Posts Tagged ‘ POLITIK ’

Berdemokrasi Secara Realistis

Ada kesan kegamangan ketika memandang masa depan demokrasi di Indonesia. Kita tetap meyakini demokrasi adalah pilihan terbaik.  Namun argumen  seperti “demokrasi kita masih bersifat prosedural”, ”pemilih kita belum rasional”  makin sering terdengar.  Kegamangan tersebut sering kali bermula dari penolakan atas realita proses demokrasi itu sendiri.

googlebook demokrasi

Gambar 1: (atas):kilasan wacana demokrasi di media massa; (bawah): kecenderungan penggunaan kata democracy, monarchi, oligarcy dan autocracy dalam 5.2 juta buku yang telah didigitalisasi oleh google sampai tahun 2008. Terlihat adanya persilangan antara wacana demokrasi dan monarki di akhir abad ke-19. Setelah itu demokrasi menjadi wacana yang dominan di kalangan intelektual.

Baca lebih lanjut

Polarisasi dalam demokrasi: dari ajang Idol-an ke Pemilu

Idealnya demokrasi berdiri di atas dua kaki: keberagaman dan permusyawaratan, yakni di satu sisi adanya penerimaan akan kekhasan setiap individu, dan di sisi lain adanya kesadaran dan upaya terstruktur untuk memfasilitasi terjadinya pertukaran pemahaman dan pemikiran yang beragam sedemikian sehingga perbedaan cara pandang dapat termoderasi dengan baik. Dalam kenyataannya permufakatan yang tunggal sulit  terwujud. Demokrasi modern menjadikan voting sebagai jalan untuk mencapai kesepakatan. Baca lebih lanjut

Over-kompensasi sistem kompleks dan potensi munculnya kediktatoran baru!

Sistem organis sangat berbeda dengan sistem mekanik. Mobil bekas yang jarang dipakai memiliki harga jual yang lebih baik daripada yang sudah ratusan ribu kilometer dikendarai. Di sisi lain, otot atlet dan otak cendekia yang sering digunakan justru memiliki “harga jual” yang lebih baik daripada yang masih belum banyak “digunakan”.

Sistem mekanik aus dan rentan dengan kerusakan jika mendapat tekanan, benturan, gangguan saat digunakan. Sementara sistem organik seperti tubuh manusia justru makin kuat, hebat, dan kokoh saat mendapat stress, beban, dan gangguan saat “digunakan”. Inilah esensi kemampuan adaptif dari sistem kompleks.  Sebagaimana diungkap filsuf Friedrich Nietzsche yang sering dikutip, apapun yang tak membunuhnya, malah membuatnya makin kuat, kokoh, dan perkasa.

Dalam menghadapi benturan dan tekanan, sistem kompleks melakukan over-kompensasi, melipatgandakan antisipasi sistemik, bersiap untuk benturan atau tekanan lebih besar yang mungkin akan dialami berikutnya. Itulah sebabnya, berpuasa total untuk menurunkan berat badan bukanlah cara diet yang dianjurkan. Saat tubuh didera tekanan hebat dengan tiadanya makanan yang masuk, tubuh melakukan “persiapan” dengan mengurangi konsumsi energi saat beraktivitas. Baca lebih lanjut