Over-kompensasi sistem kompleks dan potensi munculnya kediktatoran baru!

Sistem organis sangat berbeda dengan sistem mekanik. Mobil bekas yang jarang dipakai memiliki harga jual yang lebih baik daripada yang sudah ratusan ribu kilometer dikendarai. Di sisi lain, otot atlet dan otak cendekia yang sering digunakan justru memiliki “harga jual” yang lebih baik daripada yang masih belum banyak “digunakan”.

Sistem mekanik aus dan rentan dengan kerusakan jika mendapat tekanan, benturan, gangguan saat digunakan. Sementara sistem organik seperti tubuh manusia justru makin kuat, hebat, dan kokoh saat mendapat stress, beban, dan gangguan saat “digunakan”. Inilah esensi kemampuan adaptif dari sistem kompleks.  Sebagaimana diungkap filsuf Friedrich Nietzsche yang sering dikutip, apapun yang tak membunuhnya, malah membuatnya makin kuat, kokoh, dan perkasa.

Dalam menghadapi benturan dan tekanan, sistem kompleks melakukan over-kompensasi, melipatgandakan antisipasi sistemik, bersiap untuk benturan atau tekanan lebih besar yang mungkin akan dialami berikutnya. Itulah sebabnya, berpuasa total untuk menurunkan berat badan bukanlah cara diet yang dianjurkan. Saat tubuh didera tekanan hebat dengan tiadanya makanan yang masuk, tubuh melakukan “persiapan” dengan mengurangi konsumsi energi saat beraktivitas.

Image

Lebih lanjut, sistem pencernaan “melipatgandakan” efektivitas  dan efisiensi kerjanya dalam mencerna makanan apapun yang masuk. Akibatnya, sekali subyek diet “balas dendam” dengan porsi makan yang sedikit saja berlebih, tubuh yang memiliki kemampuan menyerap kalori yang “berlipat ganda” itu bertambah berat badannya. Demikian pula misalnya sistem gerak yang disusun oleh otot-otot. Fasilitas over-kompensasi sistem-sistem organis kompleks dalam menghadapi risiko yang menderanya merupakan salah satu bentuk proses adaptasi yang membuat spesies kita bertahan sejak zaman purba dahulu, tapi jadi sumber persoalan obesitas manusia masa kini.Semakin otot dimanja dengan kemudahan, semakin ia lemah dan tubuh rentan dengan penyakit.

Sistem sosial juga adalah sistem kompleks. Proses sosial tak bisa dipandang sebagai proses mekanistik. Konsekuensinya, sistem sosial juga memiliki kemampuan over-kompensasi dalam menghadapi risiko sosial. Fenomena over-kompensasi ini terlihat jelas saat misalnya oleh karena kenaikan harga bahan bakar minyak di pasaran, harga barang-barang naik pula sekian rupiah. Namun, ketika misalnya harga bahan bakar minyak tersebut kemudian turun di pasaran, harga barang-barang lain sulit turun, atau kalaupun turun, tak proporsional kenaikan sebelumnya. Mesin dan proses mekanik jelas bukanlah analogi yang tepat untuk berbagai fenomena sosial. Memandang sistem dan proses sosial mesti dilakukan selayaknya sebagai sebuah proses hayati, organis, yang kompleks dan adaptif.

Semenjak jatuhnya rezim Orde Baru, kita merayakan kebebasan informasi dan kebebasan mengekspresikan pendapat secara bebas – suatu hal yang didukung pula dengan fenomena global maraknya penggunaan social media beberapa tahun terakhir ini. Bagaikan air dalam selang yang akhirnya dilepas sumbatnya, informasi menyembur deras dan bebas. Warga berekspresi, dan bahkan seolah-olah membentuk “intelijen partikelir warga” yang membongkar kebobrokan-kebobrokan pejabat publik, mulai dari level menteri, hingga level desa, baik tua maupun muda. Begitu banyak tuduhan perilaku korup terungkap. Korupsi tertuduhkan, namun tak dibarengi dengan banyaknya kasus yang sampai ke meja hijau, keburu tergantikan munculnya tuduhan pada oknum birokrasi atau aparatur negara yang lain.

Sebagaimana dalam sistem organis kompleks lain, jika risiko korupsi tak diimbangi kompensasi setimpal pada koruptor yang tertuduhkan, maka justru bisa terjadi over-kompensasi pada sistem yang korup tersebut. Ada sebuah titik saat semakin korupsi dibenci dalam tataran informasi, justru makin banyak praktik korupsi yang dirasakan terjadi. Sebagai bagian dari sistem sosial kompleks, jika pemberantasan korupsi terasa tak ampuh, sementara informasi tentang korupsi terus-menerus terkampanyekan, praktik korupsi malah berpotensi menguat. Sistem sosial yang “gagal” menghentikan koruptor, berpeluang memperkuat praktik korupsi itu.

Di sisi lain, informasi tentang ketegangan sosial dan konflik juga menghiasi panggung publik. Berbagai sentimen berbau SARA, yang tadinya direpresi oleh kekuatan Orde Baru kini hadir bebas di panggung-panggung publik. Birokrasi, institusi keamanan dan peradilan yang menjanjikan stabilitas seolah tak mampu menghempang berbagai kekisruhan yang terjadi. Entah kekisruhan berbau konflik antar identitas sosial maupun seliweran isu akan tuduhan demi tuduhan terkait berbagai ketidakadilan dan praktik korupsi yang terjadi di kalangan birokrasi. Kisruh, konflik elit hingga warga, korupsi, dan sebagainya telah seolah menjadi produk konsumsi publik, yang diproduksi entah dari seliweran media massa maupun media sosial antar warga.

Seolah lengkaplah sudah gambaran suasana yang sangat tidak stabil di etalase publik umum.

Semua ketakstabilan sosial yang dihidangkan di panggung publik tersebut merupakan tekanan yang dipandang sebagai bentuk risiko dalam kehidupan sosial. Ketika risiko tersebut terketengahkan dan gagal diatasi dengan tuntas, maka kerinduan akan suasana stabil dalam bentuk over-kompensasi pun muncul. Masyarakat mulai merindukan kestabilan dari “kepemimpinan yang kuat” yang mampu mengantarkan ke keadaan yang dianggap aman, damai sentosa. Konsep “kepemimpinan yang kuat” dalam definisi mampu menguatkan posisi bangsa di antara negara-negara di dunia pun terdistorsi dengan ilusi “kepemimpinan yang kuat” yang merepresi ketidakpastian, kekisruhan, yang kokoh menjaga stabilitas. Inilah fenomena over-kompensasi dalam sistem sosial kompleks kita.Image

Seolah-olah ada fenomena lupa kolektif, bahwa kebebasan berekspresi – yang memungkinkan ter-ekspresikannya berbagai tekanan sosial itu – adalah hasrat kolektif saat meruntuhkan kekuasaan tangan besi.  Kepemimpinan yang terkesan berhasil menjaga kestabilan sosial dan ekonomi – meskipun korup, mulai “dirindukan” justru setelah lebih satu dekade reformasi menggulingkannya. Apalagi ketika memang terasa begitu banyak kasus yang dilakukan elemen-elemen penyokong rezim yang telah runtuh itu, tak melalui proses peradilan demokratis sebagaimana jargon proses reformasi.

Sebagai sebuah informasi, apapun yang tak mampu membunuh korupsi secara tuntas, berpotensi memperkuat praktiknya di masyarakat. Apapun yang tak mampu menumpas kediktatoran, berpotensi memunculkannya lagi di kemudian hari dalam bentuk dan sosok yang bisa lebih menyeramkan. Menjamin tak munculnya peluang kediktatoran korup yang baru rupanya lebih sulit daripada meruntuhkan kediktatoran yang korup.

Bandung, Februari 2013

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: