Arsip untuk Juni, 2011

“The Science of Twitter”

Saat ini merupakan masa perayaan interaksi antar orang dari perjalanan panjang evolusi spesies kita di planet ini. Mungkin tak ada masa di mana orang begitu terkoneksi satu sama lain dalam hal komunikasi selain pada masa sekarang ketika hampir tiap orang terkoneksi ke sebuah penyelia jasa telekomunikasi. Di era informasi ini, tiap orang adalah produsen informasi. Tiap aktor sosial memiliki kapasitas yang setara dalam memberikan informasi yang dapat dinikmati oleh siapa saja, sepanjang yang bersangkutan mengizinkannya. Itulah sebabnya banyak orang menyebut layanan berbasis web 2.0, yang merupakan tulang belakang teknologi informasi ini, sering disebut sebagai social media, karena tiap orang menjadi memiliki kesempatan untuk menjadi media massa, sebuah produsen informasi massal di era terdahulu. Salah satu yang menarik perhatian untuk kehidupan social media di tanah air saat ini adalah layanan Twitter. Layanan yang memungkinkan pertukaran teks antar aktor sosial (client) yang dibangun berbasis layanan pesan singkat (SMS) dalam koneksitas internet oleh Jack Dorsey, Biz Stone, dan Evan Williams ini telah digunakan lebih dari 13 juta akun di mana orang Indonesia merupakan populasi terbanyak di dunia setelah Amerika Serikat, Inggris, Brazil, Kanada, dan Australia. Baca lebih lanjut

Iklan

Matematika Buruk Kebijakan Energi

Pak Ujang adalah seorang tukang becak, sebuah kendaraan yang tidak menggunakan BBM. Suatu ketika pemerintah menaikkan tarif BBM. Harga mie instan kemudian mengalami kenaikan karena proses produksi dan pengangkutannya membutuhkan BBM. Pak Ujang sangat sering mengkonsumsi mie instan, karena harganya yang relatif murah. Apakah Pak Ujang akan menaikkan tarif becak akibat kenaikan BBM? Menurut perspektif “matematika garis lurus” yang lazim digunakan dalam menyusun kebijakan energi, Pak Ujang pasti tidak akan menaikkan tarif, alasannya karena becak tidak menggunakan BBM. Namun, jika kita memperhatikan efek rantai kenaikan harga maka Pak Ujang bisa jadi akan menaikkan tarif becak. Pak Ujang terpaksa menaikkan tarif becak karena terdesak oleh peningkatan biaya kebutuhan hidupnya. Ada peluang kenaikan tarif becak tersebut kemudian diikuti oleh Pak Hari, Pak Budi, Pak Imin dan para tukang becak lainnya. Faktor ini disebut dengan efek mengerumun kenaikan harga.

Selama ini, para kita (para ekonom) sangat sering menggunakan perspektif “matematika garis lurus” dalam merumuskan kebijakan energi, khususnya dalam melihat hubungan antara kenaikan tarif komoditas energi terhadap infasi. Perspektif “matematika garis lurus” secara sederhana dapat dirumuskan sebagai berikut:

  • ada X% bobot kontribusi komoditas energi Y (misalnya listrik, bensin, solar, minyak tanah, dan seterusnya),
  • jika harga Y naik sebesar Z% maka sumbangan inflasi yang diberikan adalah X% dikali Z%.

Perspektif ini dijadikan rujukan oleh para pemangku kebijakan di republik ini, mulai dari Presiden, Menteri Keuangan, Menteri Perdagangan, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, hingga Kepala Badan Pusat Statistik, sebagaimana dapat kita lihat dari cuplikan-cuplikan berita berikut ini:

Baca lebih lanjut

Iklan