Arsip Penulis

Berdemokrasi Secara Realistis

Ada kesan kegamangan ketika memandang masa depan demokrasi di Indonesia. Kita tetap meyakini demokrasi adalah pilihan terbaik.  Namun argumen  seperti “demokrasi kita masih bersifat prosedural”, ”pemilih kita belum rasional”  makin sering terdengar.  Kegamangan tersebut sering kali bermula dari penolakan atas realita proses demokrasi itu sendiri.

googlebook demokrasi

Gambar 1: (atas):kilasan wacana demokrasi di media massa; (bawah): kecenderungan penggunaan kata democracy, monarchi, oligarcy dan autocracy dalam 5.2 juta buku yang telah didigitalisasi oleh google sampai tahun 2008. Terlihat adanya persilangan antara wacana demokrasi dan monarki di akhir abad ke-19. Setelah itu demokrasi menjadi wacana yang dominan di kalangan intelektual.

Baca lebih lanjut

Iklan

Polarisasi dalam demokrasi: dari ajang Idol-an ke Pemilu

Idealnya demokrasi berdiri di atas dua kaki: keberagaman dan permusyawaratan, yakni di satu sisi adanya penerimaan akan kekhasan setiap individu, dan di sisi lain adanya kesadaran dan upaya terstruktur untuk memfasilitasi terjadinya pertukaran pemahaman dan pemikiran yang beragam sedemikian sehingga perbedaan cara pandang dapat termoderasi dengan baik. Dalam kenyataannya permufakatan yang tunggal sulit  terwujud. Demokrasi modern menjadikan voting sebagai jalan untuk mencapai kesepakatan. Baca lebih lanjut

Sains dan Kompleksitas Hukum

Pada prinsipnya membangun negara itu seperti mendirikan rumah. Ia melindungi penghuninya dari panas, dingin, penyakit, hingga menjaga privasi pemiliknya. Negara melindungi warganya agar leluasa mengaktualisasikan diri demi kebahagiaannya, mengatasi gangguan kehidupan, hingga menjaga kedaulatannya.

Rumah memiliki fondasi yang di atasnya disusun batu bata dan elemen-elemen lainnya. Negara mempunyai fondasi dasar Pancasila dan UUD 45, kemudian di atasnya disusun berbagai perangkat perundang-undangan. Namun tentu saja, tujuan bernegara jauh lebih kompleks daripada mendirikan rumah. Jika memdirikan rumah mengenal kata “selesai”, maka pembangunan kehidupan bernegara tak akan pernah usai. Dinamika legislasi membuat perundang-undangan senantiasa berubah. Baca lebih lanjut

KADO yang TELAT

Setiap orang memiliki hari kelahiran. Tidak hanya kelahiran manusia yang dirayakan, merayakan hari lahirnya suatu institusi, organisasi maupun negara menjadi tradisi yang terus diulang setiap tahunnya.

Pendeknya, memperingati hari saat dimulainya kehidupan seseorang di dunia merupakan hal yang jamak, bukan hanya  saat ini tapi sejak dahulu kala. Sejak kapan? Yang pasti hal ini tentu terkait dengan masa dimana manusia mulai bisa memberikan tanda pada hari-hari dalam kehidupannya, dan menjalani kehidupan dalam siklus waktu yang tetap berdasarkan kalender atau apapun itu yang menjadi penandanya. Bayangkan saja, bagaimana mungkin mengucapkan selamat ulang tahun pada seseorang yang usianya seumur dengan pohon mangga di samping rumah? Ini seperti cerita orang-orang tua dulu yang kelahirannya ditandai dengan penanaman pohon mangga. Baca lebih lanjut

#savejkt?

Seperti tulisan sebelumnya, topik kali ini pun berawal dari keisengan saat time line saya dipenuhi kicauan tentang Jakarta yang makin ruwet. Soal macet, banjir, sampah dan foke  mungkin kicauan umum para tweeps Jakarta. Ini jadi menarik ketika kemuakan itu kemudian terorganisir dalam hashtag #save jkt. Rupanya ‘sekelompok tweeple’ sedang menginisiasi sebuah gerakan sipil penyelamatan Jakarta di twitland. Kata “gerakan“ saja sudah sangat menarik bagi saya, apalagi diembel-embeli pemanfaatan twitter sebagai alat mobilisasi untuk tujuan politik: (mengutip seorang “sosiolog” RT@ sociotalker) “kita mencari kandidat (gubernur Jakarta) non parpol yang didukung warga..bukan parpol,parpol perlu kompetitor agar bs benahi diri”. Maka keisengan pun berlanjut menjadi sebuah laporan sederhana berikut.

Gambar 1: Network interaksi antar tweeple dalam #savejkt

Baca lebih lanjut

Mimpi Presiden dan Ketidakadilan Sejarah Piala Dunia

“Rich not only get richer, but get disproportionately richer.”

“…Indonesia Punya Kesempatan Masuk Piala Dunia…” [1]. Demikianlah harapan bapak Presiden saat nonton bareng di kediamannya, Puri Cikeas Bogor. Mungkin tidak yah? Tulisan berikut ini adalah laporan iseng hasil otak-atik data historis pertandingan piala dunia.

Baca lebih lanjut

Kebrojolan Tiki-Taka, di antara Der Panzer dan Samba

Satu bulan penuh mayoritas penduduk bumi dihibur oleh sajian orkerstra seniman-seniman bola yang berlaga di Piala Dunia 2010. Ada orkestra yang sederhana dan membosankan untuk ditonton. Ada juga orkestra yang mampu memacu adrenalin penonton dengan kejutan-kejutan dari keindahan gerak individu maupun kolektifitas sebuah tim. Siapa yang tidak terpesona ketika Messi ataupun Robinho menggoyangkan kakinya menembus jantung pertahanan lawan. Siapa yang tidak menghela napas kagum oleh aksi kolektif Xavi dkk yang memainkan bola dari kaki ke kaki. Orang bilang ini adalah gaya tiki-taka yang secara mekanistik juga dimainkan oleh Jerman. Baca lebih lanjut

Iklan