Polarisasi dalam demokrasi: dari ajang Idol-an ke Pemilu

Idealnya demokrasi berdiri di atas dua kaki: keberagaman dan permusyawaratan, yakni di satu sisi adanya penerimaan akan kekhasan setiap individu, dan di sisi lain adanya kesadaran dan upaya terstruktur untuk memfasilitasi terjadinya pertukaran pemahaman dan pemikiran yang beragam sedemikian sehingga perbedaan cara pandang dapat termoderasi dengan baik. Dalam kenyataannya permufakatan yang tunggal sulit  terwujud. Demokrasi modern menjadikan voting sebagai jalan untuk mencapai kesepakatan.

Persoalannya kemudian bukan pada sulitnya menemukan jalan tengah di antara ragam alternatif yang ada.  Atau ketika preferensi publik atas alternatif-alternatif tersebut yang tidak berbeda jauh, misalnya terjadi situasi 50.001 % mendukung X vs 49.999 % menolak X, suatu situasi yang membuat demokrasi voting terlihat konyol.  Persoalannya bukan di situ, tapi pada kenyataan bahwa dinamika dari proses demokrasi (atau bahkan proses sosial) senantiasa  disertai dengan terjadinya formasi kelompok yang saling berbeda satu sama lain.   Ketika identitas dan solidaritas internal menguat dan memberikan umpan balik pada penajaman perbedaan antar  kelompok maka polarisasi dan ekstrimisasi preferensi, suatu hal yang sering dianggap sebagai penyakit demokrasi, menjadi tidak dihindarkan.

Birds of a feather flock together“, demikian kata pepatah.  Di satu sisi individu cenderung membangun relasi dengan orang yang memiliki kesamaan dengan dirinya, sementara di sisi lain relasi sosial: pertemanan, hubungan darah dan lain-lain menjadi medium dimana proses saling mempengaruhi terjadi. Di level mikro kita menyaksikan bagaimana preferensi seseorang terkait dengan preferensi orang-orang di sekitarnya. DI level makro kita mengamati fenomena formasi kelompok. Ini adalah hal yang alami dalam dinamika kelompok di mana seolah-olah ada kekuatan besar yang selalu menarik dan menempatkan setiap orang untuk berada dalam kelompok yang homogen.

xfac dan pemilu

Gambar 1: (Kiri): peta perbincangan pengguna twitter Indonesia terkait dengan kompetisi X-Factor Indonesia. Warna mewakili preferensinya terhadap kontestan (merah: Fatin,Biru: Novita,Hijau: Nu Dimension; interval data 6  sampai  17 Mei  2013); (Kanan): peta komunitas pengguna twitter dalam pemilu 2014 (data: 10 Mei-24 Mei 2014). Setiap komunitas tersusun atas sejumlah pengguna, semakin besar maka semakin banyak pengguna yang tergabung di dalamnya. Warna menunjukan tendensi preferensi mayoritas pengguna di dalamnya: semakin biru maka semakin mengarah ke Prabowo, sebaliknya semakin merah maka makin ke Jokowi.

 

Polarisasi preferensi dapat dengan mudah teramati di media sosial. Meskipun twittersphere seolah-olah dunia yang berbeda dimana setiap orang bebas membangun relasi mencari dan berbagi informasi dengan siapapun, tapi kenyataannya sejumlah hukum dan proses sosial tetap berlaku.  Dalam situasi dimana kontestasi atas sebuah isu terjadi, kita dengan mudah melihat bahwa setiap orang cenderung berinteraksi dengan orang lain yang memiliki preferensi yang sama. Retweet dan mention menjadi cara setiap orang berkomunikasi dan menyatakan dukungannya serta mendorong terbentuknya kelompok-kelompok yang memiliki pemahaman sama atas sesuatu isu (Gambar 1).

Informasi yang membludak dan ruang komunikasi yang terbatas dalam 140 karakter membuat twitter dan sejumlah media sosial lainnya sulit diharapkan menjadi medium demokrasi yang deliberatif.  Meskipun komunikasi antar mereka yang berbeda kelompok juga terjadi, tetapi  lebih sering dalam rupa twitwar daripada dialog. Untungnya adalah tidak mudah mengaitkan antara gesekan antar kelompok di dunia maya dengan apa yang mungkin terjadi di dunia nyata.

Fenomena polarisasi juga ditemukan di level interspasial (gambar 2). Fenomena polarisasi politik yang terkenal adalah fenomena red-blue state dalam geografi politik Amerika Serikat. Fenomena  yang menunjukan adanya  tendensi pengelompokan wilayah membentuk basis-basis pemilih partai Republik dan Demokrat ini muncul secara persisten dalam beberapa dekade terakhir. Apa yang disebut sebagai wilayah basis tidak harus merupakan  wilayah yang dimenangkan oleh sebuah partai, melainkan ketika wilayah tersebut memiliki korelasi secara spasial dengan tetangganya. Artinya, wilayah basis adalah wilayah yang dikelilingi oleh wilayah basis lainnya.

hs indo us

Gambar 2: (atas) Pengelompokan wilayah yang menjadi basis partai Demokrat (biru) dan Republik (merah) berdasarkan data pemilu USA 2008. Gradasi warna menunjukan level signifikansi, warna abu-abu tidak signifikan; (bawah) Pengelompokan wilayah yang menjadi basis suara pemilih Megawati (merah) dan SBY (biru) berdasarkan data pemilu presiden 2004 putaran 2. Gradasi warna menunjukan level signifikansi, warna putih tidak signifikan.

 

Melihat dua hal di atas  kita menyadari sepenuhnya bahwa, baik di level interpersonal maupun interspasial, proses formasi kelompok dan polarisasi preferensi secara natural menyertai prosesi demokrasi. Apa yang mungkin dilakukan untuk mewujudkan kondisi ideal dari demokrasi deliberatif adalah dengan mengupayakan agar polarisasi yang terbentuk adalah hasil dari proses belajar setiap individu di dalam sistem, bukan hanya sekedar produk dinamika sosial. Keberagaman cara pandang, diskusi dan perdebatan di dalam internal kelompok maupun dialog antar kelompok  akan mencegah , di satu sisi, terbentuknya kelompok yang homogen secara absolut, dan di sisi lain, pengerasan batas-batas antar kelompok.   Pada akhirnya polarisasi preferensi hanya akan bersifat situasional semata.

Ardian maulana

peneliti bandung fe institute

twitter:@ardianeff

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: