Ramainya Pilpres 2014 di Twitter

capres1

Mungkin inilah saat pertama ketika percaturan politik kita sangat didominasi peran media sosial. Mungkin, saat ini pulalah jutaan akun media sosial menjadi sangat politis. Ketika panggung politik terbelah dalam dua arus kelompok elit politik menjadi kubu Jokowi-JK dan kubu Prabowo-Hatta, “specimen” media sosial pun “terbelah” dalam dua aras percakapan politis. Pesta demokrasi menjadi sangat media sosial, dan media sosial pun merayakan demokrasi pemilihan umum.

Ketika sebuah akun twitter meng-update status yang menunjukkan pendirian, pemikiran, dan pilihan politiknya, akun lain yang mem-follow-nya pun turut berkomentar. Bisa setuju dan bisa pula tidak. Bisa sekadar me-retweet, bisa pula mengajak dialog dalam bentuk reply. Sadar atau tidak, jutaan pemilik akun-akun tersebut saling membentuk komunitas: kelompok-kelompok diskusi online di dunia maya. Diskusinya seru, satu komunitas tak mesti berbarengan dan dalam pilihan yang homogen. Justru dalam komunitas-komunitas online tersebut, ada yang pro dan ada pula yang kontra. Di masing-masing komunitas tersebut, ada yang mendukung Jokowi-JK, ada yang mendukung Prabowo-Hatta, ada yang “sok” netral, ada pula yang sekadar nimbrung lucu-lucuan dengan “meme“, gambar-gambar yang dijadikan komik dengan komentar-komentar jenaka. Media sosial menjadi seru dan menarik, semenarik warung-warung kopi di pelosok-pelosok nusantara menjelang peristiwa sosial politik besar di zaman dulu, jauh sebelum komunikasi online masih jadi bagian imajinasi para teknolog dan ilmuwan komputer.

Dahulu kala, impian untuk bisa menangkap kolektivitas mereka yang ngomongin politik di warung-warung kopi hanya bisa dilakukan melalui survey. Rezim diktator Orde Baru bahkan “menumbuhkan” struktur intelijen negara hingga level lorong perkotaan dan pedesaan yang “memata-matai” rakyat sendiri. Rezim otoriter memang lebih “takut” pada rakyatnya sendiri daripada dengan negara tetangga atau gerombolan kapitalis luar negeri yang tergiur dengan potensi nusantara.

Tapi sungguh hal itu tak diperlukan lagi hari ini dan di masa yang akan datang. Peradaban modern telah melahirkan berbagai aplikasi teknologi informasi sebagai adik bungsu dari anak sulungnya, yaitu demokrasi itu sendiri. Kini, atas nama eksistensi sosial, atas nama social climbing, atas nama “selfie“, atas nama minat, atau sekadar atas nama hiburan, manusia modern berceloteh dan berdiskusi dengan serunya di media sosial. Pembicaraan tak lagi hilang ditelan sepoi angin pedesaan dan secangkir kopi dan gorengan yang perlahan dingin, tapi menjadi “abadi”, tersimpan sebagai bit-bit informasi yang dapat dibaca oleh siapapun. Media sosial telah menjadikan manusia tak lagi hanya bisa dipertemukan geografi, tapi juga dapat dipertemukan oleh topik pembicaraan yang sama.

Struktur intelijen yang ribet itu pun terpangkas habis oleh beberapa algoritma yang mengenali pembicaraan, pembicara dan mereka yang ikut nimbrung. Sebuah algoritma yang dikembangkan di Dept. Computational Sociology Bandung Fe Institute yang adalah Research Center for Complexity Studies di Surya University, “membaca” semua twit-twit dan update status orang Indonesia untuk melihat bagaimana struktur sosial online terbentuk di dunia maya. Kelompok-kelompok diskusi tercitra melalui algoritma tersebut, bukan sebagai sampling, tapi sebagai populasi seluruh mereka yang “berkicau” melalui gadget masing-masing.

Capture
Kampanye negatif bergaya karikatural meme yang berkembang di media sosial.

Dan ketika masa pemilihan umum tiba, kelompok-kelompok diskusi pun terbentuk. Ada kelompok diskusi yang dominan membicarakan tentang Capres-Cawapres Prabowo-Hatta, dan ada pula yang membicarakan Jokowi-JK. Ada kelompok diskusi yang sengaja “dibikin” untuk mengajak orang membicarakan salah satu pasangan capres/cawapres itu, dan ada pula kelompok-kelompok diskusi yang muncul “alamiah” saja membicarakan salah satu atau kedua kandidat pimpinan negara itu.

Hingga tulisan ini dibuat rata-rata terdapat lebih dari 150 komunitas online membicarakan tentang Capres Prabowo, dan rata-rata hampir 200 komunitas twitter aktif membicarakan Capres Jokowi setiap hari. Capres Jokowi memang terkenal dengan “pasukan” media sosial-nya, barangkali itu yang menobatkan pak Joko Widodo sebagai politisi paling socmed dalam sejarah politik negeri kita.

Namun kubu Jokowi-JK memang paling bisa menarik orang untuk berbicara tentang kandidat ini. Rata-rata ukuran maksimum peserta komunitas-komunitas diskusi di twitter Jokowi mencapai 1700 akun setiap hari. Berbeda dengan diskusi tentang pak Prabowo Subianto yang rata-rata partisipasi maksimum per harinya bisa mencapai 1200-an peserta. Tentu kita harus mencatat, bahwa masing-masing peserta yang membicarakan topik salah satu capres tersebut tak selalu mendukung capres yang dibicarakan. Tapi setidaknya ini menunjukkan bahwa demikianlah gambaran kuantitas pembicaraan topik-topik di seputar isu pencapresan keduanya.

Semakin mendekati waktu pencoblosan, media sosial makin ramai pula membicarakan kedua calon pemimpin itu. Dari ribuan komunitas-komunitas yang terbentuk itu, kita mencoba mem-visualisasikan komunitas-komunitas yang ada.

capres3

Komunitas-komunitas yang mempercakapkan calon presiden RI 2014. Makin besar bulatannya, makin besar jumlah partisipannya. Makin merah warnanya, makin dominan topik terkait “Jokowi”, dan makin biru, makin dominan topik terkait “Prabowo”. Di masing-masing bulatan ditunjukkan siapa akun yanh paling sentral membicarakan topik-topik tersebut. Menarik untuk mengamati bahwa yang paling sentral dalam masing-masing komunitas, tak mesti seorang selebritas atau “seleb-tweet“.

Topik pembicaraan mengalir terus, dan sebagaimana percaturan politik, gesekan juga bisa terjadi di sana-sini. Pola dukung-mendukung, hujat-menghujat pun tak lagi terbatas pada teks yang terbatas 140 karakter itu. Karikatur-karikatur kecil dengan pesan dukungan atau hujatan berseliweran, dan tak sedikit pula yang menyebar hingga menjadi topik yang tren di masa yang sangat politis ini.

Media sosial telah “membentuk” pola hidup demokrasi dan kebebasan ekspresi warga kita dengan “mendelegitimasi” tokoh-tokoh, pemimpin, dan elit politik negara. Tampang mereka di-“preteli“, dibikin sebagai bahan humor yang disebut sebagai salah satu pola “black campaign“. Ada ketegangan sosial yang tinggi terbaca dalam twit-twit dan update status warga di situ. Di samping puja dan puji pada kandidat politisi yang didukung, banyak sekali pula hina dan maki kesal yang tertuju pada kandidat politisi yang tak disukai. Semuanya bebas dan gemercik api konflik telah terjadi di dunia maya.

capres2
Bipolaritas politik dalam percakapan di Twitter

Di samping penduduk Indonesia dengan usia produktif yang besar jumlahnya, bangsa kita memang suka bergunjing. Apa saja bisa jadi topik pembicaraan. Suksesi kepemimpinan nasional tentu adalah topik yang menarik untuk dipergunjingkan. Terkait dengan begitu banyaknya gesekan yang terekam di dunia maya itu, semoga tak perlulah sampai terbawa ke dunia nyata, ke jalanan, ke realitas sosial politik warga. Semoga riuh-rendah soal capres di media sosial ini hanya karena memang kita haus topik diskusi & pembicaraan: cukup di dunia maya, nyatanya masing-masing warga masyarakat sebenarnya berkarya dan bekerja.

Kawasan-kawasan rentan konflik horizontal di Indonesia jelang dan hari-H keterlaksanaan Pemilihan Presiden RI 2014 berdasarkan crunching analitik data perolehan suara, exit-poll, laporan berbagai lembaga survey, dan berbagai pemberitaan media massa. Semakin gelap warnanya, semakin rentan potensi konflik.

Sungguh menjadi bijak memberi pujian dan menerima makian adalah harapan kita saat berpolitik dengan media sosial. Biarlah politik menjadi topik yang menghibur kita di sela-sela kesibukan sehari-hari, tak usah dunia nyata dan pergaulan sehari-hari terbawa dan terimbas suasana tegang di dunia maya. Biarlah para campaigner dan “pasukan” media sosial itu saling beraksi, karena itu memang adalah periuk nasi mereka, dan toh aksi mereka akan mematangkan kita pula dalam memberikan pilihan demokratis nantinya. Di sisi lain, biarlah para politisi, aktor politik, pimpinan partai, aktivis, maupun kandidat menjadi makin dewasa, cerdas, makin menghargai sains dan teknologi, yang mereka gunakan untuk menyerap aspirasi dan informasi dari pembicaraan-pembicaraan para warga “republik twitter”.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: