Arsip Penulis

Matematika Buruk Kebijakan Energi

Pak Ujang adalah seorang tukang becak, sebuah kendaraan yang tidak menggunakan BBM. Suatu ketika pemerintah menaikkan tarif BBM. Harga mie instan kemudian mengalami kenaikan karena proses produksi dan pengangkutannya membutuhkan BBM. Pak Ujang sangat sering mengkonsumsi mie instan, karena harganya yang relatif murah. Apakah Pak Ujang akan menaikkan tarif becak akibat kenaikan BBM? Menurut perspektif “matematika garis lurus” yang lazim digunakan dalam menyusun kebijakan energi, Pak Ujang pasti tidak akan menaikkan tarif, alasannya karena becak tidak menggunakan BBM. Namun, jika kita memperhatikan efek rantai kenaikan harga maka Pak Ujang bisa jadi akan menaikkan tarif becak. Pak Ujang terpaksa menaikkan tarif becak karena terdesak oleh peningkatan biaya kebutuhan hidupnya. Ada peluang kenaikan tarif becak tersebut kemudian diikuti oleh Pak Hari, Pak Budi, Pak Imin dan para tukang becak lainnya. Faktor ini disebut dengan efek mengerumun kenaikan harga.

Selama ini, para kita (para ekonom) sangat sering menggunakan perspektif “matematika garis lurus” dalam merumuskan kebijakan energi, khususnya dalam melihat hubungan antara kenaikan tarif komoditas energi terhadap infasi. Perspektif “matematika garis lurus” secara sederhana dapat dirumuskan sebagai berikut:

  • ada X% bobot kontribusi komoditas energi Y (misalnya listrik, bensin, solar, minyak tanah, dan seterusnya),
  • jika harga Y naik sebesar Z% maka sumbangan inflasi yang diberikan adalah X% dikali Z%.

Perspektif ini dijadikan rujukan oleh para pemangku kebijakan di republik ini, mulai dari Presiden, Menteri Keuangan, Menteri Perdagangan, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, hingga Kepala Badan Pusat Statistik, sebagaimana dapat kita lihat dari cuplikan-cuplikan berita berikut ini:

Baca lebih lanjut

Akuntabilitas Kebijakan Ekonomi

Pada pertengahan Juli 2010, presiden menyatakan bahwa “biaya listrik hanyalah sekitar 4,5%, jadi kalaupun ada kenaikan harga seharusnya adalah 12% dari 4.5% (atau 0,54%)”. Prediksi inflasi akibat kenaikan TDL tidak hanya diumukan oleh presiden. BPS memproyeksikan 0,22%. BI mengeluarkan nilai maksimum 0,3%.

Awal Agustus 2010, BPS mengumumkan data inflasi bulan Juli 2010 sebesar 1,57%. Jika angka ini dinormalisasi terhadap data historis maka dapat disimpulkan bahwa ketiga prediksi tersebut melenceng jauh. Padahal kondisi ini berlaku dengan asumsi pengaruh TDL hanya terjadi pada bulan Juli. Jika terjadi efek psikologis TDL bulan Juni atau efek lanjutan pada bulan Agustus dihitung maka ketidakakuratan prediksi tersebut menjadi bertambah besar. Baca lebih lanjut

“DNA” Batik Indonesia

Kehidupan begitu mempesona. Telur ayam tumbuh menjadi ayam dewasa. Namun kehidupan tidak hanya tumbuh, ia juga dapat berubah. Sebuah spesies dapat berkembang menjadi spesies baru. Palaeomastodon berevolusi menjadi beraneka ragam jenis gajah.

Yang mengagumkan adalah proses ini mengikuti sejumlah keteraturan. Telur ayam tidak akan tumbuh menjadi angsa. Palaeomastodon tidak berevolusi menjadi ular. Keteraturan ini melahirkan sebuah pertanyaan besar. Apa rahasia di balik proses tersebut?

Tahun 1794, Eramus Darwin melontarkan pertanyaan kontroversial, “apakah awal semua kehidupan organik adalah sebuah benang hidup yang sejenis”. 65 tahun kemudian cucunya, Charles Darwin, kembali menggunakan kata “benang” pada topik tersebut.

Argumentasi ini menguat dengan penemuan DNA. Asam inti tersebut menyimpan cetak biru perkembangan mahluk hidup. Polimer ini berbentuk seperti benang yang terpilin. Rahasia kehidupan alam tersimpan melalui “benang” yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Informasi pada “benang” tersebut menjamin telur ayam tidak akan tumbuh menjadi angsa. Kode-kode ini dapat berubah secara gradual. Ia menjamin palaeomastodon tidak akan serta-merta berevolusi menjadi ular. Baca lebih lanjut

Refleksi Atas Sengketa Tari Pendet

Iklan pariwisata Malaysia, yang menggunakan Tari Pendet dari Bali, menuai kontroversi. Dari data yang ada, ini adalah kasus persengketaan budaya yang ke-21 dengan pihak Malaysia.

Masyarakat bereaksi keras. Terjadi kekisruhan hebat antar warga negara, khususnya di dunia maya. Pihak DPR menilai ini terjadi karena pihak eksekutif lalai mendaftarkan HAKI artefak budaya dan lamban melakukan proses inventarisasi. Sejumlah anggota DPR bahkan bereaksi lebih keras lagi: jika perlu Dubes Malaysia dipulangkan.

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata mengecam dan mengirimkan surat teguran keras. Departemen Luar Negeri terus berupaya mengklarifikasi dengan pihak Malaysia.

Hal ini hendaknya dilihat dengan arif dan bijaksana. Tindakan reaktif penting. Namun, ia tidak akan menyelesaikan akar permasalahan.

Artikel ini berupaya untuk membedah latar belakang peristiwa ini. Mengapa kasus-kasus ini terus terjadi berulang-ulang dengan intensitas yang meningkat? Diskusi ini juga berupaya mengkaji sejumlah langkah strategis menyikapi kecenderungan tersebut. Baca lebih lanjut

Dunia Dua Titik Nol

Evolusi biologi dan teknologi memiliki pola yang sama. Ia tidak membentuk sebuah garis lurus, melainkan cenderung bersifat eksponensial. Apa artinya? Pada awalnya ia berkembang dengan sangat lambat, namun kemudian melaju dengan semakin cepat.

Coba kita cermati perkembangan kehidupan biologi. Perubahan molukel menjadi mahluk multisel membutuhkan waktu lebih dari 2 milyar tahun. Perkembangan multisel menjadi mamalia berlangsung sekitar 380 tahun. Selisih waktu kemunculan mamalia dan primata pertama sekitar 150 juta tahun. Evolusi primate tertua menjadi homo sapiens (manusia) hanya memakan waktu sekitar 55 juta tahun. Baca lebih lanjut