Posts Tagged ‘ twitter ’

Polarisasi dalam demokrasi: dari ajang Idol-an ke Pemilu

Idealnya demokrasi berdiri di atas dua kaki: keberagaman dan permusyawaratan, yakni di satu sisi adanya penerimaan akan kekhasan setiap individu, dan di sisi lain adanya kesadaran dan upaya terstruktur untuk memfasilitasi terjadinya pertukaran pemahaman dan pemikiran yang beragam sedemikian sehingga perbedaan cara pandang dapat termoderasi dengan baik. Dalam kenyataannya permufakatan yang tunggal sulit  terwujud. Demokrasi modern menjadikan voting sebagai jalan untuk mencapai kesepakatan. Baca lebih lanjut

KADO yang TELAT

Setiap orang memiliki hari kelahiran. Tidak hanya kelahiran manusia yang dirayakan, merayakan hari lahirnya suatu institusi, organisasi maupun negara menjadi tradisi yang terus diulang setiap tahunnya.

Pendeknya, memperingati hari saat dimulainya kehidupan seseorang di dunia merupakan hal yang jamak, bukan hanya  saat ini tapi sejak dahulu kala. Sejak kapan? Yang pasti hal ini tentu terkait dengan masa dimana manusia mulai bisa memberikan tanda pada hari-hari dalam kehidupannya, dan menjalani kehidupan dalam siklus waktu yang tetap berdasarkan kalender atau apapun itu yang menjadi penandanya. Bayangkan saja, bagaimana mungkin mengucapkan selamat ulang tahun pada seseorang yang usianya seumur dengan pohon mangga di samping rumah? Ini seperti cerita orang-orang tua dulu yang kelahirannya ditandai dengan penanaman pohon mangga. Baca lebih lanjut

#savejkt?

Seperti tulisan sebelumnya, topik kali ini pun berawal dari keisengan saat time line saya dipenuhi kicauan tentang Jakarta yang makin ruwet. Soal macet, banjir, sampah dan foke  mungkin kicauan umum para tweeps Jakarta. Ini jadi menarik ketika kemuakan itu kemudian terorganisir dalam hashtag #save jkt. Rupanya ‘sekelompok tweeple’ sedang menginisiasi sebuah gerakan sipil penyelamatan Jakarta di twitland. Kata “gerakan“ saja sudah sangat menarik bagi saya, apalagi diembel-embeli pemanfaatan twitter sebagai alat mobilisasi untuk tujuan politik: (mengutip seorang “sosiolog” RT@ sociotalker) “kita mencari kandidat (gubernur Jakarta) non parpol yang didukung warga..bukan parpol,parpol perlu kompetitor agar bs benahi diri”. Maka keisengan pun berlanjut menjadi sebuah laporan sederhana berikut.

Gambar 1: Network interaksi antar tweeple dalam #savejkt

Baca lebih lanjut

Sumpah Pemuda 2010 di TwitLand

Semenjak tanggal 20 Oktober 2010, Fahira Idris, seorang superstar twitter Indonesia dan beberapa rekanannya meng-inisiasi sebuah jajak pendapat asosiasi bebas kepada follower-nya yang lebih dari 16000 akun twitter. Dengan menggunakan hashtag #28OktPoll, ia menanyakan kepada follower-nya, bagaimana kira-kira opini bebas mereka terhadap peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober 2010. Sebagai sebuah media sosial yang memang sedang sangat bertumbuh di Indonesia, animo pengguna twitter nasional cukup tinggi, ditambah agresifitas Fahira Idris sendiri yang menjemput bola, bertanya kepada banyak orang yang juga superstar twitter lain untuk memberikan jawaban bagaimana tanggapan mereka terhadap peringatan Sumpah Pemuda.

Sumpah Pemuda (atau dalam bahasa orisinilnya, Ikrar Pemuda) 28 Oktober 1928, merupakan sebuah tonggak penting dalam perlawanan bangsa Indonesia terhadap kolonialisme Belanda pada masa itu yang sudah lebih dari 3,5 abad. Sumpah Pemuda ini penting dalam sejarah Indonesia, karena pada peristiwa tersebut-lah kawula muda Indonesia dari berbagai penjuru geografi berkumpul dan mengikrarkan kebersamaan yang “membentuk” satu bangsa baru, bernama Indonesia, dengan lanskap geografi, tanah air Indonesia, di mana penduduknya berbahasa satu, bahasa Indonesia. Mengingat diversitas penduduk Indonesia, peristiwa ini menjadi sangat penting, karena di sinilah untuk pertama kali deklarasi perjuangan menuju kemerdekaan sebagai sebangsa dan setanah air dikumandangkan pertama kali.

Delapan puluh dua tahun kemudian, setelah enam puluh lima tahun proklamasi kemerdekaan, hal ini dicoba dikaji lagi. Bagaimana secara kolektif pengguna twitter kira-kira memaknai peristiwa Sumpah Pemuda 1928. Dari archiving atas hashtag #28OktPoll diperoleh lebih dari 1000 posting ke twitter. Kajian singkat ini coba merefleksikan jajak pendapat ini. Baca lebih lanjut