Wawasan Indonesia 2013

Di penghujung tahun 2012 yang lalu, kantor Bandung Fe Institute (BFI) diramaikan dengan penyusunan kompilasi data melalui ilmu-ilmu kompleksitas yang diharapkan menjadi outlook yang berguna dalam menjalani tahun 2013. Pemutakhiran data-data raksasa, mulai dari data demografis ber-resolusi desa di seluruh Indonesia, hasil pemilihan PILKADA, highlight berita media massa dan social media, data budaya yang dikumpulkan partisipatif melalui www.budaya-indonesia.org, hingga data-data berupa survey online yang dijalankan oleh beberapa departemen riset di BFI. Semua data-data mutakhir tersebut lalu dimasukkan ke dalam mesin-mesin komputasional yang telah dirintis sejak hampir satu dekade yang lalu. Beberapa hasil yang menarik ditampilkan sebagai lembaran-lembaran infografis sebagai berikut…

Kompilasi ini dicetak hardcopy untuk dibagikan bagi kalangan sangat terbatas sebagai bentuk Kalender Kompleksitas 2013, yang kini bisa kita unduh dan cetak sendiri untuk menghiasi ruang kerja atau ruang rumah tangga kita sendiri di rumah.A_ccOuzCQAAEUPi

Dalam outlook tersebut, setidaknya ada beberapa hal menarik yang bisa kita pelajari, sebagaimana disebutkan dalam versi online dari outlook tersebut:

Pertama, sifat strategis ke-Indonesian-an kita bukan lagi hanya tercermin sebagai bentuk geografis belaka. Kenyataan bentuk negeri yang kepulauan, keberagaman etnis yang sangat tinggi, termasuk kekayaan alam yang ada di dalamnya merupakan ikhwal strategis yang memperkukuh posisi geo-informasi kita. Secara ekonomis kita perlu membenahi diri, tak hanya sekadar memperluas pasar (market diversification), tapi juga juga harus memperlengkapi diri dengan inovasi dan kreativitas demi memperbesar variasi dan keberagaman produk (product diversification) yang kita tawarkan untuk memberikan inspirasi bagi kemanusiaan dunia.

Kedua, kegalauan ekonomi dan keuangan di belahan utara planet kita masih dan sedang dalam proses recovery yang memberikan kita kesempatan untuk tidak melakukan berbagai kesalahan yang sama dalam meniti kompleksitas dan ketakpastian pasar. Pasar modal hanyalah satu dari sekian banyak pasar yang ada dalam realm kehidupan kapitalisme modern. Sistem sosial kita perlu dibenahi, karena ia akan memperkuat sistem ekonomi dan keuangan kita. Ini perlu memperhatikan pasar tenaga kerja dan pasar ritel yang lebih akrab terhadap risiko (risk friendly) sehingga risiko dan pelajaran krisis bukanlah hal yang menakutkan lagi, namun justru mampu memperkuat basis kognitif dan intelektualitas kita

Ketiga, keberagaman dapat menjadi kendala, jika kita meng-under-estimate kolektivitas dan kolaborasi di kalangan aktor-aktor sistem sosial. Bahkan platform cara berpolitik di Indonesia pun mesti dilihat sebagai sebuah “manajemen koalisi”. Keberagaman dapat menjadi kekuatan, karena kecenderungan masyarakat yang makin hari makin kolektif di era social media belakangan ini. Yang terkuat bukanlah yang paling banyak mengakuisisi dan menguasai aset, namun yang paling banyak bisa berbagi (sharing) aset. Sistem sosial harus dilihat sebagai satu “tubuh” dengan kecerdasan kolektif. Pemimpin adalah juga yang dipimpin.

Keempat, konflik sosial yang memberikan tekanan (stressor) pada sistem sosial secara keseluruhan mesti dipandang tak melulu sebagai persoalan keamanan belaka. Konflik sosial bagi sosiologi adalah pasar bagi ekonomi. Identitas sosial yang beragam di Indonesia mesti dapat memberikan kesiapan kita yang lebih kuat dalam menghadapi tren globalisasi yang, bagaimanapun, harus mendukung keterbukaan dan kesiapan me-maintain perbedaan. Perbedaan cara pandang merupakan energi progresivitas. Bahkan sains saat ini berkembang dalam tataran inter-disipliner.

Kelima, modernitas telah membawa kita pada momentum di mana modernisme ternyata meninggalkan begitu banyak ekses dan persoalan sosial ekologis. Kehidupan modern mesti membuka diri pada bentuk kecerdasan yang lahir melalui sifat heuristik dalam kecerdasan kolektif kita. Sebagai sebuah negara kepulauan yang memiliki kekayaan alam dan budaya yang tinggi, kita mesti mampu menjadi agen-agen kemanusiaan yang memadukan apa yang organis-tradisional dengan yang modern-konvensional sebagai kekuatan cendekia yang inspiratif bagi kemanusiaan. Ini yang disebut sebagai agenda “TeknoBudaya“. Tugasnya adalah menjadikan warisan budaya beratus, bahkan beribu tahun, menjadi mutakhir, canggih, dan menjadi penyedia cara pandang alternatif menghadapi persoalan sosial dan ekologis kita.

Keenam, ketika diversitas yang berkolaborasi menjadi kosa kata kunci, maka manajeman dan visi kita mesti diarahkan pada bagaimana interaksi menjadi semakin tinggi antar entitas warga. Secara praktis, setidaknya ada dua hal yang harus diperhatikan memandang kenyataan geografis kita. Dari sisi infrastruktur, cara pandang kita mestilah ekspansif, berorientasi keluar, dan berinteraksi. Orang-orang pada masa dulu disebut-sebut memiliki visi “maritim” jika memiliki wawasan serupa itu. Wawasan kemaritiman bukanlah sekadar eksploitasi bahari, namun bervisi keluar dan menantang ketakpastian melalui interaksi dan kolaborasi. Dari sisi suprastruktur, generasi kita adalah generasi yang beruntung karena kita hidup di era informasi. Koneksitas antar kelompok, komunitas, dan identitas kolektif mesti ditingkatkan dengan memanfaatkan teknologi informasi ini. Dua hal ini merupakan implementasi nyata dalam memandang kecerahan fajar 2013.

Ketujuh, kesadaran akan kompleksitas telah menempatkan sains yang makin interdisiplin, mendorong kolaborasi dan penerapan metode ilmiah sebagai upaya ekstraksi informasi dari data-data. Ini adalah “pucuk dicinta ulam pun tiba” dengan era informasi yang kita rayakan hari ini dan beberapa waktu ke depan. Pencerdasan hinggal level terkecil dari masyarakat Indonesia, yaitu desa, adalah agenda mendesak tahun ini menuju waktu-waktu ke depan yang penuh akan kebuntuan ketakpastian.

Dalam outlook tersebut tak terelakkan untuk memunculkan berbagai macam prediksi. Namun catatan menarik yang bisa diperhatikan adalah bahwa sinyal-sinyal prediksi akan apa yang mungkin terjadi harus dipandang sebagai bentuk wawasan demi antisipasi. Kenyataan sistem kompleks adalah karakteristik ketidakpastiannya yang ineheren, yang melarang kita melakukan prediksi dalam pengertian “tebakan presisi”. Di sini, kesadaran akan sistem kompleks tidak melihat “prediksi” sebagai “peramalan masa depan”. Prediksi harus dilihat sebagai kemampuan kita dalam mencerna berbagai informasi atas data-data yang berseliweran di depan kita, sehingga kita lebih siap menghadapi masa depan.

Sebagaimana ditutup oleh outlook tersebut, mari menjalani hari-hari kita di tahun 2013 dengan penuh optimisme, karena dengan ilmu pengetahuan, ketakpastian masa depan lebih pantas bersanding dengan optimisme daripada pesimisme!

  1. Desember 29th, 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: