Pemilu 2014, pemilu paling “SocMed” (?)

Kemajuan teknologi informasi selalu mendorong terjadinya perubahan dalam dunia politik. Demikianlah yang terjadi, mulai dari ketika layar televisi menjadi panggung politik di era 60-an, sampai era media sosial dan internet seperti saat ini. Politik bukan lagi sekedar perdebatan di ruang parlemen maupun kesepakatan-kesepakatan gelap di balik panggung. Saat ini politik adalah hiburan warga melalui tayangan-tayangan debat di televisi, juga bahan percakapan yang seru dan menyenangkan di media sosial.

Di tahun 1969 kita mengingat John F Kennedy sebagai politisi pertama yang mendapat berkah atas penayangan debat kandidat presiden Amerika di televisi. Dan belum lama ini, dalam pemilu Amerika 2008,  kita juga menyaksikan bagaimana Barack Obama berhasil memanfaatkan media sosial sebagai medium kampanya yang sangat efektif untuk menjangkau pemilih muda Amerika. Keduanya sama-sama muda, relatif tidak terkenal awalnya, namun sukses menggapai kekuasaan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi. Mereka adalah ikon dari evolusi dunia politik.

Media dan jejaring sosial saat ini  memainkan peran yang kritikal di balik terjadinya sejumlah peristiwa sosial politk. Sulit membayangkan serangkaian revolusi sosial di Timur Tengah (Arab Spring) dapat terjadi tanpa adanya teknologi internet dan aplikasinya seperti blogtwitteryoutube, facebook.   Hadirnya berbagai macam medium komunikasi baru tersebut telah mengubah secara fundamental cara kita berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain. Proses  mencari  dan  berbagi informasi  menjadi semakin mudah, yang pada gilirannya mendorong  proses  difusi  informasi  di  dalam  masyarakat menjadi semakin cepat.

Topografi trend twit

Topologi kata-kata dalam twit selama masa PILEG 2014: dua kata/frasa ditunjukkan berhubungan jika pernah digunakan oleh satu akun twitter tertentu dalam percakapannya.

Bagaimana dengan dunia politik Indonesia? Jika tahun 2004 kita menyaksikan televisi dan iklan-iklan kampanye politik mendominasi keriuhan pemilu, dalam pemilu kali ini panggung politik itu diperluas ke dunia media sosial. Para politisi ramai-ramai memanfaatkan Twitter dan Facebook untuk berkampanye. Mulai dari membuka akun resmi yang mewakili sang politisi sampai memanfaatkan “pasukan maya” untuk meningkatkan popularitas kandidat juga menyerang kandidat lain. Lihat saja sejumlah trending topic yang terkait pemilu Indonesia yang ternyata diproduksi oleh pembicaraan antar robot maupun akun bayaran.  Bisa dibayangkan repotnya para progammer Twitter mencegah manipulasi informasi semacam ini.

Akses informasi yang semakin terbuka dan murah ternyata tidak serta merta membuat persoalan kualitas  demokrasi kita terselesaikan. Paradoks yang muncul adalah distraksi dan distorsi opini publik justru terjadi secara natural  pada saat informasi yang tersedia berlimpah.

Mungkin inilah pemilu yang paling “media sosial”. Terlepas dari apapun dampaknya, kita patut merayakannya sebagai masa di mana fenomena  politik  dan  dinamika  penyebaran  informasi dapat diamati secara  detail  dan dalam  skala  yang  tidak  pernah kita dibayangkan  sebelumnya. Tinggal sekarang timbul tanya kecil di hati, adakah di Pemilu paling “media sosial”, politisi yang paling “media sosial” pula yang akan memenangkan percaturan pemilihan politik!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: