“The Science of Twitter”

Saat ini merupakan masa perayaan interaksi antar orang dari perjalanan panjang evolusi spesies kita di planet ini. Mungkin tak ada masa di mana orang begitu terkoneksi satu sama lain dalam hal komunikasi selain pada masa sekarang ketika hampir tiap orang terkoneksi ke sebuah penyelia jasa telekomunikasi. Di era informasi ini, tiap orang adalah produsen informasi. Tiap aktor sosial memiliki kapasitas yang setara dalam memberikan informasi yang dapat dinikmati oleh siapa saja, sepanjang yang bersangkutan mengizinkannya. Itulah sebabnya banyak orang menyebut layanan berbasis web 2.0, yang merupakan tulang belakang teknologi informasi ini, sering disebut sebagai social media, karena tiap orang menjadi memiliki kesempatan untuk menjadi media massa, sebuah produsen informasi massal di era terdahulu. Salah satu yang menarik perhatian untuk kehidupan social media di tanah air saat ini adalah layanan Twitter. Layanan yang memungkinkan pertukaran teks antar aktor sosial (client) yang dibangun berbasis layanan pesan singkat (SMS) dalam koneksitas internet oleh Jack Dorsey, Biz Stone, dan Evan Williams ini telah digunakan lebih dari 13 juta akun di mana orang Indonesia merupakan populasi terbanyak di dunia setelah Amerika Serikat, Inggris, Brazil, Kanada, dan Australia.

Meskipun satu twit sekilas hanya menyimpan informasi yang jumlahnya tak lebih dari 140 karakter, pada dasarnya tubuh sebuah twit menyimpan segudang informasi terkait apa, siapa, dimana, kapan, dan bagaimana sebuah twit tersebut dikirimkan. Anatomi sebuah twitter pernah diilustrasikan oleh Raffi Krikorian sebagaimana di tunjukkan pada gambar.

Anatomi sebuah twit

Saat ini ada lebih dari 7 miliar twit yang tercatat pernah dimasukkan ke twitter, yang konon jika dicetak setara dengan sebuah perpustakaan dengan buku sebanyak 1 juta lebih buku setebal  300-an halaman! Mengigat informasi kolektif yang terkandung dalam sebuah twit, maka twitter memang layak disebut sebagai sebuah mega-perpustakaan di dunia informasi. Di dalamnya terdapat berbagai catatan personal individu-individu se-dunia yang mengisahkan apa yang dipikirkannya dan dialaminya secara sangat lokal, sangat mikro. Mempelajari Twitter merupakan sebuah pintu masuk yang menarik dalam mempelajari spesies sosial manusia yang hidup di era informasi. Interaksi verbal antar individu dalam Twitter merupakan sebuah gudang data ekspresi spontan yang terdokumentasi dengan baik – suatu hal yang tak dimiliki oleh penziarah ilmu pengetahuan di masa yang lampau.

Cara menggunakan twitter menjanjikan banyak sekali informasi yang luar biasa penting: 72% orang menggunakan Twitter untuk update status personal, 62% untuk ikhwal pekerjaannya, dan 54% untuk menunjukkan apa yang dilihatnya dalam kesehariannya (yang jadikan Twitter gudang ekspresi spontan). Di sisi lain 55% pengguna Twitter menggunakannya untuk berbagi link internet, 52% orang me-retweet posting orang lain, 40% untuk berbagi foto, dan 28% berbagi video (yang jadikan Twitter sebagai media propagasi dan transimisi informasi inter-personal yang menarik). Tak heran 83% perusahaan di Eropa dan 72% perusahaan di Amerika Serikan (namun baru 67% perusahaan di Asia Pasifik) telah menggunakan Twitter sebagai media antar muka dengan publik, untuk memberikan update terbaru terkait produk dan perusahaan (88%), penawaran layanan pelanggan (40%), penjualan (28%), dan ajakan untuk lapangan pekerjaan (10%).

Lantas bagaimanakah bentuk Sains-nya Twitter itu? Secara sederhana, agen sosial yang jadi fokus mikro dalam pendekatan ilmu sosial mendapat obyek observasi alternatif: akun Twitter!

  • Twitter sebagai Akumulusi Perilaku Kolektif (Mention Map in Social Network)

Contoh observasi sains sosial atas akumulasi perilaku kolektif dapat dilihat dalam melihat bagaimana sebuah konsep semantik ditanggapi oleh masyarakat secara luas dalam jejaring sosialnya di Twitter adalah saat kita hendak mengetahui bagaimana orang menyebut (mention) satu hal, baik suatu konsep maupun orang lain dalam komentar dan twit-twit mereka terkait Final Piala AFF. Twitland adalah sebuah substrat di mana informasi, ekspresi, dan opini tak kuasa untuk disumbat, bagaimana seseorang merujuk, menyebut, me-mention konsep lain merupakan lapangan eksplorasi baru yang menarik dan menantang ilmu sosial masa depan.

  • Twit sebagai korpus (gudang teks)

Korpus dan dokumentasi selalu jadi sumber rujukan primer dalam semua kajian sosial, apapun domainnya. Dalam hal ini, Twitter merekam semua interaksi (verbal) tersebut dan memberikan sebuah “hasil jajak pendapat” yang terlakukan oleh pengguna Twitter secara sukarela, tanpa diminta. Sebuah contoh yang menarik adalah ketika kita ingin mengetahui bagaimana pemikiran pengguna media sosial Twitter di Indonesia terkait Sumpah Pemuda, sebuah momen historis yang memiliki peran besar dalam kehidupan modern bangsa Indonesia. Tak jarang berbagai hal yang tak terpikirkan sebelumnya muncul ketika kita hendak mempelajari suatu konsep semantik sosio-antropologis modern dalam eksplorasi twit-twit ini.

  • Akun Twitter sebagai Aktor Sosial

Tiap akun merepresentasikan aktor sosial, baik individu maupun kelompok individu, berupa komunitas, firma, ataupun institusi. Bisa dibayangkan bahwa berbagai kerja sosial dan aktivisme masa depan akan dapat dengan mudah muncul di Twitter. Peta jejaring orang di Twitter lebih baik daripada peta jejaring dalam definisi yang konvensional, karena jejaring konvensional hanya memperhatikan sejauh mana seseorang kenal dengan orang lain. Di Twitter, kenal/tidaknya orang satu sama lain langsung dikaitkan pada isu dan percakapan spontan antar individu yang memungkinkan berbagai observasi lanjut terkait jejaring sosial mendapat lapangan baru. Hal ini dicontohkan saat kita hendak melihat bagaimana sebuah isu seperti #saveJkt berkembang di kalangan pengguna Twitter nasional. Isu ini terkait pada episentrum Twitter nasional, yaitu kota Jakarta dan ajakan untuk membenahi kehidupan urban perkotaan di dalamnya. Informasi-informasi terkait orang dan kelompok sosial (social cluster) di dalamnya termunculkan dalam ekstraksi informasi yang ada dalam Twitter.

Peta persebaran sebuah gosip & berita bohong 2 Mei 2011 di Twitter (besarnya titik menunjukkan besarnya follower dari akun Twitter)

  • Twitter sebagai Media Warga

Persebaran epidemiologis rumor dan gosip merupakan kajian sosial yang sangat menarik, karena inilah sebenarnya sumber utama ketaklinieran dalam kehidupan masyarakat secara umum. Persebaran gosip dan rumor dalam Twitter sudah memiliki karakteristik-karakteristik propagasi gosip dan rumor dalam kehidupan nyata. Penelitian persebaran gosip, bahkan berita bohong, menyebar dalam karakteristik kuantitatif yang sama dengan apa yang diamati secara observasional dalam sains rumor dan gosip. Sebuah pembedahan atas persebaran berita keliru atas kematian salah seorang intelektual di Indonesia misalnya, memiliki mention map yang memberikan bentuk topologis diseminasi gosip dan rumor yang nyata.

Tak pelak, Twitter merupakan sebuah layanan internet yang menjanjikan banyak peluang observasional yang menarik dalam studi-studi dan kajian sosial masa depan. Ke sinilah mungkin nanti salah satu arus pengembangan ilmu sosial masa depan akan bermuara…

  1. ““The Science of Twitter” KopiSantan” was actually engaging and helpful!

    Within todays society honestly, that is very difficult to achieve.
    Thx, Jeffry

  2. Excellent web site. Lots of useful info here.

    I’m sending it to some pals ans additionally sharing in delicious.

    And obviously, thank you in your sweat!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: