnya. Dewasa ini, pengembangannya menyeruak jauh ke arah deteksi konsep penting dalam analisa semantik mengingat akses data yang mudah dan sangat banyak. Gambar 3 menunjukan 15 besar tweeple yang berpengaruh di #savejkt.

 

Soal “gerakan” dan penggunaan twitter sebagai alat mobilisasi sudah kita bahas. Bagaimana dengan tujuan politiknya? Tentu saja, setiap ide perubahan harus kita sambut sebagai cahaya harapan di tengah kondisi kesemrawutan sistem dan manajemen negara ini. Namun kawan saya pernah berkata, dengan perumpamaan, kita seringkali berpikir bahwa dengan menguasai dan membuka akses terhadap gardu listrik akan mengatasi persoalan listrik yang byar pet. Menjadi ironis ketika semua tombol sudah di on kan sesuai aspirasi, situasi ternyata tidak berubah.

Masalah kita bukan semata soal pemimpin yang tidak kompeten dan feodalisme dalam tubuh partai-partai. Sistem politik liberal yang coba ditumbuhkan dalam substrat masyarakat paternalistik lah akar oligarki partai yang abai terhadap partisipasi dan aspirasi publik. Saat urusan Jakarta (atau Indonesia) disederhanakan jadi sekedar soal memperbesar kedaulatan rakyat seharfiah mungkin dengan (RT@sociotalker): “mencari kandidat (gubernur Jakarta) non parpol yang didukung warga…”, maka eksperimen demokrasi kita semakin tanpa ujung. Keberhasilan mendudukan pemimpin yang diinginkan rakyat di dalam sistem yang abai terhadap kontrol dari rakyat tidak akan membawa perubahan apapun terhadap kondisi yang ada[v]. Terlalu gegabah jika kita membayangkan kehadiran calon independen akan memicu parpol untuk membenahi diri.

Pada akhirnya saat eksperimentasi itu kembali gagal, situasi Jakarta tetap macet, banjir dan penuh sampah. Sementara para teoritisi sosial kembali berteori dengan indah. Ketidakmampuan kita mengatasi permasalahan tidak bisa dilepaskan begitu saja dari soal gagalnya para teoritisi sosial dan policy maker dalam memahami persoalan. Ketergantungan yang akut terhadap teori-teori sosial dan ekonomi yang sangat jauh dari konfirmasi empirik membuat kebijakan yang diambil maupun arah perubahan yang didorong seringkali tersesat dalam kompleksitas sistem sosial negeri ini. Padahal kemajuan teknologi komputasi dan munculnya dunia online seperti twitland dengan data yang bejibun membuka peluang eksplorasi saintifik perilaku individu dan dinamika sistem sosial secara simulatif. Nah, sudahkah para teoritisi sosial (@sociotalker) aware dengan hal ini? Berkaca pada kegagalan gerakan yang dibangun 12 tahun lalu, kita semua harus lebih bijak melihat persoalan negeri ini. Semoga  simpati masyarakat terhadap ide-ide perubahan tidak kering oleh kegagalan-kegagalan kita selama ini.

Ardian Maulana




[ii] Archiving data bertanggal:  Thu, 21 Oct 2010 12:22:33 – Tue, 26 Oct 2010 12:04:45. Total twit: 2467.

[iii] Per Bak, (1997), How Nature Works: The Science of Self Organizing Criticality, Oxford University Press

Maulana, A., Situngkir, Hokky., (2010), “Power Law in Election: a Survey”, Wp 2010, BFI Working Paper  Series.

[iv] Shaikh, M.A.  Wang Jiaxin  (2006),”Discovering Hierarchical Structure in Terrorist Networks “.,IEEE.

[v] Maulana, A., Situngkir, Hokky., (2009), “Coalitions in Multiparty System: Empirical Reflection  of the Indonesian Regional Elections 2004-2009”, Journal Social Complexity Vol 4 Number 1, 2009 Bandung Fe Institute.

  1. …sekali-kalinya ilmu pengetahuan tak dipercaya masyarakat lagi sebagai ruh dari gerakan untuk perubahan sosial, yang ada adalah merajalelanya ketidakadilan. Ini terjadi hanya karena terlalu banyaknya orang-orang yang serba-boleh-jadi dan sewenang-wenang dalam sistem nilainya sambil me-menara-gading-kan label akademia dan sains…

  2. Kawan dan sobat,

    Dhasyat! Akan lebih dhasyat kalau kita buka lagi dengan “degree of centrality” atau “closeness centrality” atau bahkan “bridging” mungkin akan terlihat bagaimana ruang-ruang partisipasi yang difasilitasi oleh media sosial “online” masih sangat membutuhkan ruang-ruang politik keseharian bersama masyarakat. Berikut tulisan menarik dari seorang kawanku di Filipina, Nicanor Perlas , mudah-mudahan menarik dan membuat kita tertantang untuk berkarya dan bersinergis dengan massa.

    Social Media: Aid or Distraction to Societal Transformation?
    by Nicanor Perlas on Monday, November 1, 2010 at 2:03pm

    By Nicanor Perlas

    01 November 2010

    In the past few months, we at MISSION, the Movement of Imaginals for Sustainable Societies through Implementation, Organization, and Networking, have observed an interesting phenomenon. We would announce an event in Facebook and many would sign up. Yet, when the date of the event itself comes up, a much fewer number of people would show up. And this has happened not only once. It happens most of the time.

    As I was reflecting on this gap between intention and action, I came across an interesting article on social media and societal transformation by Malcolm Gladwell. He bannered his article in the October 4, 2010 issue of The New Yorker thus: “Small Change: Why the revolution will not be tweeted”.

    After basically pooh-poohing the Moldovan and Iranian “twitter revolutions”, Gladwell sums up the essence of his argument as follows.

    “Facebook activism succeeds not by motivating people to make a real sacrifice but by motivating them to do the things that people do when they are not motivated enough to make a real sacrifice. We are a long way from the lunch counters of Greensboro”, referring to the act of resistance, in the face of actual physical violence, that triggered the civil rights movement and its ultimate shifting of US society.

    Malcolm disagrees with the central proposition that “social networks are particularly effective at increasing motivation”. Instead Malcolm believes that social networks facilitated by social media are “effective at increasing participation—by lessening the level of motivation that participation requires.” [Emphasis in the original.]

    Gladwell’s critique is informed by two kinds of social ties uncovered in the social sciences: the strong ties and the weak ties. Strong ties are those ties that you have with close friends, peers, buddies, classmates, family, colleagues and so on. Weak ties are those based on acquaintances, friends of friends, and so on.

    Gladwell argues that Facebook, Twitter and similar social media marvelously and efficiently organize weak ties, which have their own use and advantages. For example, it can be used successfully in petition campaigns, online fund raising events, and similar other activities that do not require great and continued personal involvement that is required of initiatives like societal transformation. For the latter, one would need strong ties that depend on personal connections and actual interactions in the external social world.

    Gladwell cites the example of the civil rights movement where strong ties predominantly carried the day. “If Martin Luther King, Jr., had tried to do a wiki-boycott in Montgomery, he would have been steamrollered by the white power structure. And of what use would a digital communication tool be in a town where ninety-eight per cent of the black community could be reached every Sunday morning at church? The things that King needed in Birmingham—discipline and strategy—were things that online social media cannot provide.”

    While I appreciate and value the points that Gladwell is making, he goes too far when he creates a dichotomy between social media and hard-core activism. Gladwell argues: “The drawbacks of networks scarcely matter if the network isn’t interested in systemic change—if it just wants to frighten or humiliate or make a splash—or if it doesn’t need to think strategically. But if you’re taking on a powerful and organized establishment you have to be a hierarchy. “

    Instead of falling into the trap of traditional hierarchy, it would be more empowering if we viewed social media (driven by weak ties) and hard core activism (propelled by strong ties) as essential polarities in one unified organism seeking deep societal change.

    One way to harness this polarity is to transform weak ties into strong ties by conducting awareness seminars, participatory workshops, as well as peer trainings. Another to bridge this polarity is to enhance the organizational and strategy capacities of a movement for systemic change through a judicious and sophisticated use of social media, one that appreciates its promise and limitations. In addition, it would be important to inform the use of social media by an in-depth sensing of the actual context seeming to call for the application of social media.

    There is also a hidden blind spot in the thinking of Gladwell. People’s level of awareness and commitment are also evolving through time. True, the majority of people still need strong ties to give them the necessary motivation to undertake the long and arduous task of societal transformation. But increasingly, there is also arising in the world a new kind of individual who has the inner power to act and to take high risks on the basis of an unflagging pursuit of the highest possibilities of humanity and their societies.

    And when this increasingly becomes the case, then the weak ties of social media increasingly become populated by strong ties created not out of personal relationships alone, but also by an inner spiritual strength to remain faithful to an ideal connected with the highest strivings, connected deeply with what it means to be truly human.

    Social media has the potential to be a powerful tool for societal change. But we need to unlock and realize these potentials by personally engaging with the individuals who make up this network to the extent possible. We must also situate social media within a clearly understood and defined societal context so we can design its appropriate use. We also need to create societal conditions that would result in the increasing emergence of individuals whose level of motivation includes but transcends personal needs and is defined by that individual’s search for meaning and connection with the wider world.

    When we intelligently use social media in this manner, then we can have a powerful help in our strivings to create a new future worthy of human existence and one that respects the incredible diversity and beauty of the natural world that nourishes us all.

    ·

  3. good point bang raja.
    Seperti kebijakan lama, semuanya akan bagus jika pada tempatnya.Kelatahan yang abai spasial dan temporal adalah penyakit. Sains yang benar akan menunjukan mana yang umum sekaligus peduli keunikan. Dan hanya inilah satu-satunya alasan kita masih “di sini” ketika kesabaran makin menipis.

    soal “degree”, “bridging” dll..tinggal dimunculkan saja bang.Beberapa hal belum dapat ijin keluar

  4. Setuju, persoalannya bukan ‘parpol’ atau ‘non parpol,’ Tp pembenahan sistem agar pemimpin bisa lebih akuntabel. Mungkin bisa diterapkan semacam UU agar janji kampanye menjadi produk hukum yang memungkinkan pejabat terpilih (gubernur, bupati, presiden) bisa di-impeached bila tidak melaksanakan janji kampanyenya.

    • rolanmd
    • November 4th, 2010

    yoa bung.. sistemnya harus dibenahi.. Mekanisme kontrol pasca pemilihan jd masalah penting dalam demokrasi kita skr..

  5. menarik sekali analisisnya.. bijak juga penutupnya..
    perwujudan menara gading oleh akademisi pastinya selalu akan terjadi.. walaupun internet memungkinkan interconnectedness yg demikian tinggi, selalu saja terjadi alienasi terhadap ide-ide berbeda.. berbagai bentuk eksperimenlah yg kemudian menjadi pilihan untuk aktualisasi ide-ide tersebut..
    jadi saya pikir, mungkin ada baiknya pakar-pakar kesepian ini ditemani berdiskusi..😀

    #savejkt pun pastinya akan memberikan manfaat kepada berbagai pihak meskipun misalnya tidak mencapai sasaran.. energi yg dikumpulkan mungkin tidak cukup untuk sebuah momentum (goal).. buat para pengusungnya, manfaat lansungny mungkin berlatih meledakkan diri walaupun kapasitasnya baru senyaring petasan.. tapi ya itu latihan.. :p

    maab yah saya agak korslet komennya..😀
    agak ga nyaman ni comment dari hp.. *ngeles*

      • chipoto
      • November 4th, 2010

      asik..ada yang mau nemenin diskusi nih..:)*ngarep*

      itulah problemnya,ketika kebijakan dan aksi kita anggap eksperimen, sistem sosial sebagai labnya, dan rakyat adalah kelinci percobaanya.
      Sebaik-baiknya kebijakan adalah berladaskan hal yang telah di konfirmasi secara empirik. Seburuk-buruknya aksi adalah ketika apa yang diperjuangkan masih menjadi hipotesa.

  6. …menyambung diskusi dengan Davi Muammar (@dapih) di twitter:

    Mungkin salah satu point penting dari temuan ini adalah demonstrasi bagaimana Twitter bisa berfungsi sbg social media (perspektif jumlah following-followers) dan juga berfungsi sbg social network (perspektif banyaknya mention (engagement) dalam bentuk reply atau retweet). Baik karakteristik sebagai social media maupun social network ada pada Twitter, dan ini bergantung pada cara user “memperlakukan” account-nya.

    So what do we want? …make Twitter as social networking by tweeting in our clusters only, or have it as a social media where we can share ideas to the largest extent the technology can reach… well, praktiknya, kita akan selalu berada di antara dua hal itu dalam ber-Twitter…😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: